Bertualang Kembali ke Masa Lampau Bersama Sadam dan Sherina

Nindia Syamsi

Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID — Gemuruh tepuk tangan penonton terdengar tepat setelah film usai. Cerita berakhir bahagia seperti yang kami duga. Saya rasa penonton lain pun tidak akan asing dengan akhir cerita ini jika mereka menonton film pertama. Penjahat yang ditangkap oleh polisi di tengah keramaian.

Tak lama setelah tepuk tangan reda, bioskop seolah berubah menjadi sebuah konser musik. Para penonton yang masih duduk bersenandung bersama. Lagu yang akrab di telinga kita saat masa kecil diputar.  Lagu yang liriknya perihal sudut pandang untuk melihat dunia secara utuh dan luas. Sehingga kita akan bisa memaknainya dengan lebih bijaksana.

Lampu ruangan menyala, tanda film sudah benar benar berakhir dan kami harus segera keluar. Langkah kaki terasa ringan dan hati kami sama-sama penuh. Senyum yang tercipta sepanjang film berlangsung, masih ada hingga rasanya cukup untuk kami bawa pulang. Sepanjang perjalanan, saya tidak berhenti berterima kasih pada kawan-kawan yang mengajak saya untuk menonton film ini di hari pertama perilisannya. Tidak ada ekspektasi tinggi karena belum membaca ulasan orang-orang dan ternyata ini berakhir di luar ekpektasi. Petualangan Sherina 2 benar-benar ajaib, hangat, dan lebih dari menyenangkan.

Film Petualangan Sherina 2 seolah mengajak penontonnya menaiki mesin waktu. Alur cerita, lagu penggiring, hingga para karakternya berhasil menghidupkan suasana nostalgia. Terutama dua pemeran utamanya. Sadam dan Sherina tetap diperankan oleh Derby Romero dan Sherina Munaf, bahkan setelah 23 tahun sejak film pertamanya di putar. Tidak hanya Sadam dan Sherina, beberapa karakter lain seperti kedua orang tua Sherina juga masih diperankan oleh orang yang sama.

Di sekuel ini, karakter Sadam dan Sherina tumbuh dewasa dengan baik dan itu adalah hal pertama yang menarik perhatianku saat membaca sinopsis filmnya. Sadam si anak mami, kini menjadi menjadi aktivis lingkungan pemberani. Sherina si anak jagoan, kini menjadi jurnalis berbakat tapi masih senang berdebat.

Kisah dimulai saat Sherina pada awalnya mendapat perintah untuk meliput sebuah forum ekonomi internasional di Davos, Swiss. Namun saat hari keberangkatan semakin dekat, tiba-tiba ia dialih tugaskan meliput pelepasliaran orang utan di Kalimantan. Sherina semakin kecewa mengetahui bahwa yang menggantikannya pergi ke Swiss adalah anak dari pemilik perusahaan.

Kabar baiknya, kekecewaan Sherina tidak berlangsung lama. Begitu tiba di tempat konservasi, Sherina terkejut saat mengetahui manajer program konservasi tersebut adalah Sadam. Bahkan, Sadam sudah menyajikan donat gula putih kesukaan Sherina. Berawal dari pertemuan itu, mereka berdua memulai petualangannya di hutan raya Kalimantan. Pertemuan yang seketika bisa membuatmu merindukan kawan lama.

Dari segi cerita, Petualangan Sherina 2 membawa isu lingkungan berupa perburuan satwa langka. Kami kemudian sama-sama teringat, di film Petualangan Sherina sebelumya isu lingkungan juga menjadi penyebab awal konflik, yaitu perebutan lahan perkebunan antara masyarakat dan pengusaha. Pengangkatan isu ini bisa menambah nilai lebih. Penonton bisa teredukasi atau setidaknya sadar bahwa permasalahan terkait satwa langka ini benar-benar ada dan perlu mendapat perhatian.

Proses penyelamatan orang utan yang diculik menciptakan atmosfir petualangan yang sama seperti saat Sadam dan Sherina kecil melarikan diri dari penculik. Tak lupa selipan elemen-elemen nostalgia seperti Sherina yang keras kepala selama perjalanan, mereka berdua yang disekap, hingga adegan menumpang mobil pick up untuk pergi ke tempat tujuan.

Seiring film berlangsung, terasa chemistry Sadam dan Sherina sangat kuat. Terbukti dari saat keduanya pertama kali bertemu kembali, saling bercerita dan bertengkar kecil, hingga saat berdansa dan bernyanyi bersama, selalu terdengar sayup-sayup sorakan dan tawa penonton yang salah tingkah. Ditambah adanya tokoh tritagonis dengan karakter komikalnya yaitu Aryo, si kameramen humoris.

Tokoh-tokoh dengan karakter unik membuat pengulangan cerita di sekuel ini tidak terasa membosankan. Terutama peran antagonis, si gadis menor nan glamor dari bogor, Ratih Syailendra. Momen musikal Ratih dan Syailendra sangat melekat di kepala. Saat mereka bernyanyi, bioskop menjelma panggung opera. Terlebih kedua karakter tersebut benar-benar diperankan oleh dua orang penyanyi kondang.

Pingkan, tak kalah menarik perhatian. Tangan kanan keluarga Syailendra yang cerdas, tegas, dan mahir berkelahi. Ku rasa karakter Pingkan dimunculkan untuk menyeimbangkan karakter Ratih sebagai antagonis yang jenaka.

Terakhir, saya ingin membicarakan lagu-lagu pengiring di film Petualangan Sherina 2. Sherina Munaf dan tim produser musik sekuel ini berhak mendapat pujian. Liriknya baru tapi tetap menyimpan kepingan melodi dari lagu lamanya. Terdengar sangat mudah diterima oleh telinga dan membangkitkan semangat.

Petualangan Sherina memang film yang tepat untuk bernostalgia bersama. Sila menonton, maka Sadam yang sebelumnya sudah memperkenalkanmu dengan Canopus, Capella dan Vega, kini ia akan mempertemukanmu dengan Sayu dan Hilda.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka7Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment