Lulus dengan Prasangka

Share

Chusnus Tsuroyya


Dulu, saya kurang percaya dengan perkataan yang mengatakan kalau Allah bersama prasangka, pikiran dan anggapan hamba-Nya.

Begini, ketika kita berprasangka buruk terhadap sesuatu, tetapi ternyata kehendak Allah baik, maka prasangka buruk kita tidak akan terjadi. Dan semuanya akan menjadi baik-baik saja, bukan? Begitu juga sebaliknya.

Namun, kini saya percaya. Jika Allah memang bersama prasangka hamba-Nya.

Ketika memasuki semester pertengahan, sekitar semester tiga atau empat, sempat terlintas dalam pikiran kalau saya tidak ingin lulus cepat-cepat. Lalu, saya utarakanlah pikiran ini ke Mbak saya, “Mbak, koyone aku gak pengin lulus cepet-cepet, deh. Gak pengin cumlaude barang. Lulus petang tahun punjul lak yo gak opo-opo, to?”

Karena saya pikir, sebelum lulus, saya masih bisa melakukan hal-hal yang saya suka, memperbanyak pengalaman dari sana dan sini. Dan, yang paling penting, kata banyak orang, cumlaude atau tidak, lulus cepat atau lambat, setiap orang punya rezekinya masing-masing. Iya to?

Pikiran tersebut lama-lama sudah tertanam dalam diri saya macam sugesti dan sudah terefleksi dalam perbuatan. Apa pun yang saya lakukan, saya selalu membuat pembenaran kalau-kalau saya tidak akan lulus selama 3,5 tahun.

Dan benar saja. Sampai hari ini pun, saya baru bisa menyelesaikan masa studi saya selama 4 tahun lebih 1 bulan.

Kemudian, ketika memasuki semester tujuh, saya sudah dihujani berbagai macam pertanyaan seputar skripsi dan kelulusan.

“Gek ndang nggarap skripsi!”
“Kapan meh nggarap skrispi?”
“Kapan sempro?”
“Kok skripsimu gak mari-mari, to?”
“Kiro-kiro kapan awakmu lulus?”

Kira-kira begitu pertanyaan yang sering muncul. Kalau kepepet dan tidak bisa dibalas dengan senyuman, mau tidak mau harus dijawab dengan kalimat yang optimis.

Namun, untuk urusan skripsi, saya adalah orang yang idealis. Jauh sebelum memulai menggarap skripsi, saya memang sudah memiliki harapan yang amat tinggi terhadap skripsi saya ke depannya. Saya ingin, skripsi saya ini jadi penelitian yang berguna bagi khalayak ramai. Saya ingin, skripsi saya jadi terobosan baru. Saya ingin, skirpsi saya bisa menjadi pertimbangan bagi para pembuat kebijakan. Ceilah.

Jadi, kalau mengerjakan skripsi dalam jangka waktu yang lama pun gak masalah. Asal, skripsi saya bisa menjadi hasil penelitian yang paling bagus dan berguna bagi masyarakat dan negara. Duh, ndakik banget.

Ketika ada yang bilang kenapa skripsi saya tak kunjung selesai, saya dengan santai menjawab, “Skripsiku bakal e dadi apik, makane gak mari-mari.”

Tapi kemudian, saya lupa, kalau ternyata indikator skrispi yang bagus adalah skripsi yang selesai. Begitu kata salah satu teman saya.

“Skripsi iku gak usah bagus-bagus, Nun. Masio akeh revisi terus pas kompre dibabat mati-matian ambek sak majelis, tapi nek uwis disahno, yo uwis. Wis mari iku skripsimu.”

Dan, ketika ditanya tentang kapan lulus, tidak tahu kenapa, saya sontak dan asal menjawab dengan nada meyakinkan, “Bulan September.” Spontan saja saya menjawab dan menembak pada bulan itu. Karena sebetulnya, saya pun tidak yakin akan lulus kapan dan berapa lama lagi saya akan lulus.

Lagi-lagi, semua pikiran, anggapan dan perkataan saya itu, benar adanya. Ya, meskipun akhirnya skripsi saya tidak menjadi skripsi yang paling bagus seperti yang saya inginkan. Setidaknya saya benar-benar lulus di bulan September.

Terhitung sejak sempro di bulan Desember hingga bulan September, 9 bulan lamanya, skripsi saya akhirnya bisa selesai hingga sidang dilaksanakan. Dan bulan September, menjadi bulan penutup yang mengakhiri masa studi saya.

Dari sini, akhirnya saya sadar. Anggapan dan pikiran saya yang begitu itu, bisa menjadi boomerang bagi saya.

Ketika semua teman-teman saya sudah sidang, saya masih berkutat dengan laptop, mengerjakan revisi dari dosen. Ketika teman-teman saya sudah bekerja dan berhasil melanjutkan S2-nya, saya justru masih harus membuat presentasi untuk sidang.

Dalam kondisi inilah, saya menyadari, bahwa prasangka dan pikiran saya bisa menjadi kenyataan. Andaikan saja saya bisa lebih berprasangka baik terhadap diri saya sendiri, bisa saja saat ini saya sudah bekerja atau sudah bisa melanjutkan S2. Ah, sialan memang.

Tapi, meski begitu, saya tidak lantas merasa kecewa. Saya jadi bisa mengambil secuil hikmah. Bagaimana pun keadaannya di masa yang akan datang, saya harus memiliki prasangka yang baik atas diri saya dan atas hidup saya sendiri.

Saya juga tidak lantas menyalahkan diri sendiri dan merasa sendiri karena di antara banyak teman, hanya saya yang belum lulus dan belum mendapatkan penghidupan yang layak. Malahan, sekarang saya jadi tahu, kalau saya tidak benar-benar sendiri. Allah bersama saya. Setidaknya, Allah membersamai prasangka saya.

Toh, akhirnya saya bisa lulus. Lulus sesuai dengan prasangka saya. Tidak dapat predikat cumlaude, lebih dari 4 tahun meski hanya 1 bulan dan lulus di bulan September.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan