Perempuan dan Buku

Share

Adi Fauzanto


Sekali waktu ketika saya berada di toko buku. Saya melihat seorang perempuan di bilik buku ilmu pengetahuan kontemporer yang penulisnya menjadi perdebatan para ilmuwan, Richard Dawkins. Saya terkagum-kagum. Saya lantas berkhayal, jika saja perempuan dan buku tumbuh dan menjadi arus utama, bukan tidak mungkin bangsa ini menjadi lebih baik.

Tetapi saya salah. Pikiran saya salah. Saya masih berpikir perempuan sebagai objek. Dalam perkembangan dunia modern, peradaban manusia menjadi baik karena posisi manusia menjadi subjek yang utuh. Namun, pada kenyataannya tidak semua manusia, artinya hanya laki-laki yang menjadi arus utama, khususnya dalam ilmu pengetahuan.

Saya melihat di rak buku, hampir seluruhnya didominasi oleh penulis laki-laki. Kedepannya, perempuanlah yang mesti menjadi arus utama dalam dunia ilmu pengetahuan, dan ketika saya kembali ke toko buku itu, saya tidak melulu membaca penulis laki-laki.

Setelah saya berpikir seperti itu, saya harus memandang perempuan sebagai subjek, lalu saya hampiri dan mulai mengajak bicara. Bukan seperti kisah cinta-cinta yang menjijikan. Murni untuk bertanya terkait ilmu pengetahuan. Saya mulai berbicara dengan dia, seorang perempuan di toko buku.

“Kamu tahu dia ini siapa?” Saya bertanya sembari menyodorkan nama seorang penulis.

“Belum tahu secara menyeleruh, sih.” Jawabnya. “Tapi, orang ini menjadi perdebatan arus utama di dunia sains, karena dialah yang masih memegang prinsip Darwin.

Setelah saya berbicara lagi, ternyata perempuan itu seorang pustakawan. Saya makin takjub. Andai saja perpustakaan dapat berkembang pesat di seluruh aspek kehidupan di bangsa ini, bukan tidak mungkin bangsa ini akan mengalami kemajuan yang lebih ‘beradab’. Terlebih terdapat peran perempuan di sana.

Perempuan harus mengambil peran dalam arus kemajuan bangsa dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sebab, keduanya adalah simbol kemajuan bangsa ini. Kita punya hutang banyak sekali kepada keduanya: perempuan dan ilmu pengetahuan. Sekaranglah bangsa ini harus membayar.

Lebih jauh lagi, ke depan kita dapat membangun ketersalingan antara mahluk hidup, di mana setiap mahluk hidup dijadikan subjek; bukan hanya objek. Sebab, mahluk hidup memiliki perannya masing-masing dan punya hak untuk membangun relasi antara subjek–mahluk hidup. Tidak ada lagi dominasi oleh salah satunya.

Kita harus membangun prinsip ketersalingan dan kesetaraan dimulai dari diri sendiri. Terkhusus mereka yang memegang amanat suara keterwakilan para pemilihnya.

Sekian cerita pertemuan saya dengan seorang pustakawan perempuan. Semoga apa yang menjadikan bangsa ini beradab segera terjadi. Dengan bagaimana caranya, mari kita rumuskan bersama.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan