Derana

Wahyu Eka S.

Pengkampanye Walhi Jatim


PUCUKMERA.ID – Di sela-sela malam, seorang laki-laki yang memasuki usia matang tidur terlentang sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia membayangkan sebuah mimpi tentang seperti apa kehidupan jika benar tidak ada penindasan dan ketidakadilan.

Pasti sangat indah dan damai, di mana setiap orang tersenyum, saling tolong menolong dan tidak ada penipuan. Bayangan itu terus mendominasi otak laki-laki itu, sampai pada titik tertentu ia bangun dari kasurnya dan beranjak keluar dari kamarnya.

Udara di Kota Malang terasa sangat dingin di bulan Juli ini. Laki-laki itu menghirup dalam-dalam udara malam, menghembuskannya dengan pelan, seraya menikmati segarnya udara malam itu. Sebelumnya ia tinggal di Surabaya, kota yang hangat, lengket dan penuh nyamuk, tapi menyenangkan. Di Surabaya kalau malam pun udaranya tidak segar, rasanya jauh sekal jika dibandingkan dengan Kota Malang. Sembari menikmati udara, ia mengambil air putih dan kretek untuk menemaninya melamun.

Pikiran-pikiran liar mulai menyeruak, bayangan jentaka mulai menggelayuti, tiba-tiba resah, kalut dan gelisah menjadi satu. Ia menghisap dalam-dalam kreteknya, meminum dengan cepat airnya. Lalu ia bernafas cukup panjang dan menghempaskannya pelan.

Entah, tiba-tiba laki-laki itu memikirkan berita duka yang silih berganti datang. Dari kenalan hingga tetangga yang tinggal di sekitarnya. Setiap hari ambulan lalu lalang, pengeras suara masjid pun tak mau kalah, mereka saling berlomba. Kabar duka silih berganti hadir, menghantui dan menakut-nakuti.

Laki-laki itu hanya terdiam, sembari mengumpat dan bergumam, “Cok jancok hidup gathel!!!”

Lagi-lagi ia bernafas panjang dan menghempaskannya. Sembari memegang kepala ia menanyakan pada dirinya sendiri, “Ini situasi apa, mengapa banyak kabar duka, mengapa banyak yang bertumbangan.”

Waktu berlalu dengan cepat, jam menunjukkan tengah malam. Udara semakin dingin dan menusuk-nusuk di kulit. Laki-laki itu semakin gelisah tak menentu. Memikirkan keadaan yang ada sekarang, benar-benar membuatnya ketakutan. Memang kematian akan hadir bagi mereka yang hidup, tapi kehilangan adalah hal yang paling memuakkan. Sebab harus ada kenangan yang tersimpan rapat dan rindu yang tak dapat dituntaskan, kala semua itu pergi.

Laki-laki itu hanya memandang ke halaman depan kamarnya dengan tatapan kosong. Mulai menanyakan kabar ke tanaman yang ada di depan matanya, perihal kehidupan yang penuh kepedihan ini.

“Hai, Singkong. Apakah kamu pernah mengalami ketakutan akan kematian atau kehilangan?” Sambil melotot, ia jengkel karena Singkong tak kunjung menjawab. Lalu ia beralih ke Bayam Merah.

“Hei, Bayam Merah. Apakah dalam hidup harus ada duka dan ketakutan?” Si Bayam Merah juga membisu tak bersuara, laki-laki itu hanya bisa meringis lalu tertawa terbahak-bahak.

Seperti orang gila, di awal hari ia berbicara sendiri, tertawa sendiri dan tiba-tiba terdiam getir. Memikirkan kondisi hari ini, membuat laki-laki itu semakin tak waras. Kesepian dan kesendirian membunuhnya perlahan. Harapan, impian, upaya yang dilakukan seakan sia-sia.

“Negara ini sudah tidak waras, atau aku yang tidak waras? Banyak yang mati, banyak yang merintih, banyak yang kelaparan, tapi mereka yang mengurusnya berpesta pora, membuat kebijakan seenaknya. Nyawa bagi mereka hanya statistik. Tapi bagiku adalah tragedi dan trauma.”

Sudah dini hari, hanya suara tokek, jangkrik dan desiran angin yang menemani laki-laki itu. Batang demi batang ia habiskan, gelas demi gelas air ia tenggak. Namun mata tak kunjung mengantuk. Otak serasa penuh pikiran yang ingin segera ditumpahkan. Jantung tiba-tiba berdenyut cepat. Tangan laki-laki itu mengepal erat, lalu dihempaskan ke tiang peyangga rumah. Mata dan pipinya memerah, raut muka menjadi tegang. Diiringi bunyi tit-tit-tit dari meteran listrik, sebuah pertanda waktunya jajan listrik.

Sontak laki-laki itu beranjak lalu mengambil gawainya di kamar. Badannya yang besar tiba-tiba ambruk di kasur, memejamkan mata sejenak. Kemudian ia melanjutkan melihat berita terbaru, isinya yang itu-itu saja.

“Apakah ini media begini saja, memberitakan yang sudah ada. Tapi mengapa media tak serius dalam membuat liputan. Apa yang ada di otak para jurnalis itu, apakah nalar kritis dan kemanusiaan sudah mati? Apakah habis dimakan pemodal dan lenyap karena kebutuhan hidup?” gumam laki-laki itu dengan geram.

Lalu, laki-laki itu mencoba mengecek pesan sampai email dengan teliti ia memeriksa setiap pesan masuk, baik perihal pekerjaan atau informasi terbaru. Kemudian ia melihat pesan whatsapp, terutama di grup organisasi yang tengah ia ikuti. Sontak ia gemetar, sebab ada kabar duka datang lagi, kabar teman-temannya kebingungan mencari pertolongan medis dan kabar betapa brengseknya pengurus negara hasil dari mufakat segelintir orang.

Yang bisa dilakukan hanyalah menjadi seorang “derana.” Tabah menghadapi guncangan, lalu tetap hidup untuk merawat asa, meski hanya sekedar imajinasi. Bahwa impian akan kehidupan yang lebih baik, mengikis elite jahat harus terus ditumbukan dan dirawat hingga ia tumbuh kokoh tak mudah goyah, lalu menjadi penjahat seperti yang sudah-sudah.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
3Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment