Selamat Jalan Guru

Share

Azhar Syahida


Nama beliau singkat dan mudah diingat: Arif Hoetoro. Ide-ide beliau juga melekat, tak pernah lekang, dan selalu kontekstual, setidaknya bagi saya.

Pak Arif, begitu biasa saya memanggil, adalah salah satu guru terbaik dan paling berpengaruh atas perubahan pemikiran saya.

Saya pertama kali bertemu dengan beliau persis pada medio 2014. Saya lupa bulannya, mungkin September 2014. Yang jelas, itulah hari pertama saya masuk kelas Ekonomi Islam di Universitas Brawijaya, Malang.

Dari pertemuan pertama itu, satu hal yang tidak pernah saya lupa, bahkan hingga sekarang, adalah statemen pembuka beliau di kelas filsafat ekonomi Islam. Beliau mengawali kelas dengan satu pertanyaan sederhana, begini, “Untuk apa kalian masuk jurusan ekonomi Islam?”

Beliau meminta kami sekelas berpendapat. Memberi alasan.

Beliau mengedarkan pandangan. Menunjuk kami satu per satu.

Ketika itu saya duduk paling belakang, sehingga saya giliran paling akhir.

Rupanya, 80 persen alasan kami masuk ekomoni Islam adalah agar mudah mendapat pekerjaan di perbankan syariah. Tanpa ba-bi-bu, beliau langsung menyepak alasan-alasan kami dengan satu kalimat pamungkas, “Kalian”, kata beliau, “kalau hanya ingin kerja di perbankan syariah, gak perlu masuk jurusan ini.”

Beliau lantas panjang lebar menjelaskan ekonomi Islam dengan konteks kesejarahan dan pemikirannya yang luar biasa memukau. Di hari itu, di kelas itu, di sore itu, dan di jam itu juga, saya merasa untuk pertama kalinya menemukan oase cakrawala ilmu yang begitu luas. Membikin gairah belajar jadi menggebu-gebu.

Beliau menutup kelas sore itu dengan merekomendasikan kami membaca buku beliau. Hari itu juga saya cari buku itu di perpustakaan kampus. Ada! Saya baca hari itu juga. Sayang, sulit sekali bahasanya. Saya pusing. Terlalu banyak istilah. Dan terlalu ilmiah. Intinya karena saya masih mahasiswa baru.

Barulah kemudian ketika skripsi, buku itulah referensi utama saya. Dan, beliaulah yang membimbing skripsi saya.

Di luar itu, terlepas penampilan beliau yang selalu apa adanya: sepatu apa adanya, kaus kaki apa adanya, celana kedodoran, baju hem lengan pendek kedodoran, dan sesekali guyonannya soal politik dalam bahasa Jawa yang selalu bikin kami tertawa sungkan, beliau selalu hadir dengan letupan ide yang tak pernah habis. Membuat kami takjub.

Soal ide beliau yang selalu kontekstual, saya akan cerita salah satunya. Suatu hari, saat saya pusing mencari bahan skripsi di perpustakaan kampus, beliau mengontak saya, “Azhar, ada waktu? Tolong ke ruangan saya.”

Jam itu juga saya bergegas ke ruangan beliau. Dengan tergopoh-gopoh, saya tiba di ruangan beliau. Di situlah beliau menceritakan kegusarannya tentang perkembangan penelitian ekonomi Islam yang hanya berkutat pada “zakat”, “wakaf”, dan anak turunannya.

“Coba kamu teliti ini, kamu cari angle yang bagus. Coba, ya.”

Hanya itu inti diskusi kami. Beliau mengusulkan saya meneliti secara ‘naratif’ gerakan ekonomi Islam yang mewujud dalam bentuk komunitas-komunitas bisnis islami. Beliau ingin mengetahui hubungan Islam, ekonomi, dan kegiatan bisnis yang digerakkan oleh komunitas-komunitas itu.

Hasilnya memang dahsyat: Islam, seperti halnya calvinisme, memberi dorongan etos kerja yang tinggi bagi pemeluknya.

Di sidang ujian skripsi, tak ada pertanyaan berarti dari dewan penguji. Hanya ada dua pertanyaan, dan lebih tepatnya hanya memuji tema skripsi itu yang belum pernah ditulis sebelumnya. Itulah Pak Arif. Mungkin setelah ini akan semakin banyak gairah penelitian turunan tentang etos kerja dan Islam. Semoga. Itulah amal jariyah beliau.

Selepas ujian skripsi, kami masih cukup intens berdiskusi. Termasuk, saya meminta rekomendasi beliau untuk beasiswa S2 saya, meskipun belum rezekinya lolos seleksi.

Terakhir kami berjumpa akhir Agustus 2019 di ruangan beliau di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Saya sowan ke beliau bersama Mas Farid, senior sekaligus karib baik saya. Di sowan itu, saya sekaligus memohon izin hendak ke Jakarta. Kami sempat bercanda. Lagi-lagi celetukan dan celoteh beliau soal politik selalu lucu, namun tajam dan berbobot. Di akhir sowan saya yang terakhir itu, beliau hanya menutup percakapan, “Azhar, cepat sekolah!”

Hari ini, Mas Habib, karib di Malang menelfon, mengabarkan beliau mangkat. Mas Farid, sampai artikel pendek ini ditulis, masih mengirimkan foto dari kediaman rumah duka.

Akhirnya, tak ada kata lain: Selamat jalan, Guru, selamat jalan. Kami mengerti ini hanya soal giliran. Semoga lapang jalanmu menuju sang pemilik segala. Amin.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan