Kematian Pohon Cengkeh Tertua di Dunia, Hilang Satu Tumbuh Seribu


Bare Kingkin Kinamu
ASN BPK Perwakilan Maluku Utara


“Pohon cengkeh tertua itu sudah tumbang dan mati, kalian hendak ke sana? kira-kira harus jalan sekitar satu kilometer dari sini,” tutur Ibu Nurhalimah (54), warga Kelurahan Tongole kepada penulis, Senin (25/5/2020).

Nur, begitu panggilannya sehari-hari, menyambut kedatangan kami usai menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Ternate.

Dari pusat Kota Ternate yang penuh dengan bangunan-bangunan modern: mal dan restoran yang serba menawarkan kebutuhan kelas menengah-atas, penulis mencari jejak Cengkeh Afo yang terletak sekitar enam kilometer dari pusat kota.

Pintu masuk utama menuju Cengkeh Afo/ Dok Pribadi – Kingkin Kinamu

Memasuki Jalan Cengkeh Afo, suasana modern kota berganti dengan rimbunnya pepohonan cengkeh dan pala di Kelurahan Tongole. Ketinggian desa ini sekitar 700 meter di atas permukaan laut.

Siang itu langit berawan. Bisa jadi sorenya hujan akan turun di sebagian Ternate. Awan gelap sudah terlihat bergantung di atas Gunung Gamalama.

Menempuh waktu sekitar 30 menit dari tempat tinggal kami di Jalan Jati Lurus, Ternate Selatan, akhirnya kami sampai di kawasan Wisata Cengkeh Afo.

“Selamat Si Ni Kado.” Itulah tulisan di gerbang utama di Kawasan Wisata Cengkeh Afo.

Saat itu jalan setapak ke atas menuju kawasan hutan pala dan cengkeh itu dipenuhi oleh lumut dan terasa lembab. Sebab, sehari lalu kawasan ini diguyur hujan.

Penuturan tersebut saya dapat dari Ibu Nur, perempuan paruh baya yang tinggal di Desa Wisata Cengkeh Afo.

Kedatangan kami di kawasan Cengkeh Afo disambut hangat.

“Ayo masuk rumah dulu, minum, mampirlah sebentar.” Sambutnya.

Awan di atas sana telah berganti warna menjadi coklat—tanda alam bila hujan akan turun sebentar lagi. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan, tanpa mampir ke dalam.

“Lebih baik kami langsung meneruskan perjalanan ke atas, Bu.” Saya mengemukakan keinginan itu, alih-alih bertamu lebih lama.

Ibu Nur mengungkapkan, pohon Cengkeh Afo 1 tumbang pada pertengahan 2019. Letaknya sekitar satu kilometer dari pohon Cengkeh Afo 3—yang terletak persis di samping rumahnya.

Cengkeh Afo 1 adalah pohon cengkeh tertua di dunia. Usia telah memaksanya menyerah juga. Batangnya sudah tidak berdaun dan mati di sekitar tahun 2019-an.

Dari keterangan lanjut Ibu Nur, pohon Cengkeh Afo 2 masih hidup dan memiliki ranting rindang. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya jika dibandingkan dengan Cengkeh Afo 1.

Pohon Cengkeh Afo 3 dengan kondisi masih hidup – Dok Pribadi/ Kingkin Kinamu

“Kamu kalau hendak ke Cengkeh Afo 1 harus melewati jembatan bambu—ke atas lagi dari sini, itu sudah kaki Gunung Gamalama. Satu kilo meter dari sini.” Imbuhnya.

Kaki kami beranjak dari depan rumah Ibu Nur, usai kami bercakap-cakap sebentar. Konon Ketika Cengkeh Afo 1 masih hidup, di masa panen bisa menghasilkan sekitar 600 kg cengkeh. Dari jejak sejarah yang ditinggalkan, tinggi pohon ini mencapai 36,6 meter dengan usia kurang lebih 400 tahun.

Kami meneruskan langkah. Di hari tanpa pandemi Covid-19, kawasan ini biasa dikunjungi masyarakat sekitar untuk menyantap kuliner. Ada saung-saung yang terbuat dari bambu sebagai tempat makan.

Pohon Pala mendominasi vegetasi di hutan ini / Dok Pribadi – Kingkin Kinamu

Hari itu, saung-saung terlihat sepi. Ibu Nur menjelaskan sebelum kami benar-benar melanjutkan perjalanan. Kata beliau, saung-saung itu sepi karena warga cemas akan pandemi Covid-19 dan adanya imbauan dari pemerintah untuk menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

Pohon Pala mendominasi vegetasi di hutan ini / Dok Pribadi – Kingkin Kinamu

Tidak ada pengunjung selain kami yang datang di kawasan hutan Pala dan cengekah hari itu. Kami tentu pergi dengan memakai masker, sesuai imbauan.

Jalan yang kami lewati cukup licin dan tidak rata. Kami terus naik, melewati pohon Cengkeh Afo 3, melewati rimbunnya vegetasi tumbuhan yang kaya.

Pohon pala sangat mendominasi perjalanan ini. Suasana sangat asri. Burung-burung bercuit, menyenangkan. Terlihat buah pala di mana-mana. Ingin sekali saya memetiknya, sebagai kenang-kenangan dan saya bawa pulang. Ah!

Pala/ dok pribadi – kingkin kinamu

Sekitar 20 menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di jembatan bambu. Beberapa bagian tampak sudah tidak tersambung lagi.

Dengan berbagai pertimbangan, karena cuaca dan kondisi bambu tersebut, kami memutuskan tidak melanjutnya perjalanan.

Di tengah perjalanan dari lokasi Ibu Nur, tepatnya di Kelurahan Tongole, tampak Desa Air Tege-tege, Kelurahan Marikurubu, tempat pohon Cengeh Afo 1 tumbang, kami mengatur nafas. Berhati-hati dalam melangkah. Sebab, jalan yang licin dan jurang yang dalam menjadi makanan di perjalanan kami.

Teman saya begitu terkejut. Ia tak mengira akan berjalan sejauh ini dan melakukan ekspedisi kecil-kecilan untuk menilik sejarah masa lalu Kota Ternate. Kota ini memiliki kekayaan alam yang tak ternilai ini. Siapa yang bisa membeli sejarah?

Menyatu dengan Alam

Berjalan 700 meter di atas permukaan laut adalah kesenangan tersendiri untuk paru-paru. Ditambah lagi, kami berjalan di tengah lebatnya pohon pala dan vegetasi hutan lain di Kelurahan Tongole dan Marikurubu.

Dari tangga ke tangga yang naik hingga jalan setapak menuju ke tempat yang lebih tinggi, nafas kami mulai beradaptasi. Dari jalan beraspal yang tidak rata hingga berada di jalan setapak tanah yang cukup dilewati satu orang saja, siang itu kami memulai perjalanan baru.

Jalan setapak menuju Cengkeh Afo 1/ Dok Pribadi – Kingkin Kinamu

Teman saya sudah pernah ke daerah Cengkeh Afo, namun sebatas di area wisata kuliner. Area kuliner—berbentuk saung-saung dari bambu, sekarang tersisa lapuknya bambu saung. Barangkali hanya terlihat lapuk karena cukup lama tidak diurus akibat Covid-19.

Kali ini, ia bersama saya jalan lebih ke atas lagi untuk menuju Cengkeh Afo 1. Sayang, kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan.

Siang yang lembap. Hujan sehari yang lalu menyisakan kelembapan yang sepertinya seakan terus bertambah jika sore nanti hujan kembali mengguyur.

Alam di Kota Ternate ini sangat menarik. Ada gunung, ada laut, dan ada modernisasi di pusat kota. Semua saling berjalan berkesinambungan. Kami berharap, keberadaan manusia tidak merusak alam yang sangat mengasyikkan ini.

Perjalanan menuju pintu masuk awal/ dok pribadi – Kingkin Kinamu

Langit berawan coklat, tidak ada berkas matahari yang bisa menerobos pekatnya awan siang itu. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIT. Di saung itu, kami memperhatikan tumbuhnya pohon pala, yang menyeret ingatan kami akan sejarah masa lalu, mengapa Portugis dan Spanyol mengadakan pelayaran untuk mencari rempah-rempah. Di sinilah tanah itu. Tanah yang menjadi saksi sejarah masa lalu yang mandarah daging.

Masih ada jejak semangat penduduk untuk merawat alam di sekitar pohon cengkeh Afo. Terlihat vegetasi di sini tidak diusik. Sulur-sulur tumbuhan semakin meranggas tebal ketika menuju dalamnya hutan. Beberapa tanaman diberi nama alamiahnya.

Di pohon cengkeh khususnya, ada deskripsi singkat yang dibuat oleh pemerintah setempat.

Kondisi jembatan bambu menuju Cengkeh Afo 1/ dok pribadi – Kingkin Kinamu

Letak pohon Cengkeh Afo 1 sangat dekat dengan Gunung Gamalama. Konon di masa pemusnahan pohon cengkah oleh VOC kala itu, Afo 1 selamat. Tidak dapat dipungkiri, pohon Cengkeh di Maluku Utara, Maluku, dan Indonesia Timur begitu dicari. Dari catatan sejarah panjang, bibit pohon Cengkeh Afo 1 telah dibawa oleh seseorang dari Prancis pada 1770.

Rindang dan meneduhkan. Tak terasa sudah dua jam kami menghabiskan waktu di tengah hutan, menikmati vegetasi alami yang ada di Kelurahan Tongole. Meski Cengkeh Afo 1 sudah tumbang dan mati, akan ada cengkeh-cengkeh lain yang terus tumbuh dan berkembang menjadi pengharapan bagi para petani cengkeh di bumi rempah-rempah ini.

Usai turun, kami kembali berpamitan kepada Ibu Nur.

“Tidak apa-apa pohon tersebut telah mati, bibit-bibit lainnya tetap tumbuh.” Pesan Ibu Nur, jadi penutup perpisahan kami, siang itu.

Ya, seperti filsafah menanam itu sendiri. Barang siapa menanam kebaikan, ia akan memetiknya. Masyarakat setempat tentu telah menanam cengkeh dari bibit-bibitnya dengan tujuan kebaikan. Semoga yang sudah tumbuh akan membawa kebaikan lain yang tidak bisa dinilai dalam mencukupi hidup.

Karena, hilang satu tumbuh seribu.
Ternate, Mei 2020.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

What's your reaction?
0Suka0Banget
Show CommentsClose Comments

1 Comment

  • JATNIKA JATNIKA
    Posted May 31, 2020 at 3:54 am 0Likes

    Hilang satu tumbuh seribu… suka kalimat ini Kin. Mantul. jadi tau sejarahnya.

Leave a comment