Perihal Menulis: Ilmiah, Populer, Ilmiah Populer

Share

Adi Fauzanto


Setelah kita memahami bagaimana memulai menulis, membaca berbagai literatur dan segala jenis karya tulis: esai; buku teori; buku kuliah; majalah; paper dalam jurnal ilmiah; hingga novel. Lalu harus apa lagi?

Jika kita ingin memperdalam terlebih dahulu–sebelum menulis, kita harus mengetahui jenis-jenis tulisan, dari mendasar hingga praktik.

Secara mendasar, menurut saya dibagi menjadi dua. Ilmiah dan non-ilmiah. Sebelum masuk lebih jauh, kita cari tau apa itu ilmiah?

Bagaimana kata ‘ilmiah’ pertama kali itu dikenal  oleh manusia. Ternyata, kata tersebut punya sejarah panjang dalam perjalanan hidup manusia. Dari situ kita dapat mencari juga yang tidak ilmiah, termasuk juga tulisan populer.

Sejarah Ilmiah

Sebelumnya, saya melakukan disclaimer –klaim, bahwa dalam hal menulis, saya tidak membuka text book. Tetapi berasal dari ingatan saya, ketika membaca buku, esai, dan karya tulis lainnya berkaitan dengan kemunculan kata ‘ilmiah’.

Bisa dibilang seperti Tan Malaka ketika menulis Madilog, dengan mengingat apa yang pernah Ia baca dan menggunakan metode jembatan keledainya.

Mula-mula, berdasar kepada Yuval, tentang peradaban sejarah manusia. Menurutnya terbagi atas beberapa revolusi, di antaranya revolusi kognitif, pertanian, dan sains. Manusia menggunakan pikirannya, tetapi masih dipengaruhi oleh Tuhan atau suatu hal yang dianggap percaya dan tunduk kepadanya.

Sebelum pra-socrates, hingga masuk ke dalam masa yunani klasik (kuno) era Aristoteles dan kawan-kawan terdapat hal mistik (dewa) yang biasa disebut mitologi Yunani. Baru setelahnya muncul apa itu logika (biasa disebut logika klasik) dan filsafat. Dari sini awal  peradaban dunia sains dan filsafat muncul.

Singkat cerita, saat peradaban Yunani runtuh, beberapa pemikir berpindah. Karya-karya Yunani dibawa ke beberapa daerah, termasuk daerah Islam. Inilah awal mula seorang rintisan pemikiran Islam berjaya, macam Ibn Rusyd (Andalusia, Spanyol), Ibn Sina (Timur Tengah), Ibn Khaldun.

Karya pemikiran Yunani diterjemahkan oleh bantuan para pemegang kekuasaan. Dan, dibaca oleh calon pemikir Islam–catat pentingnya kontribusi kekuasaan yang menyukai ilmu pengetahuan.

Di satu sisi, karya Yunani juga dibawa ke dataran Eropa Barat, saat itu dikuasai oleh kaum Katolik. Salah satu tokoh yang dikenal ialah Tomas Aquinas. Keduanya, baik Islam atau pun Katolik, filsafat Yunani sangat bercampur dengan hal berterkaitan agama. Zaman ini disebut abad pertengahan.

Karena sifat kekuasaan masih berbentuk kerajaan, ada sebuah peperangan yang terjadi yang terkenal dengan sebutan Perang Salib, antara Islam dan Katolik. Inilah awal mula munculnya Renaissance (kelahiran kembali), walaupun masih banyak faktor lagi seperti wabah black death.

Kemuakan terhadap agama Katolik berbalut kekuasaan kerajaan kala itu membatasi gerak pikir manusia, mendominasi kehidupan manusia, menjadikan manusia tidak mampu berpikir sendiri atas pikirannya. Itulah semangat awal pencerahan.

Salah satu perisitwa yang sangat iconic adalah peristiwa Galileo dan Galilei dihukum penguasa atas hasil olah pikir yang bertentangan dengan agama. Selain itu ada Descrates, dengan perkataan terkenalnya ‘aku berpiki, maka aku ada’. Serta beberapa lagi, Machiavelli salah satunya.

Lanjut saja, cerita sejarah terlalu panjang membosankan, tetapi itu memang tanggung jawab sebagai pengantar, untuk mendapatkan situasi ‘ilmiah’. Karakter pemikiran abad pertengahan yang mistik atau tidak terlihat, agama sebagai pusat argumen dan konklusi argumen.

Cara Kerja ‘Ilmiah’

Nah, kalau kita bicara Ilmiah, menurut saya yang berkembang hingga saat ini, ada rasionalisme (walaupun rasio juga tidak bisa dibilang cabang dari ilmiah) dan empirisme. Rasionalisme berangkat dari akal pikir manusia, bisa dibilang asumsi, lalu dibuktikan. Empirisme berangkat dari bukti, lalu dihimpun menjadi teori. Teori inilah nanti yang dibuktikan–ini cara kerja positivisme logisnya lingkaran Wina.

Contoh, ketika kita mau menulis menggunakan empirisme tentang korupsi Benur. Kita menemukan bukti adanya transaksi melalui sadap atau butki transfer atau bukti lainya, lalu kita kumpulkan bukti tersebut menjadi satu himpunan. Dari serangkaian itu, jadilah satu teori yang menyatakan kalau EP (Edy Prabowo) bersalah. Teori tersebut diujikan kembali dalam persidangan atau dengan diskusi atau sidang, dapat dipertahankan kalau EP bersalah. Inilah positivisme logis bekerja.

Jika merujuk bagaimana menulis menggunakan empirisme. Sederhananya, cari saja bukti nyata yang dapat kita lihat. Misal, ketika entitas hujan tinggi, lalu terjadi banjir, ada penyumbatan, jalanan beraspal dan selokan tidak berjalan. Lalu, dari bukti-bukti tadi, dapat disimpulkan bahwa, banjir disebabkan oleh jalan yang dicor aspal terlalu tinggi, sehingga menyebabkan selokan tidak sanggup menampung akhirnya menggenang. Ke depan, konsep perumahan, atau jalan-jalan diperlukan sistem yang terhubung dengan selokan, dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan untuk mencegah terjadinya bencana alam (misal: hujan besar).

Contoh lain, ketika kita mau menulis menggunakan rasionalisme, tentang kerusakan lingkungan. Dimulai dari berpikir bahwa aktivitas manusia akan menghasilkan kerusakan lingkungan. Semisal, adanya Omnibus Law dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Lalu dari situ kita buktikan, misal dengan aktivitas ekonomi manusia yang eksploitatif terhadap alam.

Contoh lain seperti melihat kondisi kita di hutan, dengan melihat pohon ditebang padahal pohon itu berfungsi sebagai rumah bagi mahluk hidup lainnya. Atau kita di kota, dengan melihat perkembangan dari hari ke hari, semakin memburuk cuacanya. Intinya dimulai dari asumsi pikiran kita, begitulah rasionalisme bekerja.

Menulis dengan menggunakan rasionalisme sangat sederhana. Misal, kita berpikir buruknya tata kota perumahan kita, apa yang kita pikirkan kita tuliskan. Nantinya, bukti-bukti akan bermunculan sendiri seiring dengan perjalanan waktu, atau buktinya sudah ada. Misal ketika banjir datang, dugaan tepat, selokan tidak berjalan, dan sebagainya.

Biasanya, ilmiah sering digunakan oleh lingkup kelompok sains. Karena mereka sangat mengagungkan bukti. Sedangkan di ranah sosial, mula-mulanya penuh spekulasi, walaupun ada juga berangkat dari keadaan empirisme. Inilah yang melahirkan statistik, empirisme diubah menjadi data-data berbentuk angka.

Non-Ilmiah, Populer

Saya tidak mengetahui banyak tentang hal ini. Tetapi mungkin yang dimaksud dengan populer, adalah mudah dibaca. Tetapi saya rasa sebuah ‘buku’ syarat utama adalah enak dibaca.

Istilah populer ini, lebih kepada selera pasar-pasar manusia Indonesia; yang tidak mau baca yang serius dengan istilah yang ribet; atau tidak suka karena sang penulis terlalu kaku seperti kebanyakan dosen kita menulis; atau karena latar belakang Indonesia memiliki kesukaan gaya baca Novel yang mendayu dan tidak terlalu serius, dan berlatar cerita.

Mari kita bertanya apa itu populer. Tentu dalam hal ini saya menempatkan karya sastra seperti novel dan cerita pendek di luar ini. Menurut saya sebuah novel karya sastra juga sebuah karya pemikiran. Dan, sebenarnya bisa masuk ke dalam ilmiah, baik rasionalisme atau empirisme yang gaya tulisannya ‘populer’ berbeda dengan ‘ilmiah’ pada umumnya.

Ilmiah Populer

Mari kita rumuskan. Mula-mula dari paham bagaimana ilmiah bekerja, dan bertanya bagaimana ‘tulisan non-ilmiah’ disukai ‘masyarakat kebanyakan’. Lalu bagaimana kita menggabungkan keduanya.

Kalau misal kita mengikuti gaya media The Conversation, yang mempopulerkan penulisan paper jurnal ilmiah para peneliti, menarik juga. Walaupun menurut saya hal tersebut agak dipaksakan. Saya lebih suka bagaimana peneliti dengan gaya khasnya sendiri pada sebuah kolom koran.

Ada juga media yang hampir seperti tulisan ilmiah –dengan mengutip beberapa penelitian, ada Tirto. Atau media yang banyak menghimpun data-data berbentuk statistik seperti Kompas dan Tempo. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan hal seperti ini, tetapi karena arus utama media sekarang sering menggunakan data dalam bentuk angka apalagi era digital seperti ini.

Percayalah, hal-hal di atas jangan dianggap ribet. Anggap saja sebagai proses tanya-jawab, yang mula-mula kita bertanya “Apa sih ilmiah itu?” Sama seperti di tulisan saya berjudul Perihal Memulai Menulis, yaitu bagaimana mula-mula kita bertanya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan