Alm. Gilang dan Dendam Kusumat Senior

Akrim Lahasbi


PUCUKMERA.ID — Meninggalnya Gilang, mahasiswa UNS, beberapa waktu lalu ketika mengikuti kegiatan Diklat Menwa mengorek luka lama. Usut punya usut, Gilang meninggal karena kekerasan.

Hal ini menjadi catatan buruk terbaru di ruang akademik. Menambah catatan buruk anggota organisasi kepada calon anggota yang sering dilakukan secara sengaja karena melewati proses perencanaan antara panitia dan fasilitator.

Sebagai insan yang aktif di organisasi, saya memahami, di mana pun perkaderan organisasi pasti tujuannya merekrut anggota. Poin itu menjadi unsur dasar diadakannya Diklat atau Perkaderan. Salah satu hal yang cenderung tidak hilang dari mekanisme pelaksanaan adalah dinamika kegiatan yang tidak melewati tahap observasi.

Perencanaan dinamika yang seperti yang dialami oleh anggota dengan marah, sedih atau bahkan bisa lebih dari dua konteks tersebut adalah kekerasan. Dalih yang sering terdengar adalah mengasah mental dan naluri organisasi. Tapi perlu kita sadari, bahwa tidak semua kepala adalah satu karakter yang sama dan tidak semua karakter dapat diubah dengan cara yang sama.


Masa depan Generasi

Berbicara masa depan generasi, maka kita tidak harus melihat sistem pendidikan umum, sering kita melihat terbentuknya suatu bentuk karakter anggota itu adalah karena keberadaannya diruang-ruang akademik. Tetapi lebih dari itu keberadaan organisasi sebagai unsur ruang non akademik juga menjadi aspek penting dalam individu dibentuk menjadi generasi.

Saya percaya bahwa organisasi pastinya memikirkan terbaik untuk anggotanya dapat diberikan akses dan lain sebagainya, terlepas dari segala bentuk unsur politis yang sering menjadi dinamika organisasi, pastinya itu adalah proses belajar yang sudah mengakar, sejauh mana seorang pimpinan, senior memberikan contoh dan rekam jejak.

Alm. Gilang, saya pikir beliau adalah generasi yang kehilangan masa depannya membahagiakan orang tua melalui ruang akademik (kampus) dan ruang non-akademik (organisasi). Bahkan kita tidak mengetahui, bisa saja dia adalah suatu pengharapan keluarga yang hilang karena mekanisme dan dinamika perkaderan yang konservatif.

Tentu saja, menjadi suatu bentuk traumatik kepada orang tua lainnya untuk tidak mengizinkan anaknya untuk berorganisasi dan imbasnya kepada organisasi yang tidak menerapkan sistem perkaderan konservatif tersebut. Ini adalah bentuk domain buruk yang dilakukan, menjadi generalisasi perkaderan yang berdampak jangka panjang. Bisa saja, IMM, HMI, PMII dan organisasi intra kampus lainnya kehilangan kepercayaan karena kasus kematian Alm. Gilang dengan mengikuti perkaderan yang dilakukan oleh Menwa UNS tersebut.


Menakar Keberadaan Organisasi Perkaderan

Pasca kejadian meninggalnya Alm. Gilang pada kegiatan diklat tersebut menjadi nuansa yang sangat tidak disukai oleh orang-orang yang berorganisasi dan bahkan orang yang anti dengan organisasi. Tentu saja, catatan buruk itu juga akan mendominasi laman informasi yang di konsumsi oleh para orang tua dan elemen masyarakat lainnya.

Setidaknya ada dua alasan yang menjadi hipotesis saya dalam menakar keberadaan organisasi perkaderan seperti IMM, HMI, PMII dan lainnya :

Pertama ialah Organisasi perkaderan di atas akan kehilangan atensi. Bagaimana tidak, mindset yang ada di masyarakat umumnya bahwa semua organisasi adalah sama secara perekrutan sampai pada proses pelaksaan perkaderan, bahkan seolah kekerasan juga menjadi aspek dinamika yang ada dalam organisasi perkaderan IMM, HMI, PMII dan lainnya.

Tentu saja itu adalah kekhawatiran yang cukup kuat di mana akan kehilangan banyak calon anggota yang akan di-kaderisasi. Kehilangan atensi tersebut adalah domain ketidakberpihakan masyarakat bahkan semua organisasi memperlakukan anggota baru dengan hal yang sama. Seperti beberapa saat yang lalu, seorang calon kader organisasi berkata kepada saya bahwa organisasi seolah tidak menarik karena tindakan-tindakan yang amoral.

Tindakan amoral yang dibangun dengan rasa balas dendam karena sebelumnya di perlakukan yang sama dan anggota baru adalah korban baru dari perkaderan dengan menggunakan dinamika konservatif bukan dinamika observatif.

Kedua adalah Kekhawatiran orang tua. Poin yang paling mendasar dari dampak perkaderan yang konservatif adalah suatu hal yang sama sebelumnya di ulang dengan perilaku yang sama. Ini bukanlah teori melainkan perbuatan empiris yang dalih senior yang lebih dulu ada dan anggota baru adalah orang baru yang harus di bentuk mental dengan cara di bentak seolah aturan main mencetak generasi adalah kekerasan dan menakutinya.

Seorang ibu saat saya bermain di rumah anaknya yang kebetulan akan saya ajak masuk bersama di Organisasi perkaderan. Akan tetapi ibunya berkata saya tidak ingin anak saya di kasari, dibentak dan di perlakukan tidak manusiawi seperti yang sudah terjadi dan diberitakan tersebut. Tentu saja itulah salah satu dari sekian kekhawatiran orang tua kepada anaknya.

Organisasi perkaderan seperti IMM, HMI, PMII dan lainnya di mana menggunakan sistem perkaderan yang hampir sama secara observatif dan jauh dari apa yang dilakukan oleh organisasi-organisasi lainnya yang cenderung menggunakan kekerasan dan senioritas yang mengambil alih perkaderan. Itulah menjadi cikal bakal kekerasan, kebrutalan dari perkaderan konservatif. Berbeda dengan Organisasi perkaderan atau pergerakan di atas yang menggunakan sistem materi, diskusi dan analisis nalar kritis kehilangan kepercayaan dan mendapat garis yang sama dalam pikiran masyarakat tentang proses perekrutan.

Kekhawatiran orang tua inilah bagi saya tidak menjadi suatu masalah yang besar, melainkan menurunnya tingkat kepercayaan terhadap keberadaan organisasi. Oleh karena itu, organisasi perkaderan dan non perkaderan (Diklat/Pelatihan) harus mulai beranjak kepada modernitas perkaderan yang mengedepankan perkaderan bersifat dialogi, observatif, hadap masalah serta melahirkan problem solving dalam keberlangsungan organisasi dan kepada masyarakat.

Mari membentuk generasi dengan hati dan cara yang lebih modern.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

What's your reaction?
0Suka2Banget
Show CommentsClose Comments

Leave a comment