Pandemi Covid-19 bukan Alasan untuk Bercerai

Share

Ronaa Nisa’us


Perceraian di Indonesia semakin meningkat akibat adanya pandemi Covid-19. Namun, sebetulnya sudah sejak sebelum adanya pagebluk ini, angka perceraian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tentu, banyak faktor yang menyebabkan perceraian. Entah ketidakcocokan atau kekerasan.

Pada awal diberlakukan PSBB, angka perceraian masih di bawah 20 ribu. Pada Juni dan Juli 2020 angka perceraian meningkat menjadi 57 ribu. Bisa jadi para penggugat menumpuk pada bulan tersebut karena pada April dan Mei kantor pengadilan di tutup.

Faktor paling utama yang menyebabkan banyaknya perempuan berbondong-bondong ke pengadilan untuk menggugat perceraian adalah ekonomi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan banyak perusahaan bangkrut dan jutaan karyawan terkena PHK.

Menariknya, pada 28 Agustus 2020, kantor CNN Indonesia mengabarkan Kemenag merespons angka perceraian yang semakin meningkat. Direktur Bina KUA, Muharam Marzuki, menyarankan suami istri untuk memperbanyak mengaji untuk menekan kemungkinan perceraian. Menurutnya, dengan menguatkan faktor agama dalam rumah tangga bisa memperkuat ketahanan keluarga.

Solusi yang ditawarkan Muharram tidak disambut baik oleh masyarakat. Banyak sekali masyarakat yang menyangkal bahwa tidak lantas dengan ‘mengaji’ perceraian bisa dihentikan. Penyebabnya, berita itu tersebar dengan potongan gambar judul pada artikel. Padahal, jika dibaca secara utuh, artikel tersebut menunjukkan makna lain dari mengaji itu sendiri.

Kata mengaji dalam KBBI berarti membaca Alquran. Makna tersebut sudah jadi hal umum dan dimengerti oleh banyak orang. Namun, dalam kamus juga tertera arti lain, yaitu belajar atau mempelajari sesuatu.

Dalam artikel yang disiarkan oleh CNN Indonesia itu diterangkan bahwa, Muharram bermaksud mengajak para pasutri untuk giat mengaji untuk menguatkan sisi moral-spiritual rumah tangga. Sisi tersebut tidak bisa dipahami oleh satu pihak saja, melainkan semua pihak, baik istri maupun suami. Jika moral-spiritual itu kuat, perceraian dapat dicegah.

Namun, tidak semua pasutri mengerti bagaimana maksud menguatkan agama, karena rajin beribadah saja tidak cukup. Sepertinya, Muharram perlu sekali membahas detail apa saja ayat pada Alquran yang lebih spesifik membahas tentang kewajiban suami istri untuk mencegah perceraian agar pasutri dapat mempelajari dengan baik dan mengerti langkah apa yang sebaiknya mereka ambil.

Di sini, saya akan mencoba membantu Muharram menyebutkan beberapa ayat Alquran yang relevan untuk direnungkan lebih dalam.

Pertama, surat Ar-Rum ayat 21

“Dan dari tanda-tanda (keagungan)-Nya, Dia menciptakan untuk kamu pasangan kamu, dari jenis yang sama dengan kamu, agar kamu bisa memperoleh ketentraman di sisinya, dan Dia menjadikan di antara kamu (pasangan-pasangan) rasa saling cinta dan sayang. Sesungguhnya pada (semua) hal itu, ada tanda-tanda (keagungan Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.”

Ayat di atas menjelaskan tujuan Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Faqihudin Abdul Kodir dalam Qiro’ah Mubadalah menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari ketentraman (sakinah) dari pernikahan. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai tujuan yang sama yaitu mendapatkan ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan ini.

Tujuan ketentraman ini terkait dengan hal-hal biologis (jamal), ekonomi (mal), sosial (hasab), keluarga (nasab), dan moral-spiritual (din). Empat tujuan pertama sudah menjadi hal umum dalam pernikahan, tapi kualitas dan kuantitas bisa naik-turun.

Seperti misalnya, kecantikan bisa pudar seiring waktu berjalan. Suatu saat suami akan mendapatkan sang istri sudah tidak secantik waktu awal pernikahan, begitupun sebaliknya. Apalagi masalah ekonomi. Mereka tidak akan selalu berada di posisi ekonomi yang stabil. Ada kalanya ekonomi sedang turun, seperti pada masa pandemi seperti ini.

Kedua, surat Al-Ma’idah ayat 2

…Saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah saling tolong-menolong dalam hal dosa dan permusuhan…

Ayat di atas menjelaskan tentang saling tolong-menolong dalam kebaikan. Urusan ekonomi dalam rumah tangga pada umumnya adalah milik suami. Namun, demi menjaga bahtera rumah tangga tidak ada salahnya istri membantu suami untuk mencari penghasilan keluarga.

Ketiga, surat An-Nisaa’ ayat 1

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan atas nama-Nya kamu saling berbagi dan saling menjaga hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Ayat di atas menjelaskan Allah menyeru bertakwa kepada-Nya yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan agar saling berbagi dan menjaga hubungan silaturahim. Maka, baik suami maupun istri harus bersama-sama menjaga hubungan rumah tangga agar tetap baik.

Ketiga ayat di atas adalah beberapa ayat yang perlu direnungkan pasangan suami istri. Mulai dari tujuan adanya pernikahan, tolong-menolong, dan menjaga hubungan silaturahmi. Pada dasarnya, Allah tidak menyukai perceraian, meskipun hukumnya ‘boleh’.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan