Subordinasi Perempuan dan Tayangan FTV Tanah Air

Share

Uswah Sahal
Penulis Lepas


Bagi kebanyakan orang,  khususnya ibu-ibu di tanah air, televisi adalah salah satu media yang diyakini untuk mendapatkan hiburan dengan cara yang mudah dan murah.

Televisi bagai sebuah kotak ajaib yang mampu menyajikan hiburan dan mengubah atmosfer di sebuah ruangan. Berbagai hiburan ditawarkan. Mulai dari acara reality show, infotainment, kuis, live talkshow hingga sinetron atau film televisi (FTv) ‘ikan terbang’ yang beberapa bulan belakangan digandrungi dan menjadi tayangan favorit ibu-ibu di tanah air.

Salah satu acara televisi yang hari ini cukup menarik dan menjadi primadona ialah FTv yang bernapaskan kehidupan rumah tangga. Alur ceritanya acap kali melibatkan perempuan menjadi makhluk yang selalu disakiti hingga perempuan yang menjadi seorang pelakor.

Dalam tiga bulan terakhir, selama di rumah, sinetron ikan terbang hampir semua saya tonton atau setidaknya saya dengar. Dialog dan lagunya yang sangat khas, ‘‘Ku menangis, membayangkan.’ Lagu popular yang dinyanyikan penyanyi solo kondang bernama Teh Rossa.

Hal itu menjadi sangat dekat,  karena Ibu saya menonton secara ajeg dan istiqomah setiap kali mendengar percakapan, “Aha, akan aku rebut suamimu dan akan kusingkirkan anakmu,” atau, “Akan aku celakai biar warisan jatuh di tanganku,” bahkan ada juga, “Akan aku racuni biar perempuan itu segera mati.” Seharusnya, ini menjadi adegan yang menakutkan, tapi entahlah tiap kali mendengar, saya jadi malah senyum-senyum sendiri.

Saya juga heran, kenapa Ibu saya tidak bosan menontonnya. Berbeda dengan saya, justru Ibu sendiri sering emosi dan ikut marah karena cerita istri yang disakiti karena suaminya berpaling dan goyah dengan perempuan lain. Mungkin bagi Ibu, sinetron ini sangat relate dengan permasalahan rumah tangga saat ini.

Mulai dari masalah perebutan harta waris, harta gono gini, rebutan anak, orang ketiga dalam rumah tangga, persaingan ibu-ibu kompleks, ibu kos yang galak nagih utang rumah kontrakan, perjodohan perempuan miskin dan laki-laki kaya untuk bayar hutang hingga santet dan pelet.

Namun demikian, justru tayangan dan judul-judul yang disajikan membuat sebagain orang menjadi gemas dan gelisah. Sebab tayangan yang ditampilkan seringkali menyudutkan perempuan. Lihat saja beberapa judulnya yang kadang bikin kita geleng-geleng kepala.

Menjadi Istri dan Janda dalam Semalam, Demi Harta Aku Tega Merebut Suami Tanteku, Teganya Ibuku Menikahi Suamiku, hingga Demi Suami dan Anakku, Aku Rela Jadi Simpanan Pejabat. Dan masih banyak  judul serupa yang bisa kita amati.

Secara tidak langsung, hal itu menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam persinetronan Indonesia. Tayangan yang demikian menempatkan perempuan sebagai subordinat dan pihak yang selalu tersakiti.

Menurut Bhasin (2001), subordinasi memiliki arti diletakkan di bawah atau kedudukan di dalam sebuah posisi yang inferior di hadapan orang lain, atau menjadi tunduk terhadap kontrol atau otoritas yang lain.

Kekuasaan tersebut sebenarnya berasal dari perasaan superioritas laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki merasa diri mereka sebagai makhluk yang utama. Jadi dapat diartikan subordinasi ialah sikap atau tindakan masyarakt yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah di banding laki-laki.

Nilai-nilai yang berlaku di masyarakat telah memisahkan dan memilah-milah peran antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi. Sementara laki-laki dalam urusan publik atau produksi. Hal itu dapat terjadi karena keyakinan terhadap jenis kelamin yang dianggap lebih penting atau lebih unggul ialah laki-laki, telah dikonsepkan secara turun temurun

Akibatnya, apa yang kita tonton sering kali meracuni pikiran kita sendiri. Kekerasan yang dialami oleh perempuan selalu berdampak pada kesengsaraan atau penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual dan psikologis. Termasuk tindakan ancaman tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum maupun dalam lingkungan kehidupan pribadi. Padahal, perempuan terlahir bukan untuk disakiti, tapi untuk disayangi.

Padahal, menurut saya, sinetron ini bisa disisipi dengan perjuangan perempuan, kerja keras, etos belajar, empati, toleransi dan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Jadi bukan hanya tentang konflik kekerasan dalam rumah tangga dan skandal perselingkuhan yang disajikan secara berlebihan.

Juga, sikap tokoh-tokoh antagonis yang ditampilkan dengan mata yang licik, wajah sinis,  dan sifat dendam berlebihan yang tidak masuk akal seolah menghegemoni publik akan eksistensi manusia jahat tak berprikemanusiaan. Hal ini, seolah membiarkan masyarakat hanyut dalam kehidupan bawah sadar, utopis dan terjebak dalam angan-angan semu yang berbahaya karena berdampak serius terhadap cara pandang terhadap perempuan dan kualitas hidup manusia.

Anehnya tayangan sinetron ikan terbang selalu mendapat rating tertinggi pada satu dekade belakangan ini. Saya jadi teringat pemaparan Mosco tentang kajian ekonomi politik media. Media massa kini melakukan komodifikasi dengan melakukan serangkain proses produksi isi media berdasarkan kepentingan pasar (Mosco,1995;140-212).

Artinya, sama halnya seperti barang dagangan, pengelolaan media dan sinetron sarat akan nilai-nilai ekonomis yang berkiblat pada rating, efisiensi dan efektivitas produksi tanpa melihat moral value atau nilai-nilai kepatutan, yang justru seringkali diabaikan.

Berangkat dari keprihatinan inilah, tulisan ini ditulis. Terakhir, penulis memberi masukan alternatif bagi penonton setia televisi agar menyikapi sinetron secara proporsional melalui pendekatan literasi media. Artinya, memposisikan diri bukan hanya sebagai penikmat pasif, melainkan menjadi penonton yang cerdas dan ikut andil dalam mengkritisi berbagai ragam tayangan di media massa. Semoga!


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: