Kutukan Sumbi

Di akhir hayatnya, Sumbi mengutuk mereka semua. Mereka yang membunuhnya dengan tragis akan hidup dalam ketakutan. Tidak akan ada kebahagiaan atau tawa di desa ini. Hanya akan ada kesedihan dan duka.

Distopia

“Kita pasti sama-sama masih mengingat, betapa banyaknya huru hara yang terjadi di pemerintahan negeri saat pandemi pertama. Terlalu banyak suara orang-orang bersuara kecil yang terbuang sia-sia di jalanan, terutama di depan gedung-gedung pemerintahan. Akhirnya mereka yang kehabisan suara kesulitan untuk makan, bersekolah, dan mendapatkan pekerjaan.”

Perjuangan Tomo

Berkat musibah yang menimpa, Tomo mendapat pelajaran yang berharga. Apapun masalah yang dilalui, dan seberapa besar rintangannya, pasti ada jalan keluar. Kesabaran dan keberanian nantinya juga akan memberi kita sebuah keajaiban.

Memastikan Bahagiamu

Aku lega. Rasanya seluruh masalah dalam hidup terselesaikan. Semua malam yang kuhabiskan dengan harap-harap cemas kini tak akan lagi datang. Mempertanyakan kebahagiaan pernikahanmu adalah ritual dini hari yang selalu aku lakukan 10 tahun belakangan.

Sebutir Biji Kejujuran

“Hanya satu cara jika kau ingin menebus kesalahanmu. Pergilah mencari seorang pemuda berhati tulus dan jujur. Seorang pemuda yang mampu menjaga hutan dan seluruh kawasan desa ini agar bisa hidup berdampingan tanpa kerusakan. Seseorang yang mampu menjaga amanah dan janjimu tanpa cela. Tidak melukai apalagi membunuh hewan-hewan di hutan ini hanya demi kepentingan diri sendiri.”

Saya bukan Wisanggeni

“Tapi aku juga bukan Wisanggeni, Boy. Yang akhirnya bisa menerima takdir harus lenyap dari kehidupan perwayangan. Aku bukan Wisanggeni yang tegar dan pasrah akan takdir yang diberikan. Bahwa kehadirannya memang ada untuk dimusnahkan. Aku tidak sebijak dan sehebat Wisanggeni, Boy”