Murakami, Realitas, Identitas, dan Musik

Share

Sri Lestari
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surabaya


Butuh usaha lebih dari yang Anda kira untuk menamatkan novel Murakami.

Saya bukan penggemar Murakami garis keras karena belum semua karyanya saya baca. Baru dua separuh saja; Tsukuru Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya; Kronik Burung Pegas yang ngaudubilah tebalnya; dan Men Without Women.

Meski novel Murakami dicap sebagai sastra surealis, tapi membaca karyanya justru membuat saya sangat dekat dengan realitas sekaligus juga berjarak. Apa itu Surealis? Mengapa bisa sangat dekat sekaligus berjarak?

Surealisme menjadi sebuah gerakan di Eropa antara perang dunia I dan 2; gerakan seni dan sastra yang mendekonstruksi aliran rasionalisme. Mengawinkan antara realitas dan fantasi. Setidaknya, meski saya tidak membaca semua karya Murakami, tidak diragukan karyanya sangat kental dengan aliran ini.

Sah-sah saja Anda berargumen bahwa semua sastra adalah fantasi. Bukan realitas nyata yang setiap hari Anda jumpai. Ditambah semua karya sastra adalah rekaan. Konflik yang dibumbui semakin rumit melebihi beban hidup pembacanya. Bagian-bagian itulah yang barangkali membuat Anda keras kepala bahwa semua sastra adalah fantasi, titik.

Namun, bagi saya, Karya Murakami justru lebih absurd dari fantasi.

Sekadar bercerita kucing hilang, Murakami menulis novel yang tebalnya hampir seribu halaman. Atau, contoh lain, novel tentang warna, yang oleh Murakami dirangkai menjadi cerita yang rumit sekaligus makin membingungkan.

Segala identitas yang melekat pada tokoh yang diciptakannya selalu aneh. Sebut saja tokoh pada novel Kronik Burung Pegas, Toru Okada. Lelaki pengangguran yang kehilangan kucing. Demi mencari kucingnya, ia dipertemukan dengan orang-orang “aneh”. Belakangan ia tidak hanya kehilangan kucing saja, tetapi juga kehilangan istrinya.

Juga, Tsukuru, seseorang yang memiliki hobi berlama-lama di stasiun kereta, yang ternyata hanya namanya saja yang tidak bermakna warna, berbeda dengan nama teman-temannya.

Juga, tokoh-tokoh pria yang ada pada potongan cerita pendek Men Without Women. Sebut saja salah satunya, Kitaru, laki-laki asal Tokyo tapi selalu berbicara menggunakan dialek Kansai, selalu gagal ujian masuk kuliah, dan senang sekali menyanyikan lagu “Yesterday”-nya The Beatles.

Karakter lainnya, Kafuku yang justru dengan sengaja berteman dengan pria yang berselingkuh dengan istrinya. Ia berusaha keras untuk dekat agar bisa menemukan alasan mengapa mendiang istrinya mau berselingkuh dengan pria itu.

Tokoh rekaan Murakami memang memiliki karakter yang absurd.

Namun, anehnya saya justru merasa dekat dengan setiap tokoh dan jalan ceritanya. Absurditas tokoh-tokoh itu, justru lebih banyak berbicara tentang cairnya identitas.

Misalnya, kisah-kisah dalam Kronik Burung Pegas. Berawal dari renungan Toru Okada, Ia mempertanyakan tentang benarkah kamu merasa mengenal baik orang yang setiap hari bersamamu? Padahal mungkin saja ia menyembunyikan sesuatu, inti kepribadiannya yang tak pernah kamu tahu.

Renungannya itu muncul menyingkap segala kerumitan tentang istrinya, sisi gelap identitas istrinya yang tidak pernah ia ungkap sebelum akhirnya istrinya menghilang.

Pada novel yang sama, ada juga kisah tentang Kreta Kano, perempuan cenayan yang menyebut dirinya sebagai pelacur kesadaran. Cairnya identitas Kereta Kano terlihat dari tiga perubahan dirinya. Awalnya mengidap rasa sakit yang amat sangat, kemudian berubah tidak merasa sakit sama sekali, lalu berubah lagi setelah memutuskan untuk bersetubuh dengan Okada secara nyata, padahal sebelumnya ia selalu menyetubuhinya melalui mimpi. Setiap perubahan yang dialaminya selalu ditandai dengan perubahan nama.

Dalam kisah Tsukuru Tanpa Warna dan Ziarahnya, Murakami seolah hendak menerangkan bahwa identitas seseorang tidaklah tunggal, tapi hybrid.

Yang tak pernah kita sadari, kita menempelkan identitas pada keberadaan lingkungan sosial.

Murakami sedang menyimbolkan identitas sebagai warna, namun ia mengambil antitesisnya justru pada sosok Tsukuru, yang namanya memiliki arti tidak berwarna. Tsukuru dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang memiliki arti nama warna “Merah, Biru, dan Hitam” kecuali dirinya.

Namun, antitesa yang berlaku di sini adalah pria yang bernama Tanpa Warna itu, yang selama ini mempertanyakan arti namanya, yang merasa identitasnya diwarnai oleh teman-temannya itu, justru ialah sejatinya yang menentukan warna mereka. Tanpa warna yang mewarnai warna lainnya.

Hibriditas membawa kita menjadi manusia dengan beragam identitas. Hibiriditas bisa muncul pada seorang misalnya karena dia perempuan, suku jawa, anak seseorang, istri seseorang, berbahasa Indonesia, bermain media sosial, menyukai K-Pop. Itu semua identitas kita yang bercampur.

Ada pula tokoh ceritanya yang mencoba untuk melepaskan diri dari identitas yang melekat selama ini padanya. Seperti Kitaru atau Kafuku dalam Men Without Woman. Dialek Tokyo yang melekat padanya sejak lama, mati-matian ia ingin lepaskan agar tak lagi menjadi dirinya yang lama. Ia belajar dialek Kansai demi menjadi diri yang baru, padahal orang lain mati-matian ingin mampu berdialek Tokyo agar dianggap keren.

Seperti sosok Kitaru, kita selalu terjerembab pada apa yang menjadi tren daripada menjadi diri sendiri.

Tentang realitas, Murakami berhasil membuat saya meragukan apa yang nyata, apa yang benar.

Okada yang mengurung dirinya dalam sumur demi berpikir, aneh memang, tapi sejatinya menyajikan gambaran bahwa realitas sadar dan tidak sadar itu menyatu, keduanya samar-samar.

Persetubuhan Okada dan Kreta Kano dalam alam bahwa sadarnya tampak nyata, tapi justru sebaliknya ketika itu terjadi pada dunia sadarnya justru tidak nyata.

Itulah mengapa kadang kita perlu berpikir ulang tentang apa yang nyata dan tidak.

Seperti kata Murakami tentang kebenaran bahwa yang benar tidak harus sama dengan kenyataan, kenyataan tidak harus sama dengan kebenaran.

Persetubuhan yang Okada rasakan di alam bawah sadar justru tampak sebagai kebenaran. Namun, yang nyata ia alami secara sadar justru tampak tidak benar.

Sama seperti membaca novel-novel terjemahan lainnya, saya akan selalu merasa berjarak. Bagaimanapun, Murakami menyajikan realitas yang sangat dekat, namun jarak itu tak bisa dipersempit karena perbedaan budaya yang lebar.

Jarak menjadi semakin lebar bila berkaitan dengan musik yang kerap menjadi latar ceritanya. Misalnya, bagi seorang penikmat musik dangdut, latar musik itu menjadi sangat jauh dan tak terdengar.

Membaca karya Murakami ibarat upaya mengaktifkan segala indra. Telingalah yang seharusnya berfungsi ketika deskripsi latar musik dijabarkan dalam setiap ceritanya. Namun, telinga saya tak serta merta mampu mendengarkan musik itu. Padahal latar musik merupakan ciri khas Murakami dan tentu menentukan maksud cerita di dalamnya. Oleh karena itu, tidak memahami latar musiknya membuat pemahaman akan cerita terkadang gagal saya tangkap.

Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: