Mop: Sebuah Tradisi Anak Papua yang Harus Terus Dilakukan

Share

Nur Fahmi Nur


Saya sebenarnya tidak begitu tahu apa arti dari mop. Tapi, secara pengalaman, mop seperti orang yang sedang menceritakan hal lucu. Hampir sama dengan stand-up comedy, hanya saja, yang membedakan adalah bentuknya. Jika mop kebanyakan adalah fiksi, sedangkan stand-up comedy lebih kepada kenyataan, dengan ditambah bumbu-bumbu fiksi agar lebih lucu dan menghibur.

Ketika saya masih SMP, mop seperti hal rutin yang dilakukan. Walaupun bukan saya pelakunya, saya hanya pendengar. Teman saya, selalu menjadi pelaku utama. Setiap dia datang atau kita sedang kumpul-kumpul, pasti ada yang menyeletuk, “Ari, mop dulu kah?” Dan keluarlah mop-mop lucunya.

Saya tidak tahu apakah mop bisa relate dengan masyarakat Jawa atau masyarakat daerah lain. Mungkin bagi mereka bisa saja lucu, ketika seseorang mendengar logatnya. Namun, belum tentu dengan ceritanya. Karena memahami sebuah cerita tanpa kita tahu keadaan sebenarnya itu menjadi sangat susah.

Saya senang mendengarkan dan menonton stand-up comedy, dari situlah saya paham bahwa konsep berkomedi yang paling baik adalah bercerita tentang sesuatu yang dekat dengan kita, Atau kalau tidak berdekatan dengan kehidupan pendengar, si pelaku komedi harus membungkus komedinya dengan baik agar tersampaikan.

Salah satu komedian atau stand-up comedian yang bagi saya handal adalah Abdur Arsyad, komedia asal NTT. Ia sering membawakan cerita kehidupan masyarakat NTT kepada penonton yang notabene adalah masyarakat Jawa. Tapi caranya dalam membungkus cerita yang ciamik dan menarik membuat penonton merasa dekat bahkan hadir dalam kehidupan Abdur tersebut.

Mop yang identik dengan Papua, tentunya menggunakan pendekatan cerita yang sangat dekat dengan masyarakat Papua itu sendiri. Dulu, waktu masih kecil, saya merasa bahwa mop hanya sekadar cerita lucu-lucuan saja. Tapi, makin ke sini, saya yakin bahwa mop bukan hanya lucu-lucuan saja, tapi juga berisi kritik tentang kehidupan masyarakat Papua.

Saya punya beberapa MOP, maksudnya bukan buatan sendiri, tapi saya mendengarnya, mungkin sudah banyak juga yang mendengarkan karena sudah di parodikan dalam video, seperti ini:
Jadi ada anak satu ini, namanya Petrus. De kuliah di Jawa. De pu teman-teman semua kalau pergi kuliah naik mobil. Karena Petrus juga mau, akhirnya de telpon de pu Bapa di kampung,

Petrus: Bapa.
Bapa: Ada apa anak?
Petrus: Ini sa pu teman-teman kalo pergi kuliah, ada yang naik kuda, ada yang naik kijang.
Bapak: Ah iyo, kah?
Petrus: Iyo, Bapa
Bapa: Tenang saja anak, nanti Bapa kirim babi buat ko.

Lanjut MOP kedua

Jadi, 3 pace dong lagi nongkrong di pinggir pante. Dong ada bicara soal foto, karena ada pace dari Biak ini abis foto. Lalu dong baku banding-bandingkan antar foto daerah-daerah.

Pace Biak: Wee, tadi sa habis foto ya.
Pace Wamena: Oh. Iyo, kah? Mantap ee.
Pace Biak: Sa kasih tahu kam e, kalau di Biak foto itu, “Hari ini foto, besok baru jadi.”

Mendengar itu, pace Sorong tra mo kalah
Pace Sorong: Ah itu biasa. Kalau di Sorong toh, “Hari ini foto, hari ini jadi.”

Mendengar pace Sorong, pace Wamena satu ini de ganas, baru de balas
Pace Wamena: Aah itu juga biasa yaa. Kalau di Wamena toh, “Hari ini jadi, besok baru foto.”

*perbedaan nama dan daerah, saya sesuaikan dengan ingatan saya, kalau ada pembuat cerita yang membaca ini dan saya salah menggunakan nama atau daerah, mohon dimaafkan

Sepertinya tidak lucu kalau sekedar dituliskan. Maafkan saya.  Tapi dalam cerita-cerita di atas ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pencerita.

Yang pertama, tentunya pembangunan yang tidak merata di Papua. Sampai hari ini, kita masih bisa melihat bagaimana pembangunan di pulau berbentuk burung ini masih tertinggal. Sebenarnya bukan hanya di Papua, tapi saya ingin memfokuskan ke Papua terlebih dulu.

Bayangkan saja, di tengah pandemi seperti ini, banyak sekali yang harus sekolah online. Sedangkan di daerah Papua, apalagi yang tinggal di pegunungan, belum mendapatkan sinyal. Lantas, bagaimana mereka bisa belajar? Terbukti dari cerita Bapak saya, banyak mahasiswanya yang tidak bisa kuliah karena kembali ke kampung halamannya di gunung. Sedangkan di sana sinyal susah, atau bahkan mungkin saja tower jaringan tidak ada di sana.

Yang kedua, dari pembangunan yang tidak merata ini, akibat yang bermunculan banyak sekali. Salah satunya adalah pendidikan dan pengetahuan yang tidak merata juga. Bahkan anak SD saja tahu, bahwa kita harus foto dulu, baru bisa jadi. Tapi pace Wamena dalam mop di atas malah kebalikannya.

Cerita di atas hanyalah fiksi, tapi berisi kritik yang mendalam. Bahwa di Wamena, pendidikan belum berjalan dengan baik. Ada yang mengatakan, bahwa mop “3 pace berbicara soal foto” di atas disesuaikan dengan tingkat kemajuan daerahnya. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat, antara Biak dan Sorong, mana yang lebih maju. Atau mungkin malah bukan daerah itu, tapi saya gunakan saja Biak dan Sorong. Namun, yang paling saya ingat adalah daerah Wamena.

Karena kala itu, atau bahkan sampai saat ini, Wamena selalu mendapat posisi paling tertinggal dalam hal kemajuan dan pengetahuan. Sekali saya tegaskan itu cerita fiksi yang saya dengarkan dari orang lain. Tapi itu penuh dengan kritik keras bagi pembangunan negara Indonesia saat ini.

Seolah-olah si pencerita ingin menyampaikan, “Kok bisa ada orang yang berpikir seperti pace Wamena ini di tengah pembangunan yang terus berjalan seperti ini? Kok bisa ada orang yang berpikir seperti pace Wamena ini di tengah derasnya era globalisasi?”

Pada akhirnya, mop sebagai sebuah kebiasaan anak-anak Papua harus terus dilakukan. Mop harus terus diceritakan di antara kerumunan orang, di antara Bapak-bapak yang sedang jaga malam dan di manapun. Karena mop bukan hanya berisi lucu-lucuan, tapi berisi banyak gagasan akan kehidupan masyarakat Papua.

Mop harus terus dilestarikan bahkan kalau bisa di-nasional-kan bagusnya lagi di-dunia-kan, agar suara-suara minor yang jarang didengar, bisa didengar, diperhatikan dan dapat diambil tindakan–tapi jangan melalui pendekatan militer dong~

Bagi saya, yang hanya lahir dan besar selama 15 tahun di Papua, saya selalu berharap agar Papua selalu baik-baik saja, damai, sejahtera, dan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Dan saya segera bisa pulang ke sana lagi. Hehe


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan