Anti Menunda ala Filosofi Stoic

Faza Ali


Ketika harus mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan, namun ada rasa enggan menyelesaikan, pada akhirnya kita akan menunda (prokrastinasi) tugas tersebut. Bahkan sering berpikir, “Yaudah, ngerjainnya nanti aja, sekarang lagi nggak mood, nih.” Begitu dekat dengan batas waktu, justru kita sibuk mengerjakan apa yang semestinya dapat dikerjakan jauh hari. Akibatnya? Ya, sering tidak maksimal dalam pengerjaan tugas tersebut.

Masalah produktivitas merupakan masalah yang sering menjangkit kebanyakan orang. Masalah ini terjadi sampai era teknologi saat ini. Sebenernya, sudah banyak orang mengkaji ilmu terkait produktivitas. Bahkan ilmuwan, para ahli, bahkan filsuf pun mengkaji, bagaimana cara untuk menjadi produktif.

Pada tulisan ini saya akan sedikit menjabarkan, cara menjadi produktif dengan salah satu filsafat Yunani kuno. Mungkin banyak dari teman-teman sudah mengetahui, yaitu Filososi Stoic.

Banyak dari kita yang sering menunda (prokrastinasi) saat ada pekerjaan atau tugas. Entah itu pelesiran saat ada tugas kuliah, sibuk lihat story di WA dan Instagram, maraton drama Korea, atau streaming video YouTube mukbang. Menurut riset, 20% orang di dunia sering menunda sebuah pekerjaan. Dengan demikian, 1 dari 5 orang di dunia adalah kaum prokrastinator.

Saat kita dihambat oleh sifat prokrastinasi, selintas langsung berpikir, “Yaudahlah, aku kerjain aja meski sedikit.” Nah, kalau udah pernah berpikir seperti itu, sifat prokrastinasi bakal enggak muncul lagi. Dengan menerapkan Filosofi Stoic ini, ada tawaran sebuah ketenangan. Saat dihadapkan pada suatu kondisi tidak menenangkan, kita tidak akan gegabah atau menghindar dalam mengambil keputusan.

Bagaimana cara produktif dengan Filosofi Stoic?

Pertama, yang harus dilakukan adalah mengelola emosi dan waktu dengan baik. Menurut Filosofi Stoic, “believe underlie feelings”, alias kepercayaan akan membentuk perasaan kita. Kalau kepercayaan terhadap sesuatu menjadi negatif, otomatis  perasaan akan  menjadi negatif juga.

Contoh, saat dosen memberi suatu tugas tetapi kita mempersepsikan tugas sebagai beban, perasaan kita akan menjadi negatif. Kalau mau mengerjakan menjadi mager alias males gerak. Sebaliknya, saat mempersepsikan tugas sebagai ilmu baru atau hal menyenangkan, perasaan kita akan menjadi positif. Ujungnya menjadi tertarik pada tugas, mengurangi rasa malas dan perasaan menunda. Intinya, prinsip pertama Filosofi Stoic adalah keyakinan yang membuat perasaan bukan kenyataan.

Kalau menurut Epitectus, seorang filsuf Yunani mengatakan, Orang itu terdistraksi bukan sama benda atau objek, melainkan sama prinsip atau gagasan mereka terhadap sesuatu. Jadi, menurut Filosofi Stoic, prokrastinasi bukan terdistraksi oleh sosial media, gawai, selebgram, melainkan oleh mindset sendiri.

Kalau selama ini mempersepsikan kuliah atau kerja menjadi beban, semua menjadi berat untuk dijalani. Banyak penelitian menyebutkan, bahwa suasana hati dapat memengaruhi pekerjaan dengan drastis. Jangan membuat suasana hati menjadi negatif. Saat mendapat tugas atau pekerjaan anggap saja sesuatu hal baru atau tantangan yang menyenangkan. Jadi tips pertama adalah mengelola emosi dan mindset terhadap suatu pekerjaan atau tugas.

Kedua, coba evaluasi apa yang sudah kita lakukan. Renungi, apakah benar telah melakukan hal penting atau hal tidak terlalu penting. Menurut seorang filsuf Marcus Aurelius, melakukan sesuatu dengan baik, tidak menjadikannya penting. Banyak yang fokus mengerjakan sesuatu dengan cepat, padahal apa yang dikerjakan dengan cepat dan baik, belum tentu itu penting dan bermanfaat.

Nah, bagaimana cara kita melihat pekerjaan sejauh ini benar-benar penting? Coba luangkan waktu untuk mundur sejenak dari yang dikerjakan sekarang. Tanyakan pada diri sendiri tentang apa yang benar penting untuk dikerjakan. Terkadang saat sibuk, kita lupa terhadap big picture apa yang dikerjakan. Sering kali mengerjakan apa yang mestinya tidak dikerjakan. Dengan kata lain, mengerjakan sesuatu dengan cepat tapi kurang berpikir dengan perspektif yang lebih luas.

Bisa saja apa yang dikerjakan malah menjauhkan diri dari apa yang ingin dicapai. Tips kedua, adalah merefleksi kembali apa yang kita lakukan sekarang benar membuat dekat dengan tujuan atau menjauhkan tujuan yang selama ini dirancang.

Ketiga, coba kita pahami hal yang bisa kendalikan dan tidak bisa kendalikan. Menurut filosofi Stoic, manusia tidak mempunyai kendali apapun kecuali pilihannya sendiri. Contoh yang tidak bisa dikendalikan dari produktivitas adalah hasil pekerjaan. Sudah dipersiapkan berhari-hari untuk mengerjakan ujian dari dosen atau guru, tapi tidak bisa mengendalikan nilai yang akan keluar setelah ujian berlangsung.

Permasalahannya, banyak dari kita terlalu khawatir dengan hasil. Sampai sering lupa terhadap proses, terhadap hal yang dilakukan saat berjuang. Jadi terlalu banyak overthinking daripada kerjanya.

Tips ketiga adalah fokus terhadap apa yang bisa kita kontrol, perihal hasil jangan terlalu dirisaukan. Penting kita fokus terhadap apa yang bisa dilakukan dan dikerjakan. Tujuannya adalah meminimalisir kesalahan dan kegagalan. Focus on effort, not outcome.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment