“Muslim Asli” Versus “Muslim Status”

Share

Muhammad Fariz Febriansyah Sikumbang


Secara umum, penulis membagi dua tipe muslim di Indonesia, yaitu “muslim asli” dan “muslim status”. Sebelum pembaca salah mengartikan istilah tersebut, penulis akan menjelaskan argumentasi tentang siapa itu “muslim asli” dan “muslim status”.

“Muslim asli” adalah muslim yang telah membuktikan kebenaran Islam atas kesadaran dirinya sendiri melalui akal pikiran sendiri. Pencarian bukti bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Atau, tidak ada kebenaran selain Islam dibandingkan agama lain; membuktikan bahwa Islam merupakan jalan hidup terbaik bagi sang pencari bukti kebenaran.

“Muslim asli” memiliki sifat berpikir yang kritis, terutama yang berkaitan dengan agama. Ia tidak puas dengan suatu pernyataan sebelum menemukan kebenaran atas pernyataan itu.

Kebanyakan “muslim asli” berasal dari para mualaf. Hal ini karena memang mereka sudah membuktikan apa yang membuat agama Islam berbeda dengan agama mereka sebelumnya. Kebanyakan mualaf menemukan kebenaran Islam justru dari kitab suci agama mereka yang dulu.

Sebab, ternyata, kitab suci dua agama lain, yakni kitab Taurat dan Injil mempunyai kesamaan dalam aspek ketuhanan dengan Al-Quran: sama-sama mengajarkan tauhid.

Sedangkan “muslim status” adalah sebutan untuk muslim yang hanya menjadikan Islam sebagai status keagamaan saja. Mereka tidak benar-benar menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Kebanyakan, kelompok muslim ini lahir dari keluarga muslim, yang sedari kecil sudah beragama Islam. Sama seperti keluarganya.

Maka, mungkin saja beberapa dari “muslim status” belum membuktikan sendiri bahwa Islam adalah agama yang benar dibandingkan dengan agama lain. Sebab, biasanya, “muslim status” hanya mengikuti apa kata orang tua atau ustadz, tanpa mencari kebenaran di balik perkataan itu.

“Muslim status” cenderung memiliki sifat mudah terpengaruh akan pendapat dari orang lain. Dan, lebih bahaya lagi, muslim keturunan dapat mudah terpengaruh oleh doktrin agama lain. Hal ini karena memang mereka belum dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa Islam adalah agama yang benar dan jalan hidup.

Kita sebagai umat Islam Indonesia, kebanyakan masih bersifat “muslim status” atau populernya disebut muslim KTP. Banyak dari kita belum menemukan alasan mengapa kita beragama Islam atau mengapa Islam menjadi jalan hidup yang benar bagi kita.

Banyak bukti bahwa umat muslim Indonesia belum menyadari betapa pentingnya Islam dalam kehidupan mereka. Seperti pada bulan Ramadan, masih banyak umat muslim Indonesia yang tidak berpuasa. Padahal, mereka tidak ada udzur syar’iuntuk tidak berpuasa. Mereka tidak malu makan dan minum di depan umum, meski banyak orang berpuasa di sekitar mereka.

Tapi ingat, tidak semua “muslim status” persis seperti yang dijelaskan di atas. Sebagian “muslim status” sudah menyadari pentingnya Islam. Termasuk penulis sendiri. Kendati demikian, kebanyakan dari mereka memiliki kecenderungan hanya mencukupkan apa yang pendidik ajarkan, tanpa menguji sendiri kebenaran atas apa yang diajarkan.

Haruskah Menjadi Muslim Asli?                   

Menjadi “muslim asli” adalah keharusan. Sebab, tidak lengkap keimanan seorang muslim tanpa mengerti pentingnya Islam. Allah SWT juga mengajarkan kepada kita untuk berusaha mencari kebenaran Islam dari tanda-tanda yang telah Allah turunkan kepada kita. Allah Taa’la berfirman:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ ۚ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nuur: 46).

Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di , beliau menafsirkan ayat di atas, “Kami telah rahmati hamba Kami, Kami telah menurunkan kepada mereka ayat-ayat yang jelas yang mengandung maqashid syariah, adab yang terpuji, petunjuk yang lurus. Maka jalan yang lurus akan tampak jelas, akan tampak amal yang lurus dari amal yang sesat, akan tampak ilmu yang lurus dari ilmu yang sesat.

Kalau Al-Quran begitu jelas, tidak mungkin ada lagi syubhat dan kerancuan bagi orang yang menginginkan kebenaran. Sebab, Al-Quran turun dari Allah yang sempurna ilmu-Nya, sempurna rahmat-Nya, sempurna penjelasan-Nya. Maka itu, tak mungkin ada yang binasa dan tersesat dengan mempelajari Al-Quran.

Sudah jelas perintah Allah untuk mencari kebenaran Islam dalam ayat-ayat-Nya. Maka, kita sebagai umat muslim, apalagi “muslim status”, pantas kiranya mencari sebuah kebenaran akan agama yang kita peluk, agar kita sebagai seorang muslim tidak terombang-ambing pada kesesatan.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan