Catatan Perjalanan Bawean: Senja dan Ikan di Pulau Matahari Terbit

Wahyu Eka S.
Pengkampanye Walhi Jatim


PUCUKMERA.ID – Ada perasaan berdebar kala seorang teman mengajak untuk ke Bawean, meski bukan untuk liburan. Karena ini pertama kalinya pergi ke pulau dan naik kapal lebih dari satu jam. Tentu ada sesuatu menghantui pikiran, tertutama perasaan cemas saat naik kapal. Ya saya termasuk golongan yang takut naik kapal laut, sebab tidak bisa berenang.

Saya berangkat ke Bawean pagi hari, bertolak dari Surabaya ke pelabuhan Gresik menggunakan mobil. Setelah menunggu sebentar, akhirnya kami berangkat dengan kapal cepat Bahari. Ada rasa tertarik dan takut saat kapal melaju kencang menuju pulau Bawean. Awalnya perairan tenang bak anak senja, tiba-tiba bergoyang diterjang ombak.

Sampai di Bawean tepat pada pukul 11.34 WIB. Sampai di dermaga, mata memandang luas. Rasa takjub menghampiri, hamparan laut biru seakan menyambut kedatangan kita. Bayangan ketakutan selama di kapal terbayar lunas oleh indahnya laut pelabuhan Bawean.

Tempat ini cukup unik, ada gunung atau boleh dibilang bukit berjejer mengelilingi pulau. Perpaduan yang pas bagi penikmat alam.

Bawean kini mulai beranjak dikenal sebagai destinasi wisata alam favorit, pantai yang bagus, karang yang indah, hewan endemik seperti rusa sampai kuliner yang lezat. Mayoritas sajian kuliner berbahan dasar ikan, mulai dari koncok-koncok yakni ikan yang diolah mirip tempura tapi berbentuk gorengan. Bakso ikan, krupuk ikan, kela celok dan anek lainnya yang belum saya icipi.

Kuliner Ikan dan Profesi Nelayan

Ada yang menarik di Bawean, mayoritas penduduk di sini memiliki lebih dari satu profesi. Mereka ada yang menjadi petani tetapi juga nelayan, ada juga pedangang tetapi juga nelayan, guru SD, SMK hingga PNS pun juga nelayan.

Jika kita berjalan di sepanjang jalan baik dari pelabuhan atau sekitar Sangkapura kita akan menjumpai banyak perahu. Tidak hanya di Sangkapura, di sekitar wilayah Tambak, Tanjungori sampai ke Daun, kita akan disuguhi perahu-perahu yang bersandari di tepi pantai.

Ada dua jenis perahu yang dipakai oleh nelayan, berjenis jukung atau perahu kecil dengan daya tampung maksimal dua orang dan kelotok yang agak besar untuk maksimal empat orang.

Nelayan di sini mayoritas mengambil ikan dengan memancing, kalau memakai jaring itu hanya di sekitar 4 sampai 5 mil dengan perahu kecil atau jukung. Itu pun hanya dipermukaan atau tempat yang sudah dipetakan.

Ada juga yang memakai perahu agak besar ‘Kelotok’, jangkauan tangkapnya dapat mencapat 20 mil. Penangkapan ikan yang dipakai nelayan perahu kelotok yakni dengan memancing, mereka tidak menggunakan jaring. Jaring hanya untuk menangkap ikan yang telah terjebak di perangkap ikan atau rumpon.

Ikan yang didapatkan ada kakap, tongkol, tengiri, cumi dan lainnya. Rata-rata ikan yang didapat untuk dimakan sendiri, jika berlebih dijual pada tetangga mereka. Ketika hasilnya banyak akan langsung dijual di lokasi tangkap ke pedagang yang juga nelayan.

Selain nelayan, banyak di antara masyarakat Bawean yang berprofesi sebagai petani. Para petani rata-rata menanam padi, ada juga jagung, umbi-umbian dan beberapa komoditas lain.

Teruntuk tanaman padi, para petani memiliki masa panen satu tahun sekali untuk lahan tadah hujan, ada juga yang dua kali untuk tipe lahan irigiasi. Hasil panen padi tidak dijual, tetapi disimpan untuk kebutuhan pangan keluarga selama satu tahun. Jika kebutuhan padi yang berlebih, akan diberikan ke saudara atau dijual ke tetangga.

Pluralisme Bawean

Nah, dulu Bawean ini dikenal sebagai pulaunya orang migran. Banyak orang Bawean bermukim di luar pulau, merantau telah menjadi suatu tradisi. Persebaran masyarakat Bawean tersebar ke beberapa titik, Singapura, Malaysia, Australia, Kalimantan, Jawa dan tempat lainnya. Bahkan ada keturunan Bawean yang menjadi pahlawan nasional Singapura.

Akulturasi beragam budaya telah membentuk Bawean sedemikian rupa, contohnya bahasa. Bahasa masyarakat Bawean merupakan perpaduan dari aneka bahasa, madura, jawa dan lainnya. Tiap daerah atau beda desa ternyata memiliki dialek sendiri.

Bahkan dari adat pernikahan pun merupakan percampuran dari berbagai budaya, seperti Madura, Bugis dan lain-lain. Selain itu keragaman juga terekam dari kesenian, beberapa merupakan perpaduan antar budaya ada yang Jawa, Madura, Bugis hingga Melayu, seperti tarian mandiling, saman dan lain-lainnya.

Berbicara soal pluralisme, Bawean semacam miniatur kosmopolitan. Setiap orang menyatu dalam ikatan Bawean, meski memiliki dasar suku berbeda. Di sini ada Jawa, Madura, Palembang, Bugis dan lain-lainnya.

Kalau soal agama, kebanyakan Islam mayoritas NU. Salah satu buktinya ada di penjual bahan bakar eceran, alat pompanya berwarna hijau diberi label Pertaminu. Banyak juga lembaga pendidikan yang berlabel NU, seperti sekolah dasar yang diberi nama SDNU.

Ada juga Muhammadiyah, saya menjumpainya di masjid desa Daun. Mereka hidup berdampingan rukun. Toh sama-sama Islam, seharusnya memang rukun, sentimen organisasi harus dibuang jauh-jauh agar kehidupan yang rukun terjaga.

Refleksi Menjelang Pulang

Ini hari terakhir saya di Bawean, menjelang penghujung kepulangan. Saya menyusuri pantai di Bawean, tepatnya di wilayah Tambak. Memang tidak berpasir, lebih banyak karang. Serta permukaan air laut semakin tinggi, abrasi tak terelakan. Daratan wilayah pesisir pun mulai berkurang.

Perubahan iklim menjadi ancaman nyata, permukaan air laut setiap waktu naik mengikis perlahan. Kerapuhan itu mulai tampak, di tengah bergeloranya pariwisata. Selain perubahan iklim, ada ancaman tambang pasir laut besar, silahkan dicari saja “tambang pasir laut Bawean.”

Kondisi Bawean kini terancam, keindahan Bawean tidak pernah bohong. Saat menjelang senja, Bawean indah sekali seperti senyumanmu. Dan, saya yakin orang Bawean itu penikmat senja sejati, sebab kala menjelang magrib mereka santai dan bercengkrama di pantai. Sembari memandangi binaran cahaya memudar dari matahari yang akan purna.

Tetapi ancaman itu akan mematahkan kenangan yang pada akhirnya patah meninggalkan penyelasan tak terbayar.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment