Menjadi ‘Dora’ Dewasa yang Bisa Baca Peta

Share

*) Devi Wulandari Nur Fitria

Masih ingat serial kartun Dora The Explorer? Ya, serial kartun yang identik dengan anak perempuan berambut pendek dan suka berpetualang dengan kera kecil bernama Budd itu memang sudah jadi legend. Dora, si tokoh utama, selalu membawa ransel yang bisa bicara dan berisi banyak benda, termasuk benda paling berharganya, Peta!

Nah, nyambung soal Dora dan benda paling berharganya itu, saya selalu dituntut dosen untuk melafalkan kata ‘Peta’ dengan benar. Karena sejujurnya selama ini kita salah jika mengikuti pelafalan ‘Peta’ yang ada di serial Dora. Harusnya pengucapan huruf vokal ‘e’ dalam kata peta sama dengan kata ‘Senin’.

Terlepas dari kekeliruan ucap yang turun temurun itu, sesungguhnya serial Dora The Explorer punya banyak hikmah dan fakta psikologis. Dari Dora kita bisa belajar bahwa perempuan perlu belajar membaca peta dengan baik. Pertanyaan Dora “Kemanakah rute selanjutnya” merupakan fakta psikologis bahwa perempuan sulit membaca peta. Sehingga, tengara saya, perempuan punya ‘kecenderungan’ bertanya dibanding membaca peta dengan detail.

Peta merupakan tiruan pola muka bumi. Pembuatannya harus diperkirakan dengan kemampuan spasial yang baik. Kemampuan spasial adalah kemampuan menerjemahkan pernik keruangan yang ada di muka bumi beserta data analisis mengenai ruangan tersebut. Kemampuan spasial menjadikan seseorang mengenali posisinya dan nggak merasa bingung ketika berada di tempat baru.

Kemampuan ini banyak dimiliki kaum adam. Mereka mudah mengetahui kapan dan kemana mobil harus dibelokkan. Membaca peta adalah hal pertama yang dilakukan Kaum Adam ketika tersesat. Kemudian, mereka akan membaca secara bebas direksi yang ada dalam peta tersebut. Bagi kaum adam, ‘bertanya’ mengenai arah jalan adalah hal terakhir yang diupayakan, ketika tersesat.

Berbeda dengan perempuan yang cepat menyerah ketika membaca peta. Musdalifah Asis (2015) mengungkapkan, bahwa perempuan lebih cenderung berpikir logis daripada membayangkan secara mental perputaran objek dalam ruang ketika menyelesaikan masalah geometri terkait rotasi mental.

Kemampuan spasial memiliki kecenderungan berupa membayangkan objek secara mental. Jadi, akan terjadi analisis-analisis sederhana mengenai suatu tempat lewat proses pembayangan objek secara mental.

Dosen Kartografi saya menyebutnya “Mental map”. Mental map bisa didefinisikan sebagai daya imajinatif membaca peta untuk menghubungkan antara pola di permukaan bumi dengan pola yang ada di peta.

Maka sejatinya kemampuan membaca peta sangat penting agar kita nggak linglung di tempat baru. Direksi-direksi tempat yang ada di peta menjadi informasi penting untuk efisiensi waktu, tenaga, dan jarak perjalanan.

Nah, tapi gimana nih nasib perempuan yang sulit membaca peta? Sederhana, jadilah Dora dewasa tanpa mengurangi keterampilanmu bertanya.

Perempuan merupakan makhluk unik dengan 20.000 kata yang terucap dan terpikir tiap hari. Maka sesungguhnya, nggak ada salahnya ketika serial Dora The Explorer menyajikan gadis kecil yang gemar bertanya, karena kondisi psikologis perempuan memang menggiring perasaan ‘suka bertanya’ dibandingkan membaca peta.

Apakah anda termasuk perempuan yang nggak setuju dengan pendapat saya karena anda jago membaca peta?

Kalau anda nggak sepakat, sepertinya anda masuk ke dalam 15% perempuan yang dapat membaca peta dengan baik. Kemampuan spasial yang dimiliki perempuan sesungguhnya dapat sejajar dengan laki-laki bila perempuan tersebut ‘tomboy’ atau terlatih membaca peta.

Saya pernah nyentil teman-teman saya, “Perempuan, kalau nggak pandai nyetir setidaknya harus bisa jadi navigator supir, loh”. Namun, sentilan saya itu justru mempersulit kaum perempuan sendiri karena kemampuan spasial kami yang lemah.

Ya, bagaimanapun kemampuan spasial tetap penting, namun jangan salahkan ketika kami salah baca peta karena naluriahnya kami lebih pandai bertanya. Hoho.

*) Mahasiswi S1 Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan