Salah Tafsir Hasil Penelitian ‘7-38-55% Rule’ dalam Komunikasi

Share

Fawwaz Syafril Dirana
Penulis Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Penggabungan dua hasil penelitian oleh berbagai motivator dalam seminar yang dilaksanakan di berbagai penjuru negeri, secara online maupun offline, merupakan buah generalisasi yang salah tafsir. Pemahaman misinterpretasi ini sudah menyebar luas, sampai-sampai dianggap sebagai ‘hukum’. Padahal, yang tersebar di masyarakat luas merupakan hasil pemahaman yang tergesa-gesa.

Seorang Guru Besar Emeritus Psikologi, Profesor Albert Mehrabian, dari University of California, Los Angeles (UCLA) melakukan penelitian di bidang komunikasi pada tahun 1967. Pertama, berjudul “Decoding of Inconsistent Communications” dan yang kedua berjudul “Inference of Attitudes from Nonverbal Communication in Two Channels“.

Kedua penelitian ini difokuskan pada komunikasi emosi positif atau negatif melalui satu kata yang diucapkan. Penelitian pertama membandingkan kepentingan relatif dari arti kata dengan nada suara. Sementara kedua membahas ekspresi wajah dan nada vokal. Keduanya digabungkan untuk mendapatkan aturan 7-38-55.

Apa yang “mereka” katakan

Aturan semacam ini sering dirujuk dalam kursus dan seminar, juga sumber-sumber populer, seperti; kanal Youtube seorang tokoh entrepreneur, Quora, TimesIndonesia, dan media-media serta blog-blog yang ada. Hal serupa banyak terjadi di media luar negeri, coba saja cari kata kunci ‘7-38-55% Rule’ di mesin pencari Google.

Aturan ini dikenal baik sebagai Hukum 7-38-55; dengan 7 mewakili verbal; 38 mewakili vokal; dan 55 mewakili visual, atau disebut sebagai Hukum 3V. Mereka sering menghubungkan hasil studi ini ke dalam bentuk komunikasi secara umum dan menginterpretasikan bahwa angka-angka itu berlaku dalam komunikasi secara umum, kata mereka:

7% mengacu pada kata-kata tulisan dan ucapan,
38% mengacu pada intonasi suara,
55% mengacu pada bahasa tubuh/wajah.

Artinya, 7% berada di kelompok verbal, sedangkan 93% (38+55)  diklasifikasikan dalam kelompok non-verbal, yaitu intonasi dan gestur tubuh. Sekarang coba perhatikan contoh yang sesuai dengan pemahaman hukum seperti ini.

Ketika presentasi di depan kelas, Sujono disuruh memperbaiki gerakan tubuh dan intonasi nadanya. Kemudian dosennya akan mengatakan, “Ingat, kata-kata yang kamu ucapkan hanya memiliki pengaruh 7%. Kamu harus memperbaiki intonasi dan gestur tubuhmu, Sujono. Maksimalkan!”

Atau saat Sujono ngechat teman sekelompok menggunakan Whatsapp―yang berupa teks. Maka efektivitas komunikasi dalam konteks ini hanya sebesar 7%. Kemudian mereka mengatakan, “Masih ada 93% lainnya yang tidak terpenuhi. Itulah penyebab orang lain mengiramu sedang marah.”

Mari membayangkan lagi

Coba kita merenung bersama secara lebih dalam, lalu kita terapkan hukum itu di kehidupan sehari-hari, dan melihat dari sisi lain.

Bayangkan kita duduk mendengarkan radio berita terkini. Sujono, sang presenter, menyampaikan berita banjir akibat meluapnya air laut, menyebabkan rumah-rumah tergenang. Setelah mendengarnya, kita merasa iba kepada mereka. Secara, jika memakai hukum tersebut, maka indera pendengaran kita telah mencapai 45% dari komunikasi efektif, yaitu 7% (kata-kata) + 38% (intonasi suara). Ini tidak lebih dari setengah efektivitas komunikasi.

Bayangkan lagi, Sujono sedang berkendara menuju Surabaya. Di tengah perjalanan, Sujono membaca plang bertuliskan “Surabaya”. Setelah membaca plang tersebut, Sujono sadar bahwa Ia sudah setengah perjalanan lebih dekat ke tempat tujuan. Padahal, jika dihitung berdasarkan hukum tersebut, maka hanya sebesar 7% (tulisan) dari keseluruhan komunikasi efektif yang Ia serap.

Coba lihat: https://www.youtube.com/watch?v=7dboA8cag1M&feature=emb_title

Maksud yang sesungguhnya

Penting bagi kita untuk memahami bahwa studi ini sesungguhnya berusaha untuk memahami dampak relatif dari ekspresi wajah dan kata-kata yang diucapkan seperti yang telah saya singgung di awal.

Dalam penelitian pertama oleh Mehrabian dan Wiener (1967), subjek mendengarkan sembilan kata yang direkam. Tiga mengucapkan suka (suka, sayang dan terima kasih), tiga menyampaikan netralitas (mungkin, benar-benar, dan oh) dan tiga menyampaikan tidak suka (jangan, kasar, dan mengerikan).

Setiap kata diucapkan dengan nada suara yang berbeda. Kemudian subjek diminta untuk menebak emosi di balik kata-kata tersebut saat diucapkan. Ditemukan bahwa nada mengandung lebih banyak makna daripada kata-kata verbal itu sendiri.

Penelitian kedua oleh Mehrabian dan Ferris di tahun yang sama, subjek diminta untuk mendengarkan rekaman seorang wanita yang mengucapkan satu kata ‘mungkin’ menggunakan tiga nada suara berbeda untuk menyampaikan rasa suka, netralitas, dan ketidaksukaan.

Kemudian diperlihatkan foto wajah wanita dengan tiga emosi yang sama dan diminta menebak emosi dalam rekaman suara, foto, dan kombinasi keduanya. Foto-foto tersebut mendapat tanggapan yang lebih bermakna daripada suaranya.

Studi ini berkaitan dengan komunikasi tentang perasaan dan sikap, khususnya suka-tidak suka. Temuan ini menunjukkan pengaruh nada suara dan bahasa tubuh ketika situasinya ambigu. Biasanya berbentuk ketidaksesuaian antara kata-kata yang diucapkan dengan nada suara dan bahasa tubuh (mimik wajah) pembicara.

Sang profesor menjelaskan maksudnya dengan jelas yang di-upload di situsnya (http://www.kaaj.com/psych/):

“Total Liking = 7% Verbal Liking + 38% Vocal Liking + 55% Facial Liking. Please note that this and other equations regarding relative importance of verbal and nonverbal messages were derived from experiments dealing with communications of feelings and attitudes (i.e., like–dislike). Unless a communicator is talking about their feelings or attitudes, these equations are not applicable.”

Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menimbang bahasa tubuh dan intonasi lawan bicara kita (non-verbal) lebih tinggi daripada kata yang diucapkan (verbal) saat menafsirkan pesan. Utamanya ketika membicarakan tentang perasaan dan sikap, dan saat terjadi ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan (aspek verbal) dengan yang ditunjukkan (aspek non-verbal).

Sebagai contoh, jika Sujono berkata “Wow!” tetapi wajahnya menunjukkan sedang murung dan dalam mengucapkannya tidak ada antusiasme. Maka kita yang melihatnya akan lebih memercayai apa yang ditunjukkan oleh wajah dan nada Sujono, bukan apa yang Ia katakan.

Cara yang baik menggunakan hasil penelitian

Bagi “mereka” makna pesan sebagian besar disampaikan oleh isyarat non-verbal, bukan oleh kata-kata atau tulisan. Meskipun Sang Guru Besar sudah menyatakan terdapat kesalahan umum dalam menafsirkan hasil penelitiannya, namun orang-orang tetap menyebarluaskannya.

Ini disebabkan rendahnya daya kritis dan tidak adanya kemauan untuk menelaah lebih jauh, hanya karena kepentingan agenda yang mendukung gerakannya, mereka langsung tergesa-gesa menyimpulkan. Begitu orang membaca sesuatu di buku atau artikel, secara tergesa-gesa, mereka menerima begitu saja dan menyebarkannya lebih jauh.

Terdapat beberapa batasan dalam interpretasi penelitian yang diabaikan saat hasil penelitian dikutip sebagai aturan umum. Pertama, konteksnya sangat artifisial, didasarkan pada penilaian makna pita tunggal kata-kata yang direkam dan bahasan yang terbatas.

Kedua, angka-angka tersebut diperoleh dengan menggabungkan hasil dari dua studi yang sangat berbeda. Ketiga, angka-angka tersebut hanya berhubungan dengan komunikasi emosi positif vs emosi negatif dan dengan situasi di mana terdapat ambiguitas.

Kita dapat menggunakan temuan dasar sebagai panduan, akan tetapi presentase dalam penelitian akan tidak tepat jika diterapkan di setiap situasi. Namun, akan lebih baik menggunakan hasil penelitian ini ke dalam beberapa istilah.

Pertama, kita lebih rentan mispersepsi dalam memahami maksud apabila konteksnya terbatas―misalnya, saat komunikasi terjalin tetapi tidak dapat melihat wajahnya (aspek non-verbal). Kedua, jika kita ragu saat berbincang tatap muka dengan orang karena dirasa ambigu, kita dapat memerhatikan aspek non-verbalnya.

Ketiga, aspek verbal dan non-verbal memainkan peranan penting dalam komunikasi efektif. Jika keduanya diperhatikan dan dimanfaatkan dengan baik, maka potensi pesan dan makna yang dimaksud akan tersampaikan dengan penuh.

Hati-hati termakan Efek Ilusi Kebenaran. Repetisi pernyataan bukan berarti kebenaran.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan