Peran Keluarga dalam Penyelamatan Mimpi Anak

Share

Dion Kristian Cheraz Pardede
Mahasiswa Hukum


Anak adalah buah cinta dua insan manusia yang memutuskan untuk saling menyanggupi. Ketika keputusan untuk membangun keluarga diambil oleh tiap insan, hampir dipastikan bahwa hal itu disertai oleh kesadaran yang diikuti pembangunan kesiapan untuk mendampingi perkembangan dan pertumbuhan insan-insan baru.

Keluarga dalam hal ini rumah tangga adalah titik start dari tiap insan untuk menggapai mimpi dan ambil peran dalam lingkungan yang jauh lebih besar.

Keluarga dan kualitas hubungan di dalamnya akan berdampak besar dan sentral terhadap kemampuan anak untuk membangun visi dan mewujudkannya atau sebaliknya sebagai penghambat kemampuan anak dalam bercita-cita dan memaksanya untuk menguburnya.

Beberapa hari belakangan, media sosial Twitter dipenuhi perbincangan tentang anak laki-laki yang merajut benang dan pita. Awalnya, ia sering melihat aktivitas bibinya hingga akhirnya penasaran dan keasyikan belajar merajut dari siang hingga tengah malam. Ketekunan membuatnya mahir.

Sayang, ternyata Ibunya tak suka dengan bakat merajutnya. Sering kali rajutannya terpaksa tidak selesai bahkan lenyap dibuang sang Ibu yang marah. Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan.

Tak hanya marah dan membuang rajutannya, Ibunya bahkan meminta anaknya tak main benang dan pita lagi, karena Ibunya menganggap benang dan pita adalah mainan anak-anak perempuan. Menurut Ibunya, sebagai anak laki-laki, dia mestinya bermain sepak bola dan layangan seperti anak laki-laki lain sebayanya.

Sang bibi sebagaimana keterangan pada video yang tersebut, mengatakan bahwa keponakannya itu memang merupakan sosok anak laki-laki yang lembut.

Gemar merajut benang dan pita tidak lantas membuatnya menjadi ‘kurang laki-laki’. Bibinya menyebut ia hanya tak suka permainan yang melibatkan fisik, sehingga sering kali ia tertinggal dalam pelajaran olahraga di sekolah.

Di zaman ini (seharusnya) anak lebih leluasa dalam bercita-cita apapun itu. Anak laki-laki yang sejak duduk di bangku sekolah dasar sudah pandai menjahit/menyulam (seharusnya) sangat mungkin bercita-cita menjadi desainer ternama. Gadis kecil yang menggeluti seni bela diri sejak dini (seharusnya) tidak perlu khawatir untuk memutuskan menjadi atlet.

Untuk benar-benar merasakan keleluasan yang difasilitasi perkembangan zaman tersebut pastinya tidak bisa luput dari persiapan dan pembekalan serta motivasi dari orang-orang pertama yang anak kenal. Tentu saja keluarga.

Namun masih banyak keluarga yang membatasi kemerdekaan bercita-cita merujuk kepada stereotip lingkungan, bahkan ada pula yang memang sejak anak lahir sudah memproyeksikannya untuk menjadi begini dan begitu.

Gender yang Mengekang

Pengekangan anak dalam bercita-cita salah satunya sering didasarkan pada sesuai atau tidaknya minat dan bakat anak dengan gendernya. Masih banyak orang tua tak sudi jika anaknya memiliki minat dalam hal yang menurutnya bertentangan dengan gender si anak.

Memang harus kita akui lingkungan masyarakat yang menciptakan stereotip-stereotip semacam itu. Misalnya cap ‘banci’ akan disematkan kepada anak laki-laki yang memilih menjadi tukang jahit atau desainer, atau cap ‘tomboy’ kepada anak gadis atau wanita yang menjadi atlet taekwondo..

Stereotip tersebut sangat mungkin untuk membunuh dan mengubur impian anak bahkan mengganggu mentalitasnya. Sebenarnya, di sinilah peran keluarga khususnya orang tua untuk senantiasa mendorong anak untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya dan menjadi tempat bagi anak untuk menenangkan dan membebaskan diri dari stigma lingkungan.

Sayangnya, masih banyak orang tua yang lebih mengedepankan rasa malu, ketimbang memikirkan mentalitas anaknya di masa depan ketika di masa pertumbuhannya harus merelakan mimpinya dikubur oleh stereotip masyarakat.

Hal-hal demikian dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya agama, budaya, atau hal lain. Tetapi bukankah kebudayaan itu sendiri adalah proses yang tak akan pernah berhenti? Mengapa kita tidak berdialog saja mengenai hal ini? Dibanding mengabsolutkan stereotip.

Dari data Global Gender Gap Report 2020 dari World Economic Forum (WEF). Indonesia masih berada di posisi ke-85 dari 153 negara, dengan posisi yang lebih rendah dari Uganda, Thailand dan Rusia.

Posisi ini memang sudah membaik jika kita bandingkan dengan 5-10 tahun ke belakang. Namun, jika melihat salah satu fakta di atas jelas kita masih harus banyak berbenah.

Kehadiran Keluarga

Ketika lingkungan seolah berusaha menjadikan gender anak menjadi pengekang cita-citanya, maka keluarga yang merupakan tempat anak pulang haruslah dapat memeluknya dan meyakinkan bahwa dia dan cita-citanya berharga.

Akan sangat disayangkan ketika anak dan cita-citanya dipecundangi oleh lingkungan, orang tua atau keluarga malah turut memperdalam luka si anak.

Orang tua tidak harus menjadi terlalu permisif atau terlalu lepas tangan dalam mengasuh dan membesarkan anak. Dan jangan pula terlalu otoriter di mana anak diprogram bak robot dan menganggap penyampaian pendapat anak sebagai sebuah pembangkangan.

Pola asuh yang paling ideal dan relatif cocok dengan berbagai karakter anak adalah pola yang otoritatif disertai responsibilitas yang tinggi dari orang tua. Dengan kata lain tidak terlalu lepas tangan dan tidak terlalu mengekang.

Keterbukaan diskusi dan sifat yang tidak anti kritik dari orang tua akan memberi rasa aman dan nyaman pada anak dan pada saat yang sama anak tidak merasa tidak mendapat perhatian dari orang tuanya.

Saya pribadi bersyukur memiliki orang tua yang tidak terlalu mengekang walau tentu mereka punya harapan untuk menjadi begini dan begitu terhadap saya. Mungkin saya tidak akan duduk di Fakultas Hukum jika orang tua saya menerapkan pola asuh yang otoriter serta tidak terbuka akan pendapat.

Orang tua saya sedari saya kecil mengiginkan saya untuk menjadi angkatan bersenjata berangkat dari fakta bahwa kondisi ekonomi yag tidak terlalu baik. Tetapi dengan penjelasan saya dan ketidakegoisan mereka, saya bisa duduk di bangku yang sesuai dengan minat saya.

Pun haruslah begitu di keluarga lain. Sangatlah baik untuk tidak langsung menghentikan paksa mimpi anak hanya karena tidak sesuai kodrat gender atau bahkan sekadar menuruti keinginan lingkungan, tanpa mau mendengar dan memahami minat, bakat, dan kemauan anak.

Kita sebenarnya sudah melaju ke arah yang positif merujuk data di atas. Tentunya diskusi harus dibuka lebih luas lagi di segala lapisan masyarakat. Hal tersebut haruslah dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua dan anggota keluarga lain haruslah bersinergi untuk menciptakan keluarga yang demokratis dan pola asuh yang menempatkan orang tua sebagai pemimpin dan pengarah namun tidak otoriter.

Dengan demikian, keluarga sebagai wadah persiapan anak dalam menghadapi dunia tidak akan tinggal retorika. Bahkan akan lebih besar lagi, keluarga sebagai produsen agen-agen pembaru di tengah masyarakat.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

Tinggalkan Balasan