Anak Kesayangan Ibu

Ramli Lahaping


Sinta mengarah ke sebuah gang yang sempit. Ia baru pulang dari sekolah sebagai murid kelas 3 SD. Sekitar dua ratus meter lagi, ia akan sampai di rumahnya. Hanya perlu melalui lorong itu, kemudian berbelok ke sisi kanan, dan melintasi beberapa rumah yang berdempetan.

Sesaat kemudian, di pangkal gang, Sinta bertatapan dengan seorang lelaki dewasa dengan tampang yang asing. Karena kikuk, ia pun lekas membuang pandangan dan fokus pada langkahnya. Tetapi lelaki itu malah bergegas menghampirinya, seperti hendak menggapainya.

Sinta lantas mempercepat langkahnya dengan perasaan takut. Ia yakin bahwa lelaki itu hendak berbuat jahat kepadanya. Ia menduga bahwa sang lelaki adalah penculik anak, sebagaimana penggambaran ibunya selama ini, terutama setelah seorang anak tetangganya menjadi korban penculikan.

Namun seketika, lelaki gondrong itu mencegat langkahnya. “Hai,” sapa sang lelaki bertato, dengan senyuman yang menampakkan giginya yang ompong dan berwarna hitam.

Sinta sontak mematung. Matanya menatap ngeri.

Lelaki itu kemudian berjongkok. “Jangan takut, Nak,” katanya, lantas mencoba menggenggam lengan Sinta.

Tetapi dengan sisa keberaniannya, Sinta lekas melangkah mudur. Ia lalu berbalik badan, kemudian berlari kembali ke pangkal gang.

Namun lelaki itu bergegas pula memburunya.

“Tolong…! Tolong…!” teriak Sinta berulang-ulang, sambil terus mengayun kakinya secepat mungkin.

Tetapi sang lelaki kembali menghadang langkahnya, dan berhasil mencengkeram lengannya. “Hai. Kenapa takut?”

Bukannya menjawab, Sinta malah kembali berteriak, “Tolong…!” serunya, sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri. “Tolong…! Penculik anak…! Penculik anak…!”

Sang lelaki pun kelabakan. Ia lalu membekap mulut Sinta dengan tangannya. “Hai, jangan takut, Nak.”

Sinta malah makin berontak dan berusaha meloloskan diri.

Hingga akhirnya, muncullah tiga orang lelaki di pangkal gang. Sekejap berselang, lima orang kembali menyusul.

Karena ketakutan, lelaki itu lantas melepaskan genggamannya pada tubuh Sinta.

Sinta pun segera berlari ke sisi belakang para warga.

Sang lelaki kemudian berbalik badan untuk melarikan diri. Tetapi nahas, empat orang warga telah berdiri di ujung gang.

Akhirnya, para warga pun mengerumuni sang lelaki, lalu menghantamnya dengan pukulan dan tendangan. Sang lelaki pun terus memohon ampun, sembari mengaku sebagai ayah Sinta. Tetapi para warga tidak percaya, sebab setahu mereka, ayah Sinta telah meninggal, dan sang lelaki hanya berupaya menipu mereka.

Semasih penghakiman dan penghukuman berlangsung untuk sang lelaki, Sinta kembali melanjutkan langkah pulangnya. Tak berselang lama, ia pun sampai di rumahnya. Ia sontak memeluk ibunya, sambil menangis.

“Apa yang terjadi, Nak?” tanya Lia, ibunya, setelah mengurai pelukan.

“Aku hampir diculik orang, Bu,” terang Sinta.

Lia sontak terkejut. “Bagaimana bisa?”

“Seorang lelaki mecegat dan menahanku di gang, Bu. Ia memiliki ciri-ciri penculik anak seperti yang ibu terangkan kepadaku,” jelasnya, sambil mengusap air matanya. “Untung saja orang-orang segera menolongku.”

Lia pun terenyuh. “Ah, syukurlah, Nak.”

Mereka lantas kembali berdekapan.

Atas kejadian itu, Lia sungguh terharu. Ia tak akan rela jika anaknya menjadi korban kejahatan seperti dirinya. Apalagi, ia membesarkan sang anak sebagai orang tua tunggal. Ia bahkan melahirkan ketika ayah biologis sang anak malah mendekam di penjara.

“Aku ingin menggugurkan anak ini,” kata Lia kepada ibunya, sambil menangis, sembilan tahun yang lalu.

“Jangan, Nak,” pendapat ibunya, kemudian menasihati, “Biarlah ia lahir. Ia tak punya salah, sebagaimana dirimu.”

“Tetapi apa yang akan kukatakan kepadanya dan kepada orang-orang tentang ayahnya?” kalut Lia.

“Katakanlah saja bahwa ayahnya telah meninggal,” saran sang ibu, lantas memeluknya.

Sampai akhirnya, hari ini, di tempat tinggal barunya yang jauh dari kota asalnya, Lia pun senantiasa mengatakan kepada anaknya dan kepada semua orang bahwa ayah sang anak telah meninggal akibat kecelakaan kerja di pulau seberang, saat ia masih mengandung.

Atas perjuangan Lia, kini, Sinta pun tumbuh dan berkembang sebagai anak yang cantik dan cerdas.

“Aku mencintaimu, Nak,” tutur Lia kemudian, sambil mengusap-usap pipi sang anak.

Sinta pun tersenyum tenang. “Aku juga mencintai Ibu.”

Lagi-lagi, mereka kembali berpelukan.

Beberapa waktu kemudian, keriuhan pun terdengar. Para warga tampak menggiring sang lelaki ke rumah ketua RT yang berada tepat di depan rumah Lia.

Dari balik jendela, Lia pun mengintip sang lelaki yang babak belur dan berdarah itu. Seketika pula, ia terkejut setelah berhasil membaca ciri-ciri tubuh dan wajah sang lelaki sebagai seorang berandal yang dahulu menggilainya. Seorang lelaki yang ia tolak cintanya, yang akhirnya jadi buta hati dan tega memerkosanya, sehingga ia melahirkan Sinta.***


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
1Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment