Variasi tentang Kesepian

Share

Raihan Robby
Mahasiswa Sastra Indonesia UNY


1.  Album Foto

Aku buka kembali.
Tangkapan takdir di kamera kodakmu
(yang menjadi satu-satunya peninggalanmu).
Setelah bertahun-tahun terdiam di sana.

Kita merekam banyak kejanggalan di kota ini.
Jalan-jalan sehabis perang, air mata yang tumpah
di pinggir trotoar, seseorang yang berdarah di ujung jalan.

Kita bagaikan adam dan hawa.
Dalam dunia yang lebih keos.

Ada banyak catatan mengapa gambar-gambar itu tercipta.
Titimangsa yang telah pudar, dan kenangan yang retak di baliknya.
Kita akan menjadi masalah jika foto-foto di album ini tersebar luas.
Pesanmu sebelum menghilang pada suatu malam.
Dan kau benar menghilang adanya.

Aku telah selamat.
Takdir, kini menangkapku dengan matanya.

2. Musik Pagi

Penyiar radio itu kini tak lagi memutar lagu kesayanganmu.
Hanya berita dan berita yang terus diputarnya.
Entah sejak kapan kesedihan terus diperbincangkan.
Mungkin akhir-akhir ini, saat musim tidak menunjukkan gugurnya.
Saat kita, melihat nasib dengan tenang mengintai kita.
Dari balik keriput, dan umur-umur kita.

Penyiar radio itu kini tidak lagi mengingatmu.
Biar aku yang bernyanyi lagu kesayanganmu.
Di hari jadi kematianmu itu.

3. Sebuah Dermaga

Perpisahan seberat apapun tetap harus diucapkan.
Karena begitulah adanya.
Sebelum waktu yang seperti kapal laut itu.
Menarikmu untuk menyebrangi sesuatu yang paling kau takutkan,
Samudera kehilangan.

Meski kau harus meninggalkan segalanya di sini.
Bersama anak, cucu yang bersandar di jendela wasiat.

Seberat apapun perpisahan tetap harus diucapkan.
Karena waktu tidak mengizinkan kita,
untuk saling berpelukan lalu bersama-sama jatuh dalam ketiadaan.

Kepergianmu ini,
adalah sekali perjalanan yang tidak akan kembali.
Ada barangkali, kecupan di pipi kiri dan kanan?
Atau sebuah puisi yang ingin kau bacakan?
Sebelum berat melepaskanmu dalam perpisahan ini.

Karena begitulah adanya waktu.
Memisahkan segala-galanya, memisahkan kita.

4. Ranjang yang Terbakar

Di ranjang ini masih terdengar tangis bayi kita ketika pertama ia melihat warna.
Jari-jarinya yang mungil menyentuh bibirmu, dan kau menciuminya
seperti seorang pecinta yang rindu akan kesetiaan, kau terus menciuminya.

Di ranjang ini kita sama-sama kalah dengan kehidupan, keringatmu dan keringatku
menjadi satu. Kita merebah lelah, dan dengan kurang ajarnya, masa depan yang entah itu
menarik kita untuk bangun kembali.

Di ranjang ini pula aku mengingatmu terluka, maut yang menunggu di ambang pintu di balik kelambu, mengetuk jari-jarinya di sisi ranjang kita.
Bisakah sekali ini saja kita berjuang bersama-sama, mengalahkan maut dengan cinta kita?

Jakarta, 2021


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan