Mencari Peradaban Ilmu: Membangun Jiwa Kritisme di antara Saintisme dan Religiusme

Share

Adi Fauzanto


Hal yang paling utama ketika selesai membaca buku Sains “Religius” Agama “Saintifik” Dua Jalan Mencari Kebenaran, ialah menjadi penganut ‘garis keras’ di antara science atau ilmu pengetahuan –lebih tepatnya yang mengagungkan positivisme – dan penganut ‘garis keras’ religiusme; memegang agama sebagai salah satu pendekatan kehidupan, adalah berbahaya.

Hal tersebut digambarkan secara apik oleh Ulil Abshar dalam esainya berujudul Antara Sains dan Soto (2020), yang menggambarkan simbol perbedaan pandangan penyuka Soto Lamongan dan Soto Bangkong –sebuah makanan khas daerah di Indonesia.

Dalam buku ini, Ulil mengambil argumen falsifikasinya Karl Propper yang digagas untuk mengkritik gagasan lingkungan Wina terkait prinsip verifikasi, yaitu ketika membedakan antara ilmu pengetahuan empiris dan metafisika (Bertands, 2019). Ulil menggambarkan ketika para saintis berbeda pendapat –dan saling menyanggah– adalah sebuah hal biasa. Khusus pada hal ini, Ulil menggambarkannya lebih beradab.

Lalu Ulil menabrakkan penganut sains dengan kondisi pertentangannya lebih beradab, ketimbang penganut agama
–yang berbau metafisika– dan pertentangannya banyak menimbulkan konflik di antara yang berbeda pandangan.

Terlebih dia menyamakan menyamakan kondisi itu dengan perisitiwa Perang Dingin, di mana konflik keduanya diakibatkan karena dua ideologi dari mazhab sekuler: kapitalisme dan komunisme. Juga dengan Nasionalisme yang banyak menimbulkan konflik “tidak beradab” dari hal-hal yang terjadi –walaupun tidak semuanya– “tidak beradab”.

Hal tersebut dikarenakan agama, paham atau ideologi, dan bahkan negara dengan nasionalismenya merupakan The Ultimate Concern, Ulil meminjam istilah dari Paul Tillich, di mana ketiganya –terkhusus agama– masuk ke dalam manusia secara mendalam memengaruhi psyche, jiwa, dan emosi, karena menyangkut pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup.

Ulil lalu menggugat Sains, dengan pertanyaan, apakah Sains lebih beradab dari pada Ideologi (kapitalisme atau komunisme), negara (dengan nasionalismenya) dan secara khusus agama? Terlebih lagi dengan kerasnya gugatan Goenawan Mohammad dalam esainya, Sains dan Beberapa Masalahnya (2020), ketika menguji Sains yang tidak mampu bertanya dan kritis, mengambil contoh peristiwa Dr. Cipto Mangunkusumo pada saat wabah Pes di Kota Malang. 

Saya pun dengan yakin menggugat Sains dan para pelakunya (praktisinya) terutama para dokter yang tidak mampu kritis terhadap faktor ekonomi-politik yang terjadi di balik sebab musabab kenapa manusia bergerak. Sikap itu saya kukuhkan ketika selesai membaca hasil investigasi Majalah Tempo dalam Buku di Balik Investigasi Tempo (2017) dalam sub-bab judul Jejak Suap Resep Obat.

Tetapi kita juga tidak bisa menafikkan para pelaku Agama –para Ustadz– yang hanya menjadikan agama sebagai salah satu pendekatan, tidak bertanya kenapa sebab terjadinya suatu peristiwa terjadi. Juga yang tidak kritis, baik ke dalam dirinya atau pun kepada faktor-faktor di luar dirinya atau pun pada status-quo.

Maka, yang menjadi jalan tengah ialah keduanya harus tetap kritis, harus selalu bertanya dalam berbagai hal dan berbagai peristiwa yang terjadi, termasuk kepada dirinya. Tidak pongah, seperti penganut Sains garis keras yang tidak paham sebab-sebab di luar Sains Positivisme bergaya instrumentalis jika meminjam Mazhab Frankfurt (Sindhunata, 2019). Hal ini juga berlaku kepada para ustadz berkarakteristik garis keras terhadap norma –cenderung tekstualis– yang telah diatur dan tidak mampu bertanya kepada faktor-faktor sebab terjadinya suatu peristiwa.

Ketimbang memilih moderat, sebagai jalan tengah menerima segala yang terjadi, dan membiarkannya: seperti yang saya interpretasikan pandangan Ulil dalam Esainya yang saya bahas Antara Sains dan Soto. Dia lebih menekankan bahwa tidak apa terjadi perbedaan di antara penyuka Soto, asalkan tidak terjadi saling baku hantam. Hal ini nantinya tidak mengantarkan kita pada dialektika suatu pertentangan substantif. Maka sikap kritis harus disandingkan dengan sikap moderat.

Mengapa Karl Popper mampu memberikan kritik keras
–walaupun ada beberapa tafsir malah menambah metode dalam Positivisme yaitu Falsifikasi –terhadap para pengagung Positivisme Logis di lingkungan Wina? Mengapa Dr. Cipto Mangunkusumo tidak ingin mengikuti para saintis dokter– Belanda dan memilih untuk turun langsung kepada masyarakat terdampak wabah Pes di Malang? Atau mengapa Muhammad sebagai seorang Nabi Islam yang “progresif” mampu menghapus krisis kepercayaan masyarakat terhadap penyembah material berupa patung? Dan mampu memerdekakan buruh dari pemiliknya –manusia menjadi properti kepemilikan– yang menindas? Atau beberapa para pemikir, untuk mempertanyakan kembali posisi status-quo yang dominan?

Dalam mencari peradaban ilmu yang katanya ‘saintifik’ dan ber‘moral’, harus disertai dengan jiwa kritis yang mampu bertanya dan merefleksikan segala hal, baik materi (yang terlihat) ataupun non-materi atau metafisika (tidak terlihat). Terkhusus, mencari sebab-sebab material (yang terlihat dan berwujud), kenapa dan apa yang menjadi penggerak suatu perisitiwa atau fenomena itu terjadi –dalam hal ini fenomenanya ialah tidak terjadinya peradaban ilmu. Selanjutnya adalah mampu berpikir hal-hal yang bertentangan dalam peristiwa atau fenomena tersebut –dalam ini berfikir peradaban ilmu dan pertentangnnya yaitu peradaban barbar atau kehancuran. Yang terakhir ialah mampu memberikan suatu perubahan peristiwa atau fenemona yang menjadi hasil kesimpulannya –dalam hal ini mewujudkan peradaban ilmu tersebut.

Sehingga, dari peradaban ilmu muncul seperti apa yang dikatakan Ulil dalam esainya berujudul Perlunya Beragama yang “Intelek” (2020), di mana Ulil mengambil sosok etika intelektual dari Cak Nur atau Nurcholis Madjid yang mampu berjalan di atas dan melampaui status-quo. Tetapi yang menjadi pertanyaan dan tantangannya ialah, bagaimana membumikan etika intelektual seperti itu? Sehingga kelak nantinya tidak berdasar kepada satu tokoh, tetapi bagaimana ia (etika intelektual) membumi di atas peradaban ilmu. 


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan