Sistem Online dan Ramalan Paperless Society

Share

Eka Imbia Agus Diartika
Ketua Bidang Literasi Donasi Sampah Untuk Literasi


Ramalan paperless society (masyarakat tanpa kertas) rupanya begitu menarik dibahas seiring populernya praktik sistem online pada masyarakat saat ini. Apalagi sejak pandemi Covid-19, kerja-kerja kantor, sekolah, universitas, maupun perusahaan jamak beralih dari sistem offline menuju online. Hal ini seolah menjadi angin segar bagi terwujudnya prediksi paperless society.

Frederick Wilfrid Lancaster ialah tokoh yang menggagas paperless society sejak tahun 1978. Dalam konsepnya, Lancaster menyebutkan bahwa masyarakat kelak tidak lagi menggunakan kertas sebagai medium tulis, baca, dan pertukaran informasi. Bagi saya pribadi, hal ini masih menjadi sebuah pertanyaan. Mungkinkah ramalan paperless society dapat diwujudkan ketika sistem online sedang booming, seperti pada saat ini?

Sebuah Peluang

Sebelum membahas terwujudnya prediksi paperless society, mari kita menengok fakta-fakta terkait sistem online dan imbasnya pada penggunaan kertas. Setidaknya disini saya akan membahas fakta pemakaian kertas pada bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Pertama, mari kita lihat dari sektor pendidikan. Kita ambil contoh dari kegiatan Ujian Nasional (UN) yang digelar setiap tahunnya. Kira-kira setiap tahun ada 7 juta siswa yang mengikuti UN, di mana setiap siswa menggunakan sedikitnya 10 lembar kertas. Berarti, dari praktik UN saja menghabiskan sekitar 70 juta lembar kertas. Apabila UN digelar secara online (UNBK) tentu akan sangat berdampak pada minimalisasi penebangan bahan baku kertas, seperti pinus. Jika satu pohon pinus menghasilkan 16 rim kertas, berarti sekitar 8.750 pohon pinus yang terselamatkan karena perubahan sistem UN.

Contoh lain di bidang pendidikan ialah penggunaan kertas pada saat bimbingan tugas akhir, skripsi, tesis, maupun disertasi. Belum lagi tugas makalah, laporan praktikum, proposal, dan laporan kegiatan yang masih banyak menghabiskan kertas. Dikabarkan pula bahwa satu guru menghabiskan 2 rim kertas hanya untuk administrasi (Kompas, 2019).

Kedua, mari kita menengok pemakaian kertas di bidang ekonomi. Institusi pemerintah dan korporasi masih menjadi pihak utama yang menghabiskan kertas. Proposal bisnis hingga draft bisnis nyatanya masih sulit jika harus menerapkan sistem online. Beberapa perusahaan masih menggunakan kertas untuk mengirimkan pesan, baik dalam bentuk memo maupun surat pemberitahuan. Sehingga, setiap bulannya perusahaan bisa menghabiskan ratusan kilogram hingga beberapa ton kertas. Apabila sistem kerja ini bisa diupayakan melalui sistem online, tentu akan banyak kertas yang bisa dihemat.

Ketiga, bidang kesehatan. Tak dapat dipungkiri, kerja di bidang kesehatan masih belum bisa sepenuhnya menggunakan sistem online. Rekam medis, surat rujukan dokter, bon pembayaran di apotek, hingga resep obat masih banyak yang ditulis ataupun dicetak menggunakan kertas. Jika Indonesia memiliki 2.183 rumah sakit (databoks, 2019) dan dimisalkan setiap harinya ada tambahan 100 pasien, dengan asumsi setiap pasien menghabiskan 3 lembar kertas, maka praktik ini sudah menghabiskan 654.900 lembar kertas perhari. Namun kabar baiknya, saat ini beberapa rumah sakit telah berusaha menerapkan sistem online untuk pendataan pasien dan rekam medis.

Melihat fakta di atas, paperless society yang bisa diperjuangkan melalui digitalisasi, memangbisa menjadi sebuah peluang. Namun sayangnya, hal ini masih sulit untuk benar-benar bisa diwujudkan.  Faktanya, masyarakat tak dapat lepas dari kertas untuk memenuhi kebutuhannya. Tak bisa dipungkiri, sekalipun saat ini telah marak penggunaan sistem online, namun agaknya hal ini tidak bisa diterapkan di semua bidang. Kerja-kerja di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan di atas rasanya masih susah jika sepenuhnya digantikan oleh gawai atau komputer.

Seperti yang diungkapkan oleh Jeff Dondero pada bukunya yang berjudul Throwaway Nation: The Ugly Truth about American Garbage, “Great ideas are started on paper, the world is educated on paper, bussiness are founded on paper, love is profossed on paper, important  news is spread on paper.

Dukungan untuk Terwujudnya Paperless Society

Meski pada kenyataannya masih sulit diwujudkan, namun kita tahu bahwa konsep paperless society tetap harus diusahakan. Sebab, akan membantu penyelesaian permasalahan akan langkanya bahan baku kertas. Bahan baku industri kertas mulai langka pada Maret 2020 (Tempo,com 2020). Bahkan setiap jam, dunia kehilangan 1.732,5 hektar hutan karena ditebang untuk bahan kertas.

Dengan mendukung terwujudnya paperless society,  berarti pula akan mengurangi masalah pada proses produksi kertas. Untuk memproduksi 1 ton kertas dihasilkan gas karbon dioksida (CO2) sebanyak kurang lebih 2,6 ton atau sama dengan emisi gas buang yang dihasilkan mobil selama 6 bulan. Apabila penghijauan tak dilakukan, bisa dibayangkan bagaimana efek tingginya CO2 pada perubahan iklim.

Oleh karena itu, upaya untukmewujudkan paperless society menjadi suatu keniscayaan. Disrupsi dari perkembangan zaman dan termasuk juga akibat dari pandemi Covid-19 menghendaki masyarakat untuk mengalihfungsikan media kertas ke media online secara masif. Hal ini akan memberikan kabar baik pada berkurangnya penggunaan kertas jika berlangsung terus menerus.

Dalam hal ini, tentunya dibutuhkan kerjasama, setidaknya antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat menjadi pemeran penting untuk mewujudkan, utamanya generasi milenial yang sudah familiar dalam penggunaan sistem online. Pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara online seyogianya bisa terus diterapkan.

Contohlah, sebagai mahasiswa, kita bisa mengompromikan tata cara bimbingan dengan dosen, yaitu sebisa mungkin dilakukan secara online, sebagaimana yang diterapkan saat pandemi. Hal inipun seharusnya juga didukung oleh setiap institusi pendidikan.

Lalu untuk kerja perusahaan, perusahaan juga bisa beralih pada penggunaan invoice, sebagai ganti bukti pembelian barang. Penggunaan aplikasi pembayaran dan monitoring kerja kantor secara online juga perlu dilibatkan.

Selanjutnya dalam bidang kesehatan, rekam medis dan pencatatan data pasien sebisa mungkin dilakukan secara online, bahkan resep pun seharusnya bisa dipesan secara online.

Tentunya, untuk mewujudkan hal ini peran pemerintah sangat krusial. Pemerintah perlu mendorong upaya penggunaan sistem online dengan memberikan instruksi, membantu dalam perizinan pengalihan beberapa kerja secara online, dan juga penyediaan infrastruktur untuk media online jika memungkinkan.

Meskipun pada kenyataannya untuk menjalankan sistem online secara penuh masih mengalami kesulitan, namun masih bisa diusahakan apabila ada kerjasama antar stake holder. Masyarakat dan pemerintah haruslah sama-sama mendukung jika ingin mewujudkan masyarakat tanpa kertas. Ketika tawaran penggunaan sistem online di atas bisa diwujudkan, nampaknya ramalan paperless society akan segera menemukan titik terang.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

One Reply to “Sistem Online dan Ramalan Paperless Society”

  1. Saya tidak mengerti, mengapa kita benar-benar berharap bumi ini hidup seolah tidak pernah ada makhluk yang mendiaminya. Seolah-seolah apa pun yang merugikan bumi mesti dihilangkan. Kertas, misalnya. Maaf, maksud saya ‘industri’ kertas. Padahal, kertas diproduksi sebagai perangkat ilmu pengetahuan. Dan, ilmu pengetahuan-lah yang akan menjaga bumi ini tetap damai.

    Tuhan bahkan memerintahkan manusia memperhatikan pergerakan bumi, yang tentu mesti dilakukan dengan ilmu pengetahuan. Dengan nalar.

    Kalau industri kertas membuat bumi kehilangan kedamaian, saya pikir bukan paperless solusinya. tetapi, mengganti sejumlah pohon yang ditebang. menggantinya dengan sejumlah yang sama, sehingga manusia tetap bisa memproduksi kertas, memproduksi ilmu pengetahuan.

    Sekarang, bagaimana dengan lahan pertanian? Apakah itu juga tidak menyumbang perubahan iklim? Lantas solusinya kita memilih mengubur lahan pertanian?

    Setiap keputusan, saya pikir, selalu ada sesuatu yang dikorbankan. Yang penting, bukankah, setiap apa yang dikorbankan itu dikembalikan? Minimal dirawat. Bukan tidak memilih sama sekali, bukankah begitu?

Tinggalkan Balasan