Peran Pemuda Setelah “Sumpah Pemuda”

Share

Aan Afriangga
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi


“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, dan beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Begitulah kira-kira, penggalan isi pidato luar biasa dari Presiden pertama kita, Ir. Soekarno.

Hari Sumpah Pemuda telah memasuki usia ke-92 tahun. Tidak terasa, bangsa ini sudah cukup jauh melangkahkan kakinya ke cakrawala dunia. Mulai dari melepaskan cengkraman kolonialisme yang dahulu sempat merampas, menindas, serta menguras kekayaan selama beratus-ratus tahun. Hingga akhirnya, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, silam.

Perjuangan melepas cengkraman para penjajah. Tak luput dari usaha dan cita-cita para pemuda. Kolaborasi golongan tua dan muda menjadi sebuah penanda, bahwa bangsa Indonesia sudah amat geram dengan tingkah laku para penjajahnya.

Sejak dahulu, peran generasi muda telah terbukti. Sepak terjangnya tak perlu diragukan. Pemuda menjadi inisiator-aktor pergerakan nasional. Kaum terdidik, garda terdepan pemberontakan dan kaum yang memupuk api perlawanan. Sekuat tenaga, mereka bersatu padu mengentaskan penindasan.

Dalam momentum Sumpah Pemuda beberapa hari kemarin. Para pemuda perlu merefleksikan kembali dirinya. Sejenak berkontemplasi. Melihat kembali apa saja yang sudah dilakukan, mengevaluasi segala kekurangan dan ketidakberhasilan kebijakan serta usaha untuk merealisasikannya.

Dengan begitu, sebagai seorang pemuda, kita bisa menentukan arah juang selanjutnya setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan 92 tahun silam.

Melihat Kembali Sosoknya

Mari kita lihat sejenak salah satu tokoh familiar yang berkaitan erat dengan hari Sumpah Pemuda. Tokoh yang terkenang karena dedikasinya, Mohammad Yamin sebagai salah satu diantara banyak tokoh lain. Tentu sudah banyak buku yang mengurai sepak terjangnya dan rangkaian proses tersebut.

Kongres Pemuda II, jelas bersejarah dengan adanya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Isinya begitu dahsyat. Mulai dari menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, berbangsa satu sebagai bangsa Indonesia, dan satu lagi terkait tanah air. “Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.” Di sinilah letak kehebatan Yamin (lihat Petrik Matanasi dalam tulisannya “Klaim Tanah Air dan Muka Gajah Mada ala Mohammad Yamin”, Tirto.id, 17 Oktober 2019).

Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903. Sejak kecil, ia mengenyam bangku pendidikan di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Minangkabau. Selepas itu, diasuh oleh Ayah dan Ibunya: Usman Baginda Khatib dan Siti Saadah. Dan, melanjutkan studinya ke Algemeene Middelbare School (AMS), atau setara dengan sekolah menengah di Kota Yogyakarta.

Dari sanalah, Yamin mempelajari Hukum di Recth Hooge School (RHS) atau dalam terjemahannya—Sekolah Tinggi Ilmu Hukum. Pada akhirnya, ia mendapat gelar Meester in de Recthen (Mr). Yamin merupakan seorang Sarjana yang pernah menerima gelar Sarjana Agung Mahaputera. Ia mendapatkan gelar tersebut dari Pemerintah, karena perannya sebagai seorang Negarawan juga Pujangga.

Lantas, apa yang perlu diteruskan oleh para pemuda atas daya upaya seorang Yamin?

Wujudkan Aksi, Bukan Sekedar Pergulatan Opini

Saya sempat berpikir, “Indonesia tidak kekurangan pemuda cerdas, pintar atau bijaksana. Tetapi, Indonesia sudah kekurangan pemuda yang mau mengutamakan bergerak atau bertindak.”

Senada dengan apa yang pernah dijabarkan oleh Wicaksana (2020:1), bahwa kematangan seseorang dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak di masyarakat sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Dewasa ini, pemuda Indonesia perlu mempertebal tindakan, bersedia menikmati proses perjuangan, dan konsisten terhadap apa yang ia perjuangkan.

Sehingga, momentum Sumpah Pemuda bisa lebih bermakna dan bukan hanya sekedar ikrar belaka—atau, peringatan semata, saya rasa.

Membangun Budaya Literasi Mandiri

Setelah kita menyerukan agar pemuda lebih aktif dan produktif. Tentu ada hal lainnya yang juga dirasa penting. Sudah banyak bukti menunjukan, banyak teks yang menceritakan bahwa para pendiri bangsa gemar membaca.

Bahkan, sejarah telah mencatat, bahwa bangsa Indonesia memiliki tokoh-tokoh hebat. Ternyata, kolonialisme tidak menghalangi mereka untuk menjadi manusia yang cerdas, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Mereka selalu mengobarkan perlawanan atas penindasan (Wicaksana, 2020:6).

Pemikiran tajam dan inovatif, disebabkan karena orang tersebut giat mengasahnya. Dan alat pengasah tersebut, ialah buku. Tidak dapat dipungkiri, bahwa era teknologi saat ini telepon pintar menjadi pemeran kunci dalam koridor literasi. Kadangkala ia bagaikan pisau bermata dua: jika kita bisa mengendalikannya, kita tidak akan bergantung kepadanya. Jika kita dikendalikan olehnya, kita akan begitu mudah, atau bahkan, bisa bergantung kepadanya.

Ada beragam cara memaknai Hari Sumpah Pemuda. Sebagai pemuda, kita bisa melakukan banyak hal. Selagi perbuatan kita sesuai pada koridor yang berlaku, apa yang perlu kita tunggu? Penting, apa pun yang kita lakukan bisa menghasilkan karya terlepas dari cara atau metode yang digunakan.

Selagi semangat kita masih termaktub di kepala. Lakukanlah. Jangan sungkan. Segera buat perubahan. Buat gagasan briliran disertai totalitas tindakan.

Sebagai pemuda, kita dapat meneruskan apa yang sudah diperjuangankan oleh Yamin dahulu, meskipun tujuan akhirny berbeda dengannya: menyatukan Bangsa Indonesia dengan menggunakan pemuda sebagai basis perjuangannya. Sekali lagi, Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-92 tahun.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan