Resesi

Share


Azhar Syahida
Penulis Lepas


Apa itu resesi? Tidak ada teori pastinya. Yang ada hanya kesepakatan para ekonom yang bunyinya begini: kontraksi pertumbuhan ekonomi tahunan selama dua kuartal berturut-turut. Atau, penyusutan volume ekonomi selama minimal 6 bulan berturut-turut dibandingkan tahun sebelumnya. Perhitungan perbandingannya adalah waktu.

Agar lebih mudah dimengerti, sederhananya seperti ini. Misalnya, tahun lalu, di dompet, kita memegang uang 100 ribu per bulan selama 6 bulan berturut-turut. Dengan uang 100 ribu itu, kita bisa sesekali makan ayam bakar, beli jus buah yang enak, dan beli es krim mahal.

Tapi, tiba-tiba, karena satu dan lain hal, misalnya instansi tempat kita bekerja bangkrut karena kena tipu, sehingga pada tahun ini kita hanya memegang uang di dompet sebesar 50 ribu per bulan selama 6 bulan berturut-turut. Ada penyusutan jumlah uang sebesar 50 persen. Maka, jika sebelumnya kita bisa sesekali makan ayam bakar dan beli jus buah yang paling enak, tahun ini kita mungkin hanya bisa makan tempe dan beli es air putih karena volume uang kita lebih kecil.

Kira-kira begitu gambarannya.

Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah Indonesia akan resesi? Menurut saya dengan logika sederhana, iya. Singkatnya begini, kegiatan ekonomi kita sekarang kan tidak bisa full 100 persen. Mungkin berjalan 60 persen, atau lebih kecil dari itu, taruhlah 50 persen. Tentu karena Covid-19 mengharuskan kita berjaga jarak dan meniscayakan beberapa aktivitas ekonomi ditutup sementara waktu.

Industri yang biasanya masuk dengan 1.000 karyawan, sekarang mungkin hanya bisa masuk dengan 100 karyawan. Dampaknya, volume produksi menurun. Juga, 900 karyawan sisanya yang tidak bisa masuk, mungkin tidak lagi mendapatkan pendapatan bulanan, atau kalaupun dapat, tidak full 100 persen. Imbasnya, konsumsi menurun.

Dalam kondisi seperti itu, penyusutan volume ekonomi terjadi baik dari sisi suplai maupun permintaan. Dan seperti halnya pada kuartal II lalu yang pertumbuhan ekonomi kita minus 5 persen, di kuartal III kurang lebih juga akan kembali negatif.

Pertanyaan selanjutnya yang sering diajukan banyak orang: lantas, jika resesi, apa bahayanya?

Sebetulnya, dalam kondisi seperti ini, resesi adalah keniscayaan. Sesuatu yang pasti terjadi. Tidak hanya Indonesia yang tertimpa resesi, tapi seluruh dunia. Negara maju, berkembang, kaya, miskin, semuanya kena. Sama saja.

Maka itu, sebenarnya kita tidak bisa hanya fokus pada bagaimana jika resesi, dan apa dampaknya. Yang jauh lebih penting dari itu adalah, ketika resesi, tindakan apa yang bisa kita perbuat agar keluar dari jebakan resesi. Yang jelas, kita tidak boleh panik dan grusa-grusu.

Seperti halnya isi dompet kita tadi yang hanya menjadi 50 ribu per bulan, apakah kita hanya meratapinya? Tidak, bukan? Tentu kita perlu bekerja, berfikir kreatif, bertindak tenang, mencari sumber pendapatan lain supaya di dalam kantong dompet kita pulih lagi 100 ribu per bulan. Syukur-syukur menjadi 150 ribu per bulan. Bukan begitu?


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan