Mengapa Tulisan Saya Buruk?

Share

Azhar Syahida
Penulis Lepas


Saya tidak sedang mendeklarasikan tulisan saya adalah yang terbaik. Saya justru tengah menggugat, mengapa tulisan saya tidak kunjung membaik.

***

Sekali waktu saya membaca artikel AS Laksana di Beritagar. Tulisan itu terbit dua tahun lalu. Tepatnya 28 Maret 2018. Judulnya nyentrik, menggugah selera pembaca seperti saya yang galau tulisannya tak kunjung membaik: Perihal Tulisan Buruk dan Bagaimana Memperbaikinya”.

Hingga kalimat terakhir saya membaca artikel tersebut, saya menemui satu kesalahan mendasar yang kemudian menjawab pertanyaan, mengapa tulisan saya buruk.

Dalam tulisan lebih dari seribu kata itu, AS Laksana mengutip percakapan Karl Anders Ericsson dengan Angela Duckworth, seorang psikolog Amerika, yang percakapan keduanya terabadikan dalam buku Grit: The Power of Passion and Perseverance, karya Duckworth.

Dalam percakapan tersebut, yang ditulis ulang secara verbatim oleh AS Laksana, terjawab mengapa seseorang tidak bisa menjadi ahli dan profesional di bidang tertentu sebagaimana seorang maestro yang mahir pada bidang keahlian khusus, kendati seseorang itu melakukan Latihan berpuluh ribu jam. Jawabannya bermuara pada apa yang disebut Ericsson sebagai Latihan dengan tujuan spesifik (deliberate practice).

Dalam penjelasan yang lebih ringan, deliberate practice adalah latihan secara terukur, intens, terkontrol, dan spesifik; fokus pada aspek-aspek teknis, mengulanginya berkali-kali, lalu menilaikan atau mengujikan karya pada seorang ahli. Boleh kita sebut orang tempat kita menilaikan atau mengujikan karya tersebut adalah ‘guru’.

Banyak orang berpuluh-puluh tahun menulis, tapi kualitas tulisannya tak kunjung membaik. Hanya kecepanan menulisnya yang berubah. Lebihnya tidak pada kualitas.

Hal itu, kata AS Laksana, seperti seorang pemain bulu tangkis kelas kampung yang bermain badminton setiap malam, tetapi tak pernah berhasil menyamai capaian pemain profesional yang belum tentu berlatih setiap hari.

Kiranya, ini jawaban mengapa tulisan kita (saya) buruk. Di luar itu, saya terfikir pokok persoalan lain yang juga menghambat kualitas tulisan, tanpa saya sadari.

***

Kurang lebih dua hari lalu, tetiba saya terfikir: boleh jadi tulisan saya buruk juga karena pola hidup. Khususnya pola hidup berkirim informasi melalui pesan pendek: SMS, Whatsapp, atau aplikasi gawai lain. Yang pasti aplikasi pesan pendek.

Terus terang saya tidak sedang menuduh aplikasi sebagai pusat kekeliruan. Tapi, kalau saya renung-renungkan, saya timang-timang, berbagi informasi dengan apa-apa yang serba ‘pendek’, membuat saya berbagi gagasan yang tidak lengkap. Padahal, satu syarat tulisan disebut baik terletak pada keutuhan gagasan.

Berkat pola hidup berpesan pendek pula, kita acap membalas pesan dengan cepat. Bahkan terlalu cepat. Ada kesan terburu-buru yang melekat di sana. Padahal, bisa jadi orang yang tengah mengirimkan pesan itu belum sepenuhnya selesai dengan informasi yang ia ingin utarakan.

Alhasil, kita sering terjerembap dalam pikiran yang sepotong-sepotong. Kita terkunci dalam kotak-kotak kalimat yang tidak lengkap.

Ini saya rasakan sendiri. Saya sering membalas pesan dengan kalimat-kalimat yang tidak bisa disebut sebagai satu paragraf yang solid.

Dalam pada ini, saya menengarai kebiasaan kita menggunakan pesan pendek untuk menyampaikan informasi, punya implikasi buruk pada kemampuan kita merangkai bangunan kalimat yang baik. Termasuk, kemampuan kita menggunakan konjungsi dengan tepat.

Di sini, kemampuan menyusun sebuah gagasan yang utuh, tidak lagi terasah. Kita sudah terjebak dalam kotak pesan ‘pendek’.

Terus terang, saya belum pernah merasakan sensasi berkirim surat secara manual, sehingga saya tidak bisa membuat perbandingan. Tapi, kalau saya perhatikan, proses penyampaian informasi melalui surat manual (tulis tangan atau pakai mesin tik) itu sungguh mengagumkan.

Dalam pesan manual (panjang), kita dilatih menyampaikan informasi dengan komplit. Orang yang menerima pesan diminta menunggu untuk dapat membaca keutuhan sebuah informasi. Lantas, setelah membaca pesan secara utuh, penerima pesan membalas juga dengan fikiran yang utuh. Saya kira ini menarik.

Saya kebetulan mengikuti Twitter Prof. Ariel Heryanto, salah seorang sosiolog Indonesia yang kini mengajar di Melbourne University, Australia. Ia beberapa kali mengunggah kiriman surat Pramoedya Ananta Toer dan Benedict Anderson.

Membacai surat-surat yang dikirimkan oleh Pram dan Ben Anderson kepada Prof. Ariel, saya merasakan keutuhan pesan. Ada kesakralan informasi di sana, sehingga si penerima pesan pun merasa perlu menyimpan baik-baik ‘fisik’ surat yang dikirim tersebut.

Ini berbeda sepenuhnya dengan medium pesan pendek yang terdapat di gawai. Yang acap kali, dengan mudah, kita menghapus pesan tanpa mengindahkan kepentingannya.

Dan memang sepertinya ragam serakan informasi dalam pesan pendek yang tidak pernah utuh, menjadi jejak informasi yang tidak lagi sakral dan menarik.

Saya tidak sepenuhnya mengerti, benar atau tidak, apa yang saya fikirkan ini—terutama tentang pesan pendek yang melemahkan kemampuan menulis saya. Yang pasti, saya menemui kesan setelah bertahun-tahun menggunakan aplikasi pesan pendek: kemampuan saya menggunakan tata bahasa yang baik, hilang. Bahkan, kemampuan saya menyusun gagasan yang runtut dalam beberapa paragraf yang utuh, luntur secara perlahan.

***

Ya, barangkali, dua hal di atas menjadi jawaban, mengapa tulisan saya buruk.

Menteng Dalam, 3 Mei 2020
Pukul 21.14 WIB

Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id


Tinggalkan Balasan