Novel Hujan dan Sebuah Prediksi Alam di Era Modernitas

Share

Holy I. Wahyuni
Mahasiswa Universitas Airlangga


Hadirnya sebuah karya sastra tampaknya tidak berlebihan jika dikatakan menjadi angin segar dalam setiap ruang baca. Setiap karya sastra hadir untuk menyampaikan sebuah pesan atau misi. Menariknya, sastra dikemas dalam sajian diksi yang bernilai seni, lahir dari ruang imaji dan kontempelasi.

Sastra memiliki dua nilai estetika, estetika bahasa dan esetetika makna. Makna inilah yang kemudian menjadikan sastra berpotensi sebagai media dalam internalisasi nilai-nilai luhur.

Hal ini selaras dengan arti dari sastra atau su-sastra dalam bahasa Sansekerta. Su adalah indah, dan sastra adalah alat atau pengajaran. Edgar Allan Poe seorang penyair dan cerpenis Amerika juga memaknai sastra sebagai alat untuk mendidik atau mengajarkan sesuatu, dalam hal ini adalah hal-hal yang baik dan sarat akan keindahan.

Sekilas Novel Hujan-Tere Liye

Berbagai resensi tentang novel Hujan-Tere Liye, lebih menitikberatkan pada romantika antara tokoh Lail dan Esok yang menjadi tokoh sentra dalam novel. Tentang cinta, kepedihan, cemburu, pengorbanan dan kehilangan yang ingin dihapuskan oleh tokoh utama-Lail, dalam twist-plot yang menceritakan adanya alat untuk menghapus memori manusia pada prolog dan epilognya.

Sebagai penikmat karya sastra, sejak menamatkan novel ini, perhatian saya justru terarah pada unsur intrinsik latar keadaan lingkungan sang tokoh dan unsur ekstrinsik. Berupa nilai kontekstual dalam masyarakat yang coba diangkat oleh penulis, yakni nilai-nilai tentang hubungan manusia dan alam.

Di mana dalam novel digambarkan beberapa peristiwa seperti bencana alam, eksploitasi lingkungan, serta tindakan manusia modern yang mempengaruhi keadaan alam, baik tindakan penyelamatan maupun tindakan pengerusakan.

Sekilas tentang novel, cerita diawali dengan populasi manusia yang semakin membeludak, dan kejadian bencana besar yang secara signifikan berhasil memporak-porandakan beberapa kawasan negara. Bencana yang memiliki dampak luar biasa dan berkepanjangan, hingga membuat peristiwa hujan, momentum yang paling disukai oleh tokoh utama, berubah menjadi peristiwa mengerikan.

Saat air yang turun, rintiknya bersifat korosif terhadap setiap benda yang dikenainya. Hujanpun tak lagi ramah dan indah, langit yang tak lagi cerah dan senantiasa berubah-ubah, menjadi isyarat berontak alam yang tak kuat lagi menanggung beban kerapuhannya.

Ada hal menarik yang menjadikan novel ini penuh daya imaji serta fantasi. Yakni semua kejadian tersebut, terjadi saat dunia dan era digitalisasi berkembang sedemikian majunya. Alat-alat digital yang coba digambarkan, maupun pada penggambaran sarana pra sarana umum yang pengoperasiannya begitu menakjubkan. Saya jadi membayangkan, mungkin ini adalah zaman saat Doraemon benar-benar nyata adanya.

Sosok Doraemon itu memang ada. Tapi bukan robot kucing. Melainkan hadir dalam novel melalui otak-otak genius para ilmuan.

Termasuk tokoh Esok dalam cerita yang digambarkan sebagai sosok ilmuan genius dengan penemuan alat-alat mutahirnya. Salah satunya adalah sebuah kendaraan besar yang akan mengangkut manusia pindah ke planet lain yang masih bersahabat. Untuk menghindari kehancuran planet bumi yang semakin rapuh dan renta.

Fiksi Berangkat Bukan dari Kekosongan

Imajinasi penulis yang berlatar di tahun 2050-an, bukan tidak mungkin akan menjadi suatu hal yang tak lagi bersifat fantasi belaka. Tetapi akan nyata pada suatu saat nanti.

Jika tidak berlebihan, novel ini selayaknya sebuah prediksi dan gambaran, kondisi lingkungan di era modernitas, dalam menghadapi kondisi kerusakan semeseta. Semua pihak dengan kemajuan teknologi mampu menanganinya. Lingkungan berangsur pulih, namun bersifat sementara.

Sebab efek dari rekayasa-rekayasa teknologi manusia modern nyatanya memiliki dampak jangka panjang yang tak kalah merugikan alam. Itulah mengapa akhir cerita ini menggambarkan kejadian tentang kepindahan manusia ke planet lain.

Harjana (1991) mengungkapkan, sebuah karya sastra tidak pernah bermula dari kekosongan sosial, artinya karya sastra selalu memiliki segala aspek yang melatarbelakanginya.

Ketahanan alam, manusia, dan modernitas dalam siklus peradaban akan selalu beririsan dengan sebuah konsep tentang modernisasi ekologi. Apakah itu semua relevan dengan penyelamatan alam di era modernitas dengan hiruk pikuk industrialisasi dan teknologi yang akan semakin berkembang pesat?

Konsep Modernisasi Ekologi

Secara historis, era modern ditandai dengan lahirnya revolusi industri di Inggris pada abad ke-18. Di masa itu, manusia mulai menggunakan mesin untuk menghasilkan produk-produk industri.

Proses industrialisasi tersebut menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan. Fenomena ini memicu banyaknya kritik yang mengatakan bahwa kapitalisme dan medernisasi adalah penyumbang terbesar bagi kerusakan lingkungan.

Hal inilah yang kemudian mendorong lahirnya semangat pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek ekologis, yang kemudian oleh Joseph Huber dikenal dengan konsep modernisasi ekologi. Konsep ini menekankan bahwa pembangunan industri dapat diubah menjadi lebih ramah lingkungan melalui pengembangkan teknologi dan inovasi (Huber, 1985, dalam Mol, 1995).

Seperti tak lelah memutar otak, manusia modern kemudian mengimplikasikan konsep ini menjadi inspirasi lahirnya produk-produk ramah lingkungan.

Pada gilirannya industri mengubah pola produksi dan berlomba-lomba menyemarakkan jargon ramah lingkungan. maka pandangan sinis akan memicingkan mata dan mengujarkan kalimat Hajer, 1996 bahwa kerusakan lingkungan akan menjadi “dorongan dasar yang membuat mesin kapitalisme tetap dapat bekerja” (Wiranata, 2012).  

Menjadi pertanyaan mendasar, apakah konsep modernisasi mampu menjadi solusi kerusakan lingkungan?

Konsep modernisasi ekologi memang mendapat sambutan hangat dari masyarakat global. World Conservation Strategy, dalam laporan Brundland yang berjudul Our Common Future  di tahun 1987, dan Agenda 21 pada Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan yang diadakan di Rio de Janeiro pada tahun 1992 (Adams, 2001) juga mendukung penuh konsep ini. Konsep ini semakin membumi saat kemudian banyak mempengaruhi kebijakan industri di berbegai negara.

Fakta di Balik Konsep Modernisasi Ekologi

Seperti menjadi kebijakan yang seolah-olah, nyatanya konsep modernisasi ekologi menyimpan fakta yang terlihat bersahabat dengan alam, namun mengarah pada sebuah kepentingan mendasar: orientasi ekonomi. Sementara aspek ekologi, masih menjadi tujuan nomor dua, tiga, atau ke sekian adanya.

Dalam novel Hujan, digambarkan bagaimana dalam upaya penyelamatan lingkungan. Para elite global melirik ilmua-ilmuan yang dengan disiplin ilmunya dapat dimanfaatkan dalam menghasilkan produk-produk benefit untuk kebutuhan manusia yang tengah resah akan ketidakberpihakan semesta.

Sejalan dengan pengkritik dari mazhab neo-Marxis, perusahaan hanya akan memperhatikan konservasi lingkungan jika konservasi lingkungan tersebut berdampak positif terhadap akumulasi keuntungan mereka. Sebagai contoh, penambangan PT Freeport di Papua yang telah mencemari sungai setempat. Pencemaran sungai tersebut tidak memiliki hubungan dengan akumulasi keuntungan, maka pencemaran tersebut cenderung untuk dibiarkan (Wiranata, 2012).

Pelestarian Alam adalah Tugas Holistik

Kebaikan dari konsep modernisasi ekologi salah satunya adalah kemunculan semangat dan optimisme. Dalam pandangan sebagian kelompok masyarakat untuk memiliki kecenderungan dalam pola perilaku yang mengutamakan konsumsi terhadap produk-produk industri dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kemudian kita juga akan disuguhkan dengan adanya semarak upaya campaign yang menyuarakan kepedulian lingkungan. Terutama pada peringatan hari bumi, hari hutan, hari lingkungan hidup, atau hari besar lainnya.

Semakin disemarakkan juga oleh kemunculan komunitas-komunitas aktivis lingkungan yang tiada lelah dan bosan menjadi pioner bagi keselamatan lingkungan. Gerakan dari hal-hal kecil seperti 3R (reduce, reuse, recycle) juga menjadi terobosan menarik dimana-mana, lagi-lagi semata demi upaya penyelamatan semesta.

Pertanyaannya: apakah cukup? Pelestarian dan upaya penyelamatan lingkungan adalah tugas holistik. Banyak sekali stake holder  yang harus ikut terjun terlibat, sebab benteng kapitalisme dan industrialisasi yang hanya memperdulikan isi kantong sendiri adalah sebuah benteng kokoh yang sukar terjamah skenarionya.

Seperti dalam novel Hujan, digambarkan saat suasana politik negara-negara berupaya menghalalkan segala cara untuk mengintervensi semesta demi sebuah rasa nyaman dan kepentingan, maka di suatu kawasan wilayah ada pemimpin yang menolak dengan menitikberatkan pada pertimbangan ekologis jangka panjang. Gambaran ini dijelaskan dalam dialog seorang walikota:

“Secara pribadi, saya tidak sependapat dengan intervensi. Saya tidak paham dengan teknologi, saya hanya politisi. Tapi di keluarga kami, ada seorang ilmuwan yang saya pikir lebih pintar dibanding siapapun. Dia berpendapat tindakan intervensi mungkin baik dalam jangka pendek, tapi buruk untuk jangka panjang. Itu pendapat dari seorang ahli. Saya memercayainya.” (Liye, 2016: 221)

Pendapat tersebut memang berpengaruh bagi sebagian masyarakat yang dipimpinnya. Namun sayang, tak cukup kuat untuk mengubah skenario intervensi alam oleh pihak yang cakupannya lebih luas.

Alhasil, dalam novel diceritakan, iklim dan cuaca dengan mudah berubah-ubah akibat intervensi manusia modern, alih-alih untuk penyelamatan, namun berujung memberi ruang terhadap kerusakan pada efek jangka panjang.

Dari novel tersebut kita bisa refleksikan pada kondisi yang ada, memang upaya segelintir kelompok masyarakat saja dirasa belum cukup kuat dalam mengubah skenario kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, butuh sentuhan sistem dalam sebuah negara yang mendukung penuh kebijakan pro lingkungan. Ini sangat penting agar kehendak publik menjadi sejalan.

Poin penting di atas tentu saja tanpa menafikan bahwa hal-hal kecil yang diciptakan kelompok  masyarakat. Yakni oase di tengah gurun gersang. Maka, kontrol publik harus tetap digalakkan agar menjadi sorotan pertimbangan pemangku kebijakan.

Benar, dimulai dari hal kecil. Setidaknya, hal kecil itu, bisa menjadi sumber agar cahaya harapan pada keselamatan bumi masih tetap ada dan menyala.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: