Bagi Saya Ulang Tahun Adalah Hal yang Membosankan dan Terus Berulang

Wikan Agung


PUCUKMERA.ID – Seorang kawan yang cukup skeptis pernah berkata, “Buat apa sih merayakan ulang tahun? Bukannya waktu selalu memperbarui dirinya setiap saat?” Kalimat tersebut tidak ada salahnya, karena waktu memang terus berjalan. Siapa sih yang bisa menghentikan waktu kemudian menyalakannya kembali? Sehingga lebih tepatnya, menurut pengetahuan pendek saya, hanya sebatas merayakan berulangnya tanggal lahir di waktu yang berbeda.  Lantas bagaimana orang-orang memaknai ulang tahun?

Bagaimana orang orang menikmati ulang tahunnya?

Sebagian besar dari kita adalah penyuka glorifikasi, jadi tak ayal jika masyarakat kita sangat menyukai perayaan, mulai dari perayaan usainya ujian, perayaan sarjana, dan tak terkecuali perayaan ulang tahun. Seiring berjalannya waktu, perayaan ulang tahun dilakukan dengan berbagai cara dan terus berkembang. Mulai dari menggunakan saluran telepon koin layaknya Dilan dan Milea, hingga mengundang teman terdekat untuk datang ke rumah untuk merayakan pesta, lengkap dengan datangnya tumpukan kado istimewa.

Kado ulang tahun biasanya adalah hal yang wajib dalam pesta perayaan ulang tahun bagi kaum yang borjuis. Kado-kado beserta isinya yang misterius ini cukup untuk mengelompokkan kadar pertemanan kita, mana teman dekat, mana teman yang biasa saja, dan mana teman yang hanya sekadar kenal.

Zaman yang serba canggih ini, untuk sekadar merayakan ulang tahun hanya cukup mengirimkan pesan dan menggungah foto aib dengan caption ucapan selamat, lengkap dengan seabrek harapan dan doa yang panjangnya hampir 50 kata lebih. Kemudian kita akan membagikanya ulang (repost) agar kita kelihatan punya banyak teman yang peduli dengan kita, walaupun hanya sebatas ucapan.  

Perayaan ulang tahun yang menurut saya paling sia sia dilakukan dan banyak orang melakukanya adalah merayakan ulang tahun dengan menggunakan jasa paid promote, di mana banyak orang yang tidak kita kenal mengucapkan ulang tahun dengan format yang sama. Aneh dan menakutkan bukan?

Selain cara-cara di atas, hal yang juga sering dilakukan juga adalah mengerjai/menjahili seorang yang sedang ulang tahun. Mulai dari melemparinya dengan telur, tepung, hingga melemparnya ke sungai atau kolam. Pola yang kerap kali dilakukan bahkan sudah menjadi budaya adalah traktiran atau makan-makan bersama circle terdekat. “Makan–makanlah, masa ulang tahun diem-diem bae?” Mungkin kata kata tersebutlah yang sering terlempar seiring dengan ucapan doa dan harapan. Bukankah hal tersebut sangat kontradiktif? Kita yang beru.lang tahun, namun mengapa kita yang harus memberi reward kepada orang lain?  

Pola budaya traktiran ini jika diteruskan lama-lama bisa menjadi budaya yang tidak sehat. Pasalnya, kita harus bergilir menanggung beban keluar uang untuk sekadar mentraktir makan untuk orang-orang yang ngemis atas dasar ulang tahun ini. Sedangkan kondisi keuangan kita tidak selalu sama setiap saat mentraktir makan dan ngopi. Jikalau sengaja mengeluh tak punya uang atau sedang krisis moneter di dompet kita, biasanya kita akan lambat laun dijauhi, bahkan tidak diundang di ulang tahun teman kita berikutnya. Sependek itukah rasa pertemanan sekarang?

Sebenarnya masih ada beberapa cara bagaimana orang merayakan ulang tahunya. Namun, hal yang membuat saya heran adalah berbagai cara tersebut sudah dilakukan berulang-ulang, kok ya tetap membuat orang yang berulang tahun terkejut. Apakah hanya pura pura? Yang jelas saya tidak tahu.

Resolusi yang hambar dan sia sia

Resolusi, harapan dan doa-doa adalah hal wajib untuk seorang yang sedang berulang tahun. Masalahnya harapan atau resolusi yang diberikan selalu itu-itu saja. “Semoga lebih produktif, ya.” adalah salah satunya. Menurut saya, harapan ini seharusnya tidak perlu ada karena rasa malas itu benar adanya.  Percuma saja punya keinginan lebih produktif tapi masih saja menantang matahari (bangun siang), maraton film dan drakor, dan ngopi sana-sini.

“Segera punya pasangan/pacar dan segera menikah.” adalah resolusi yang selalu terucap wa bil khusus untuk para jomblo yang sedang berulang tahun. Saya sudah bosan dengan harapan dan resolusi ini. Kebanyakan yang mengucapkan resolusi tersebut hanya sebatas di mulut saja, tanpa mau membantu mewujudkannya. “Apakah auto main tembak dan main terima pacar saja?”

Urusan menikah juga tidak sesederhana itu, harus ada biaya dan nafkah yang harus dikeluarkan dan dipenuhi. Kehidupan pasca menikah juga tak semudah membalikkan tangan. Mungkin kalau resolusinya lebih mudah bergaul dan membuka diri masih masuk akal, kalau segera nikah mending dipikir kembali.

Hampanya ulang tahun saya

Terakhir kali saya merayakan ulang tahun adalah di saat umur saya 8 tahun. Itu pun tidak ada pesta tiup lilin dan kue tart, hanya perayaan sesuai tradisi di keluarga kami yakni bancakan; kenduri dan selamatan bagi anak-anak yang merayakan ulang tahunnya dalam budaya Jawa. Setelah itu dan sampai sekarang tidak ada lagi perayaan ulang tahun. Namun setidaknya saya selalu rutin mendapatakan ucapan ulang tahun dari Facebook dan Google, karena itu mungkin sudah otomatis. Budaya mengkode seperti “Kamu tahu ngggak hari ini hari apa” dan “Tahu ngak ada yang berbeda loh hari ini” juga tidak pernah saya lakukan.

Enah kenapa saya tidak latah saling mengucapkan ulang tahun melalui snapgram seperti orang-orang. Biasanya saya hanya cukup mengiriminya pesan “Dirgahayu” Saat timeline Instagram teman-teman saya ramai oleh berbagai ucapan selamat ulang tahun, timeline saya sendiri justru malah sepi dari ucapan apa pun. Saya hanya cukup menggunakan fitur mute yang ada di Instagram, justru saya menganggap hari ulang tahun adalah hari yang biasa, namun ya tidak serta melupakannya. Karena penting juga untuk pengurusan administrasi seperti Akta Kelahiran, KTP dan lain-lain.

Sejujurnya saya tidak antipati kepada orang yang merayakan, dengan berbagai cara dengan catatan tidak menggangu dan merugikan orang lain. Sebenarnya perayaan ulang tahun bisa dirayakan secara normal dan wajar saja, namun beberapa orang terlihat seperti ingin membuat sensasi demi kepuasan pribadi. Namun pemaknaan ulang tahun bagi saya seperti bagaimana saya membuka tulisan ini yakni hanya sekadar “mengulang tanggal lahir di tahun yang berbeda”. Kebanyakan perayaan ulang tahun yang lebih dibesar-besarkan daripada pemaknaan rasa syukur yang selama hidup didapat, maka menyusul untuk merayakannya hanya mengatarkan pada fenomena kesenangan dalam kesadaran palsu. Tabik.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
3Suka1Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment