Berkhidmat pada Sastra Lewat Buku “Tak Ada Libur Untuk Luka”

Irsyad Madjid
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Karya sastra berupa puisi sebelumnya tak pernah membuat saya terkesan ataupun terpana. Ketika masih berumur belasan, sering saya terheran ketika generasi diatas asyik mengobrol soal W.S Rendra, Taufik Ismail atau penyair legendaris lainnya. Tapi meski begitu, saya tidak asing dengan puisi dan permainan kata. Saya tahu cerita legendaris soal Nelson Mandela yang bertahan akan siksa karena puisi “Invictus” di penjara. Seringkali, saya juga menjumpai seorang kawan –meski ia tak punya kekasih- dengan gagah melafal dan membacakan puisi “Aku Ingin” eyang Sapardi yang melegenda.

Saya pun cukup familiar dengan puisi lain yang kerap dibacakan ketika kami sedang berdemo di Balaikota. “Pesan Sang Ibu” judulnya. Apalagi jika diberikan intonasi dan retorika yang tepat, puisi ini akan membuat semangat jadi membara. Meskipun begitu, kekaguman saya terhadap puisi rasanya hanya sesaat belaka. Belum sampai pada tahap “berkesan” dan membuat saya tidak bisa lupa. Tidak seperti novel-novel Dee atau Tere Liye yang bisa saya ceritakan secara lengkap kepada teman saya yang bertanya.

Hingga suatu saat, seorang yang tidak saya kenal mengirim artikel untuk mengenang eyang Sapardi ke Pucukmera. Kebetulan, saya mendapat tugas sebagai editornya. Momen itu masih tergambar dengan jelas di kepala saya, kurang lebih sebulan pasca kematian sang “maestro kata”. Artikel itu membahas klausa “cinta sederhana” eyang Sapardi dari sisi semiotika. Awalnya saya yang selalu menganggap bahwa puisi itu sekedar alat bergombal level “dewa”, berputar ibarat roda.

Sejak saat itu, saya kemudian berusaha menyelami dunia sastra. Mungkin tidak akan sampai pada tahap pencipta, namun rasanya menjadi penikmat saja sudah bahagia.

Maka, saya begitu antusias ketika minggu lalu mengetahui bahwa rekan saya saat belajar di kampung Inggris dulu, kak Akbar, menerbitkan buku kumpulan puisi “Tak Ada libur Untuk Luka”. Padahal tiga tahun yang lalu ketika bersama di Pare, saya tidak tahu kalau kak Akbar berminat pada karya sastra. Tapi dari beberapa interaksi dan perbincangan singkat, saya menyimpulkan bahwa isi kepalanya memang berbeda.

Kelak setelah membaca kata pengantar di bukunya, saya baru tahu kalau beliau pernah belajar di Sekolah Sastra Bulukumba. Ia juga mendirikan sebuah taman baca untuk anak-anak di desanya dengan nama “Kucang Pustaka”. Sesuatu yang mungkin membentuk pribadinya. Akhirnya—walaupun sama sekali tidak pernah terbayangkan—buku puisi pertama yang saya miliki adalah karya seorang penyair dari kota Bulukumba.

Kepada yang sedang membaca, saya ingin mengingatkan bahwa durasi membaca anda akan sedikit lebih lama. Tapi saya berdoa semoga rasa lelah akan terbayar dengan suguhan sebuah petualangan makna. Pak Sapardi pernah berujar bahwa “Puisi itu hidup karena tafsiran yang berbeda”.  Sehingga saya tidak ingin anda terpesona karena mempunyai pemikiran yang serupa, tapi saya sungguh berharap kita bertemu pada rasa dan kenikmatan yang sama.

Walau jujur untuk sampai pada hal itu, kita butuh ulasan semiotika. Seperti yang dilakukan oleh artikel sebelumnya. Namun karena kompetensi yang tidak mencukupi, saya hanya akan menjelaskan kekaguman yang saya punya. Pun karena keterbatasan ruang dan kesulitan untuk memilih, saya hanya menyajikan cuplikan-cuplikan beberapa puisi saja.

Sepi

Sepi berlari keliling kampung
Menyusuri tapak kenangan
Napasnya ngos-ngosan
Serupa anjing sialan yang membuatku ketakutan di malam jumat

“Ngapain sepi?” tanyaku penasaran
“Mencari sisa kenang!” Jawabnya ketus
“Oh!” Singkatku

Sepi melanjutkan perjalanan
Napasnya masih ngos-ngosan
Di ujung jalan
Sepi berbalik arah
“Kenapa kembali?” Tanyaku lagi
“Usah mencari kenang jauh ke dalam, seingin-inginnya menemukan kenang
tetap saja ada kenang yang tak ingin dikenang”  Jawabnya kecewa.

Saya hampir tak percaya bahwa ada rangkaian yang mampu menjungkir-balikkan perasaan hanya dalam beberapa klausa saja. Pada bagian awal, saya sempat tertawa. Imajinasi saya yang sempit tidak bisa membayangkan bagaimana sepi (sebuah kondisi) berdialog dengan manusia. Maka dialog yang disajikan pun terasa lucu, dan karena sederhana, mudah dicerna oleh logika. Namun, tiba-tiba bagian akhir membuat saya ikut merasa nestapa. Anehnya, tepat setelah itu saya malah kesal dengan Sepi karena menjawab dengan kecewa.

Sebab, Sepi seharusnya menerima.

Bukankah kenangan yang tidak ingin dikenang itu merupakan kenangan yang tidak bahagia?

Menjadi Dewasa Ternyata Tak Semenyenangkan Itu

Sore
Di bawah rumah kayu tua dengan jendela terbuka
Tempat nenek suka duduk dahulu kala
Memandangku menangis karena kalah dalam bermain apa saja
Mengenangnya membuatku haru karena nenek sudah terlampau jauh
Terkadang aku ingin mengunjunginya di tempat pembaringan terbaiknya
Setelah hidup panjang yang melelahkan
Berkunjung untuk sekedar membaca doa atau hanya bercerita
Tentang kekalahan lain yang tak pernah ia saksikan sebelumnya

Nek
Aku baru sadar
Permainan kelereng yang sering membuatku menangis karena kalah
Dan air mata yang ku kantongi pulang ke rumah
Ternyata serupa cinta
Berulang kali membuat air mataku tumpah ke udara
Menjadi awan dan mengawang
Layangan putus yang selalu ku kejar hingga ke ujung pematang
Membuat kaki dan lutut penuh memar dan berdarah-darah
Ternyata serupa rindu
Membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri

Hidup sebagai manusia dewasa ternyata tak semenyenangkan itu
Ada banyak hal sederhana yang membuat kita luka
Ada banyak luka yang tidak disembuhkan
Ada banyak ingin yang berubah jadi angan
Ada banyak wajah yang tidak diingat
Ada banyak cinta yang patah
Ada banyak rindu yang nestapa
Dan banyak hal lain yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata

Seketika, perasaan rindu terhadap kampung dan kakek-nenek menjangkiti sesaat setelah membaca bagian pertama. Kampung, adalah saksi bisu atas darah, kekalahan dan tangisan awal yang saya derita. Namun pengalaman kalah main kelereng di halaman atau mengejar layangan hingga ke pematang, adalah sesuatu yang jika saya punya kesempatan untuk memilih, akan saya ulangi tanpa diminta. Sebab, semenyenangkan itu hidup tanpa pura-pura.

Seusai nostalgia, saya mengangguk sepakat pada derita yang dinarasikan pada kehidupan bagian dewasa.   Kesederhanaan untuk terluka membuat saya sadar bahwa dewasa artinya (rapuh), luka yang tidak terobati berarti (lemah), deretan angan merupakan lambang (ambisius), bertatap wajah namun melupakan indikasi dari sifat (palsu), patah hati artinya menjadi (galau) dan merasakan rindu adalah wujud (siksa).

Namun dibalik semua itu, anugrah menjadi dewasa adalah saling merasakan romansa kepada anak cucu adam atau hawa. Meskipun mungkin kisah romansa lebih banyak berisi benci dan hanya sedikit cinta. Tapi ikut larutlah dalam frasa berikut ini, utamanya anda yang sering/sedang/pernah membenci karena cinta:

Aku Pernah

Apa kabar kau hari ini?
Aku pernah menangis bersama hatiku
Dalam kamar yang terkunci
Teriak tanpa suara
Meredam senguk
Agar tak ada yang mencuri nada

Aku takut pada tangan menengadah yang memiliki doa
Lalu tak sengaja bersuara
Terbang menatap langit membawa serta semua tentangmu
Mengapa ku meminta hal-hal buruk untukmu?

Tapi, bukankah ini kesempatan terbaik untukku berdoa?
Doa yang cepat terijabah bukankah diukur dari seberapa dalam hati itu tersakiti?
Bukankah doa yang cepat terkabul dinilai dari seberapa sekaratnya seseorang?

Jalan ini begitu sepi
Sendiri
Berlalu
Waktu dan air mata

Semoga Tuhan mengawasimu dan kau benar-benar bahagia
Untuk kepulanganmu aku tak lagi berharap apa-apa
Setidaknya yang setelahmu mampu memeluk erat sudut pipiku yang basah
Mendekap hatiku yang luka dan sendiriku yang tak lagi menyiksa

Untuk hatiku istirahatlah
Kupastikan kau bahagia tapi bukan dengannya

Aku akan mulai menghitung
Mengunjungimu di lain hari
Walau sekedar menyapa dan tentu saja kali ini tanpa doa
Kuharap Tuhan memaafkanku atas segala doa dan dosa
Yang kuberi untukmu
Jika kehidupan lain membuat kita bertemu dan bertukar
Aku tak ingin menjadi dirimu

Jujur, lema ini membuat saya malah jatuh penasaran dibanding ikut bersedih lara. Sebab Dee pernah menulis di suatu cerpennya “butuh pengalaman dan pengorbanan yang pahit agar metafora tercipta”. Harus ada yang rela berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang ke tepian. Harus ada yang jatuh tersungkur lalu tertimpa tangga. Harus ada yang menyediakan susu sebelanga hanya untuk dirusak oleh setitik nila.

Maka, saya terjentik ingin tahu, siapa perempuan (jahat) yang pernah kak Akbar puja. Saya juga sungguh ingin tahu, sosok seperti apa yang membuat kak Akbar dan puisi berikut ini bertutur dengan manja.

Menjadi Cinta yang Rindang di Hatimu

Kata mereka cinta hadir untuk menuntaskan pencaharian
Lalu mengapa masih ada kedua dan ketiga?
Atau mungkin saja kita telah berubah menjadi kumbang jalang?

Aku selalu ingin menjadi rindu
Yang tak pernah tuntas dalam pelukan
Juga tak pernah tuntas dengan beribu kecupan
Aku juga ingin menjadi cinta yang rindang
Agar tak ada lagi luka yang meradang memanjang di pipi
Juga denting air mata yang memudarkan senyummu

Kata mereka cinta hadir untuk menuntaskan pencaharian
Tapi kata pisah tak pernah terhapus dari kamus
Suara-suara pisah yang kutangkap di telinga
Hanya menyajikan penyesalan dan kerinduan yang meradang
Seperti luka tanpa jahitan yang berakhir amputasi
Meninggalkan kenangan tentang lari dan juga meraih

Aku tak ingin menjadi waktu
Yang menjadi ledak
Aku ingin menjadi detak yang menemani
Agar merasai rasa
Rasa yang tumbuh di hatimu

P.S. :
1. Artikel yang menggugah saya soal puisi Semiotika Cinta Sederhana Sapardi Djoko Damono – Pucukmera
2. Jika tertarik, silahkan menyaksikan sang penyair membacakan puisi-puisinya di akun Youtube: Kucang Pustaka


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment