Birthday is Faithday

AS Rosyid
Seorang Penulis dan Pustakawan


PUCUKMERA.ID – Saya tentu saja pertama-tama akan mengucapkan selamat milad untuk Pucukmera Group, sebuah usaha kreatif mahasiswa-mahasiswi Muhammadiyah yang membawahi sebuah media online, lini penerbitan dan toko buku kecil. Selamat karena teman-teman telah bertahan selama tiga tahun terakhir. Selamat pula atas keberanian teman-teman melangkahkan kaki ke ranah-ranah bisnis yang tidak sepenuhnya. Didin, sependek yang saya tahu, tidak mudah memutuskan untuk mengembangkan Pucukmera sampai ke lini penerbitan. Ia menunjukkan kegigihan untuk belajar.

Kini, setelah tiga tahun, Pucukmera akan ke mana? Media online-nya ingin menyuarakan apa? Keterbatasan modal membuat nasib Pucukmera mungkin tidak semoncer Mojok atau IBTimes. Tapi saya percaya, sebuah media dicari atau dikenang karena karakternya. Sepanjang jelas media itu bersuara untuk apa, menghadap ke mana, dan dikelola dengan cara-cara yang kolektif, bagi saya itu cukup. Saya juga percaya, Pucukmera akan akan menemukan kekuatannya.

Dulu Mojok dicari karena Mojok mampu membangun citra bahwa penulis-penulisnya berjejaring dan punya selera satir kolektif. Alhasill, orang tetap membuka Mojok karena siapapun penulisnya, ia akan mendapatkan hiburan yang sama berkualitas. Itu branding dan karakter jejaring penulis yang kuat. Tapi setelah generasi penulis lama Mojok pergi, Mojok kehilangan citra itu. Kini Mojok terasa sama dengan media online yang views-nya tergantung pada sebaran dan pengaruh tiap-tiap penulis. Akhirnya, orang hanya mengenang nama penulis, bukan nama media.

Artinya, Pucukmera tidak perlu berkiblat pada siapa-siapa. Belajar boleh saja, Didin bisa magang di mana pun ia mau, tapi ia tidak perlu memaksakan diri meniru dan mengejar pencapaian media lain, penerbitan lain, toko buku lain. Modal pas-pasan bisa diakali dengan sistem kelola yang solid dan khas. Kiblat adalah soal arah dan target, Pucukmera tidak perlu berkiblat pada arah dan target yang tidak mampu dan tidak mau ia kejar. Pucukmera harus menentukan kiblatnya sendiri.

Saya pernah dengar sebuah penerbit di Jerman yang mencetak buku dalam jumlah eksemplar yang sangat terbatas setiap judulnya tanpa prosedur cetak ulang. Buku yang diterbitkannya otomatis menjadi edisi terbatas. Menariknya, penerbit itu mampu membangun komunitas intelektual yang solid. Komunitas itulah pasar utama untuk buku-buku mereka. Mereka, karena ketertarikan intelektual tertentu, menyambut buku-buku yang mereka butuhkan untuk dibaca. Mereka jugalah yang bertindak sebagai iklan alami. Tentu saja konteks dan kondisi penerbit Jerman itu berbeda dari Pucukmera. Namun semangat untuk menemukan strategi dan sistem yang khas bisa diteladani.

Saya juga―untuk ketiga kalinya akan saya kutip kata sakti ini―percaya pada kekuatan anak muda. Milad ini pada akhirnya bukanlah milad Pucukmera semata, melainkan milad bagi keteguhan hati anak-anak muda di baliknya. Birthday is faithday. Jasad lahir sekali. Keteguhan hati lahir berkali-kali.

Jangan berhenti berkarya, jangan berhenti muda. Selamat milad yang ketiga, Pucukmera. Panjang umur literasi dan semoga semua makhluk berbahagia. []


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
2Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment