Refleksi Tahun Baru Hijriyah

Share

Ahmad Affan Haris


Tanggal 1 Muharram merupakan pertanda dimulainya awal tahun baru Islam atau yang biasa kita kenal dengan tahun baru Hijriyah. Peringatan tahun baru yang berpatokan pada perputaran bulan ini memang tak semeriah dan semewah awal tahun masehi.

Tak sama halnya dengan malam 1 Januari yang dipenuhi kembang api di seantero penjuru bumi. Pada malam 1 Muharram, memang tak ada peringatan spesial ataupun amalan khusus yang diajarkan oleh Nabi untuk menyambutnya. Karena memang penetapan kalenderisasi Hijriyah ada setelah Rasululllah wafat.

Mari kita tengok kembali sejarah awal mula penetapan kalenderisasi Hijriyah yang bermula dari gubernur Bashrah (Irak); Abu Hasan Al-Asy’ari yang merasa resah karena belum adanya tahun Islam yang resmi dan sah.

Pada saat itu, Abu Hasan bingung dengan surat perintah yang datang dari Khalifah Umar bin Khattab. Karena, dalam surat tersebut hanya tertulis bulan Sya’ban tanpa adanya tahun. Abu Hasan pun bertanya-tanya, pada bulan Sya’ban yang mana beliau harus menjalankan tugasnya? Apakah Sya’ban tahun ini atau bulan Sya’ban di tahun selanjutnya?

Tanda tanya besar tentang “tahun” ini kemudian beliau sampaikan kepada sahabat Umar lewat sepucuk risalah. Dan ternyata aduan itu mendapat respon positif dari Khalifah Umar yang langsung mengajak para kibar/pembesar dari Shohabat untuk bermusyawarah dalam rangka penentuan permulaan tahun Islam. Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa opsi waktu buat menentukan awal dimulainya tahun Islam.

Pertama, dihitung sejak tahun kelahiran Rasulullah. Tapi, opsi ini tertolak karena dikhawatirkan akan menjadi cikal bakal pengkultusan Nabi Muhammad sebagai Tuhan oleh sebagian kalangan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Isa. Kemudian opsi kedua, dihitung sejak tahun wafatnya Rasulullah. Tapi, opsi ini juga tertolak dengan argumentasi dikhawatirkan pada saat awal tahun baru malah menjadi hari kesedihan bagi sebagian kalangan. Kemudain ada opsi selanjutnya yakni dimulai sejak hijrahnya Rasulullah dari kota Mekah ke Madinah. Dan opsi inilah yang disetujui oleh sebagian besar sahabat.

Sehingga Khalifah Umar memutuskan untuk menetapkan awal tahun Islam dimulai sejak tahun hijrahnya Rasulullah dengan alasan bahwa momentum hijrah adalah momen perubahan. Dari momen inilah titik perjuangan Islam mulai menemukan jalan menuju kemenangan. Dan dari momen ini juga umat muslim mulai mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan peribadatan.

Terpilihnya momen yang terjadi sejak 1442 tahun yang lalu itu sebagai awal mula penetapan tahun Islam menjadikan tahun Islam dikenal dengan tahun Hijriyah. Dan momentum tahun baru Hijriyah ini bisa kita jadikan sebagai sarana untuk mengaca dan bermuhasabah, bahwa hijrah adalah momen persatuan. Karena pada hakikatnya, Islam adalah mempersatukan, bukan memisahkan.

Bukankah hal pertama yang dilakukan Rasulullah saat sampai di Madinah selain membangun masjid adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshor? Menyatukan Bani Aus dengan Khazraj? Maka, mari memulai tahun baru Hijriyah ini dengan belajar membangung ukhuwah yang baik dengan sesama.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan