Dampak Ketidakadilan Gender Terhadap Perempuan

Zahra Maghfirotul Haq
Tim Kreaif Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID — Akhir-akhir ini sering terdengar perdebatan di di Twitter dan Instagram mengenai definisi gender. Banyak sekali netizen yang salah kaprah dalam memahami makna gender, hingga menyamakan antara gender dan kodrat. Banyak yang menganggap peran gender yang saat ini umum di masyarakat adalah suatu kodrat yang mestinya tidak boleh diubah.

Rata-rata mereka yang tidak paham mengenai gender menganggap kodrat perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus seluruh pekerjaan domestik, merawat anak-anak dan tidak boleh berkegiatan di luar rumah. Sedangkan kodrat laki-laki adalah sebagai pemimpin dan pencari nafkah.

Menurut Dr. Mansour Fakih, kodrat ialah pensifatan dua jenis kelamin (seks) yang ditentukan secara biologis dan melekat secara permanen pada jenis kelamin tertentu. Kodrat secara biologis telah ditentukan oleh Tuhan. Misalnya, kodrat perempuan  bisa menstruasi, menyusui dan melahirkan, berbeda dengan laki-laki yang dapat memproduksi sperma. 

Sedangkan gender sendiri merupakan suatu sifat yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Contohnya, perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah lembut, keibuan, emosional dan kurang rasional. Sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Sifat-sifat tersebut dapat dipertukarkan menjadi perempuan yang rasional, laki-laki yang emosional dan seterusnya. Konsep gender ini dapat berubah dari waktu ke waktu, berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya, serta dapat berbeda dari suatu kelas ke kelas lainnya.

Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender tersebut disebabkan oleh konstruksi sosial, kultural, ajaran agama hingga negara. Proses sosialisasi dan rekonstruksi yang berlangsung secara mapan dan dalam rentang waktu yang sangat lama akhirnya menjadikan masyarakat sulit membedakan antara sifat-sifat gender dengan kodrat.

Lalu mengapa perbedaan dalam gender menjadi masalah dan dianggap mencederai kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki? Hal ini karena perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Ketidakadilan gender adalah sistem dan struktur yang dapat menjadikan laki-laki dan perempuan korban.

Dewasa ini, manifestasi dari ketidakadilan gender pada perempuan yang terpampang begitu nyata dalam masyarakat adalah marginalisasi pekerjaan, subordinasi dalam berbagai bidang dan kekerasan (violence). Marginalisasi perempuan dalam pekerjaan mengakibatkan upah yang diterima perempuan lebih kecil dari laki-laki. Padahal, beban dan waktu kerja yang diberikan sama. Anggapan bahwa peran perempuan sebagai pencari nafkah “tambahan” semakin melanggengkan sistem ini. Pada kenyataannya, tak sedikit perempuan atau seorang ibu menjadi tulang punggung bagi keluarga.

Subordinasi pada perempuan dapat terjadi di berbagai bidang, seperti sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan. Subordinasi terjadi karena anggapan perempuan adalah makhluk yang emosional dan kurang rasional, sehingga dianggap tidak cakap dalam memikul tanggung jawab. Dalam politik misalnya, perempuan sering diletakkan di posisi yang kurang penting, sedangkan laki-laki diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk menduduki suatu jabatan. Padahal, kapabilitas seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelamin.

Kekerasan pada gender disebabkan oleh bias gender, yaitu suatu kondisi yang memihak dan merugikan salah satu jenis kelamin. Kekerasan pada perempuan saat ini masih sering terjadi di lingkungan sekitar karena anggapan superioritas laki-laki terhadap perempuan. Apabila perempuan melawan, akan dianggap tidak pantas, durhaka dan melanggar perintah agama. Kekerasan ini jika dibiarkan, akan berujung pada tindakan pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan dalam bentuk pelacuran (prostitusi), pornografi, pelecehan seksual (sexual harassment) dan lain sebagainya. Bias gender juga mengakibatkan perempuan karier mendapatkan “beban kerja ganda” yaitu harus mencari nafkah sekaligus mengurus pekerjaan domestik yang dianggap oleh masyarakat sebagai “pekerjaan perempuan”.

Selama pandemi ini angka kekerasan berbasis gender terus melonjak, terutama KDRT akibat semakin intensnya interaksi antara laki-laki dan perempuan di rumah. Menurut P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) dan Komnas Perempuan, kasus kekerasan selama pandemi COVID-19 meningkat 75 persen. Sedangkan menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), terdapat 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dewasa dengan jumlah korban 277 orang.

Memperjuangkan keadilan gender bukanlah pekerjaan yang instan. Terlebih apabila perlawanan ini mengganggu privilese beberapa kalangan yang telah diuntungkan oleh ketidakadilan gender. Perlu peran berbagai pihak, termasuk negara yang dilakukan secara serempak dalam mengatasi masalah ini. Perempuan sendiri secara tegas perlu melawan dan menolak berbagai tindak ketidakadilan serta terus aktif dalam memperjuangkan kesetaraan. 

Apabila perempuan sendiri diam, menganggap remeh dan membiarkan kekerasan maupun pelecehan terjadi, sama saja dengan memberi peluang kepada pelaku untuk terus melanggengkan aksinya. Perempuan juga perlu diberi ruang aman untuk mengedukasi diri, berbagi pengalaman serta membahas masalah ketidakadilan gender yang terus terjadi. 

Menurut Dr. Mansur Fakih, gerakan kaum perempuan adalah gerakan transformasi perempuan, yaitu suatu proses gerakan untuk menciptakan hubungan antar-manusia yang secara fundamental baru, lebih baik, dan lebih adil.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment