Memulai dengan Tanya

Share

Didin Mujahidin
Pemred Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Menjalani hidup tanpa alasan kuat seperti berjalan pelan menuju jurang. Nyaman tanpa tanjakan, namun membinasakan. Mungkin, hanya keberuntungan yang bisa menyelamatkan.

Semoga semua diberi peruntungan, bebas dari penyesalan. Berdoa saja.

Banyak orang menjalani hidup dengan asal jalan, berharap suatu saat bertemu apa yang ingin dicapai. Itu sah saja, dalam urusan hidup tidak ada yang berhak menghakimi pilihan seseorang.

Hanya, sebagai manusia seutuhnya. Ada nalar dan intuisi yang mendampingi perjalanan hidup. Dengan begitu, dapat dipastikan, semua manusia punya alasan dalam memilih jalan hidup. Dalam alasan itulah yang seharusnya diperdalam. Bisa dilakukan dengan membuat sebuah pertanyaan pada diri sendiri.

Seorang tokoh Simon Sinek menjelaskan perbedaan seorang pemimpin yang memulai sesuatu dengan “apa” dan “mengapa”. Tanpa alasan yang kuat, seorang tak dapat bertindak dengan kuat dan gigih.

Sebaliknya, saat alasan ‘mengapa’ ditemukan, tindakan dan strategi dapat dirinci hingga risiko paling buruk yang bisa terjadi. Saat rencana tak berjalan semestinya, kekecewaan tidak akan timbul membabi buta sebab mengerti penyebabnya.

Start with Why yang dikemukakan Sinek banyak diterapkan dalam dunia bisnis. Tidak salah juga jika teori ini diterapkan dalam membangun kepribadian. Agar perjuangan bertahan lama dan hidup lebih bermakna.

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam memulai dengan tanya. Ada 4 pertanyaan yang menjadi kunci utama dalam menentukan perjalanan hidup ke depan: mengapa, bagaimana, apa dan kapan.

Setidaknya, meski belum sempurna, penjelasan berikut dapat memberi pemicu awal. Agar hidup lebih beralasan.

Mengapa?

Jika bertanya pada diri sendiri tentang siapa kita dan mengapa kita ada? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sulit muncul. Justru timbul pertanyaan baru. Misal, “Iya ya, mengapa demikian?”

Banyak dari kita yang memang tidak mengenal diri sendiri. Saat diminta menjelaskan diri sendiri. Hanya nama, tanggal lahir dan jenis kelamin yang berhasil dijawab dengan tepat. Selebihnya hanya mengira.

Memulai menentukan tujuan hidup dengan pertanyaan ‘mengapa’ menjadi kunci perjalanan selanjutnya. Kita akan dibawa menyelam jauh untuk mengerti diri sendiri.

Setelah tuntas akan diri, pertanyaan mengapa tersebut ditujukan pada tujuan hidup ke depan. Jadi, pertanyaan yang tepat tentang masa depan bukanlah apa cita-citamu di masa depan. Melainkan, mengapa kamu ingin mengejar cita-cita tersebut?

Jawaban atas mengapa akan membawa jalan kita lebih bermakna. Berjuang dengan alasan bukan sebatas mencari pencapaian.

Oleh sebab itu, jika ada yang berkata “aku mencintaimu tanpa alasan”. Cintanya tidaklah dalam, hanya kekaguman belaka dan tidak bertahan lama. Maka, jangan percaya.

Bagaimana?

Setelah disibukkan dengan pencarian jawaban atas mengapa, tahap berikutnya adalah mendefinisikan jawaban tersebut menjadi sebuah cara atau strategi.

Dalam menjawab pertanyaan mengapa, boleh saja jawabannya melangit menjulang tinggi. Namun dalam pertanyaan bagaimana, jawabannya harus logis dan dapat disusun rapi sebagai cara mencapai tujuan.

Kata seorang teman, setia pada tujuan, merdeka dalam cara. Kita diajak berpikir sistematis dan efektif dalam menjawab pertanyaan kedua ini. Sebab cara dan strategi menentukan langkah besar yang hendak dilakukan.

Semacam panduan dalam bertindak. Proses merancang strategi tidak boleh sembarangan. Lebih baik gagal merencanakan dari pada merencanakan kegagalan.

Memang kegagalan dapat dengan mudah diulang. Tapi waktu tidak pernah berlajalan mundur, terus berjalan. Tak pernah peduli bagaimana memanfaatkannya.

24 jam setiap manusia pasti sama. Perbedaannya terletak di pengguna.

Apa?

Apa? Ya, tindakan apa yang harus segera dilakukan setelah mengetahui alasan dan memiliki strategi.

Di sinilah perjuangan akan diuji. Seberapa kuat alasan kita menentukan suatu hal akan terlihat. Daya tahan terus diuji melalui berbagai tantangan.

Rancangan strategi akan menemui kenyataan, semakin efektif atau lebih melelahkan jalan ke depan. Apa yang seharusnya dilakukan, apa yang sebaiknya diterapkan, apalagi yang belum dilaksanakan. Dan, masih banyak lagi ‘apa’ yang semestinya dikerjakan.

Kelebihan dari memulai dengan tanya, saat sampai pada tahap ‘apa’ menemukan sebuah masalah. Tinggal ditinjau kembali cara dan strategi yang telah dirancang. Jika masih saja bermasalah, mungkin alasan memilih tujuan dari tindakan tersebut kurang tepat dan tidak memiliki alasan yang kuat.

Kapan?

Ketepatan waktu dalam bertindak memiliki peran cukup signifikan. Momentum tak dapat berulang. Hembusan angin dari Tuhan dapat mendorong atau melambatkan laju tindakan.

Teman baik di sebuah kedai pernah berkata, menunda tidak selalu buruk. Ada hal-hal yang lebih baik diundur agar mendapat hasil yang tepat.

Memulai dengan tanya akan membawa kita pada jalan yang lebih tenang. Menjadi manusia tanpa diburu pencapaian. Napas dan tenaga kita tak akan cepat terkuras habis. Sebab yang cepat dan instan jarang bermakna, tetap proses yang utama.

Sebagai manusia, Tuhan tidak pernah meminta kita untuk menjadi penguasa dunia. Pesan Tuhan adalah menjadikan pemimpin tiap umatnya. Pemimpin diri sendiri yang utama. Setelahnya memimpin sesama manusia.

Pemimpin dan penguasa jelas berbeda. Pemimpin akan mengayomi semua, penguasa ingin menjadi yang paling utama tiada tara. Banyak kepuasan semu yang sering menipu manusia. Iming-iming hal besar dan kepuasan yang ternyata tidak bertahan lama.

Lihat saja layang-layang yang dengan sengaja diterbangkan karena ingin menjadi raja di udara. Bersusah payah memutus lainnya agar menjadi penguasa. Setelahnya merana, sebab ia hanya seorang diri di udara. Hidupnya jadi hampa, tanpa warna.

Sudah, saatnya menemukan alasan “mengapa” kita harus ini dan itu. Simpan saja jawabannya, tidak semua orang harus mengerti.

Mengingat perjalanan hidup bukan sependek perlombaan lari sprint. Perjalanan hidup layaknya perlombaan lari marathon. Ada yang lebih penting dari sekedar kecepatan. Strategi agar mencapai garis finis lebih diutamakan.

Perihal mencapai tujuan seolah lari estafet. Tiap manusia pasti memiliki tujuan, kadang kita terlalu memaksa untuk menggapai semuanya sendiri. Dalam hidup ada hal yang tidak bisa kita tempuh sendiri. Perjalanan panjang menuju tujuan besar baiknya dilakukan bersama.

Jika sepanjang hidup keinginan tersebut belum tercapai, ada generasi berikutnya yang meneruskan perjalanan. Sejatinya semua hanya titipan.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


Tinggalkan Balasan