Terapi Jiwa di Festival Literasi Ngalam Book Fest

Share


Pucukmera.id – Tingkat kepenatan setiap orang memiliki variasi, berbagai tekanan dalam kehidupan menjadi faktor utama memunculnya rasa penat. Akibat yang ditimbulkan cukup merugikan, mulai merasa lelah, tidak berenergi, dan cenderung ingin tidur yang mengganggu aktivitas normal sehari-hari. Rasa penat timbul dari pelbagai faktor, salah satunya adalah rutinitas yang sangat monoton dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pekerja, datang ke kantor setiap pagi hingga pulang di sore hari. Pelajar dan mahasiswa juga mengalami hal yang sama, pagi sampai sore kuliah, malam hari mengerjakan tugas.

Malang memiliki jumlah kampus yang cukup banyak, jumlah mahasiswa selaras dengan jumlah kampus yang ada. Aktivitas dalam kampus menguras banyak tenaga dan pikiran menjadi salah satu sumber rasa penat dalam diri Mahasiswa dan civitas akademika. Deadline tugas bagi mahasiswa, tuntutan jurnal ilmiah bagi para dosen dan kegiatan administratif yang rumit bagi civitas akademika. Dari pengamatan yang kami lakukan di beberapa kampus tergambarkan sebuah fenomena, seolah belajar di dalam kampus menjadi suatu yang menjenuhkan dengan berbagai tuntutan. Belajar di kampus belum seluruhnya membahagiakan dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Kejenuhan belajar pada dunia perguruan tinggi tidak boleh terjadi, budaya belajar untuk memperkuat literasi harus dijalankan.

Efek domino yang ditimbulkan dari kejenuhan menjadi kegiatan yang kontraproduktif. Permasalahan tersebut yang coba ditangkap oleh Ngalam Book Fest, menghadirkan festival literasi sebagai alternatif belajar dan menguatkan budaya literasi yang menggembirakan. Menggabungkan beberapa kegiatan literasi menjadi serangkaian kegiatan utuh, mulai pasar buku, gelar wicara, dan panggung unjuk karya. Serangkaian kegiatan yang saling berhubungan diharapkan bisa menyuburkan gerak literasi di Malang Raya. Beberapa rangkaian kegiatan Ngalam Book Fest dapat mejadi alternatif penghilang rasa penat bagi para pengunjung.

Nawak baca sebuah panggilan khusus pengunjung NBF diajak untuk kembali dekat dan mencintai buku-buku. Para peneliti University of Sussex mengungkapkan jika level stres dapat berkurang hingga 68 persen dengan meluangkan enam menit membaca. Segala imajinasi muncul ketika membaca buku dapat mengajak para pembaca melupakan sejenak stres sedang dialami. Seperti kata Neil Gaiman, “Books make great gifts because they have whole worlds inside of them”.

Ruang diskusi dan kolaborasi dibangun dalam gelar wicara, interaksi sosial dibangun untuk memperkuat kesadaran literasi melalui diskusi dengan mendatangkan perbagai tokoh dan pegiat literasi Malang Raya. Dalam ruang tersebut seluruh nawak baca melebur jadi satu, interaksi antar nawak baca menjadi semangat baru sebagai modal bergerak. Setiap pertemuan adalah kabar, ada semangat yang terselip pada tiap kabar.

Panggung unjuk karya menjadi ruang menyenangkan, beberapa seniman hadir menghibur untuk menghilangkan rasa penat yang telah menumpuk. Ada semangat dan nilai baru yang bisa ditangkap dari perbagai pertunjukkan.

Membangun budaya literasi mempunyai efek berkelanjutan. Dalam hal ini membaca, menulis dan menghadiri ruang diskusi mempunyai peran penting dalam terapi jiwa secara mandiri. Efek yang ditimbulkan pun lebih berkepanjangan dibandingkan hiburan kontraproduktif dan toxic activity.

Tinggalkan Balasan