Lathi: Semantik Perlawanan atas Kuasa Maskulinitas

Share

Holy I. Wahyuni
Pegiat Kajian Gender


Belantika musik tanah air sedang diberi sentuhan warna baru oleh kehadiran sebuah lagu yang mencoba memadukan musik kontemporer berbahasa Inggris dengan iringan gamelan dan lirik berbahasa Jawa.

Lathi, yang digagas oleh Weird Genius Ft. Sara Fajira tampaknya berhasil menjadi playlist favorit dan menyita banyak perhatian publik. Hingga hari ini saja (8/6), jumlah viewer di official music video akun YouTube Weird Genius sudah menembus angka empat puluh lima juta. Sungguh pencapaian yang fantastis.

Tidak dapat dipungkiri, popularitas Lathi juga ditunjang dengan viralnya Lathi challenge yang diperankan sebagian besar dari kalangan perempuan. Video Lathi challenge ini tak kalah memenuhi jagad sosial media yang menuntut kreativitas netizen saat masih dalam suasana di rumah saja.

Sebenarnya apa sih yang menjadi daya tarik dan keistimewaan lagu Lathi. Mengacu pada kacamata pandang saya sebagai penikmat seni, Lathi memang memiliki sisi yang berbeda, lain dari yang lain, dan kalau boleh saya katakan istimewa.

Keistimewaan ini tentu saja secara keseluruhan berasal dari semua komponen dalam musiknya, keunikan perpaduan modern-tradisional, lirik dwi bahasa, kemampuan penyanyinya dalam membawakan lagu, visualisasinya, dan tentu saja pesan yang ingin disampaikan dalam cerita.

Lathi berhasil memberikan angin segar pada perkembangan musik tanah air dalam penggambaran citra baru perempuan yang selama ini dikontruski sedemikian rupa oleh budaya masyarakat patriarki dan kepentingan industrial.

Seperti yang kita tahu dan telah dijelaskan oleh penggagas lagu Lathi, Weird Genius melalui wawancara di sebuah akun YouTube, lagu Lathi menceritakan tentang perempuan yang terbelenggu oleh toxic relationship. Perempuan yang dikendalikan oleh kuasa maskulinitas dalam sebuah hubungan asmara.

Pemandangan seperti ini memang relevan dengan fenomena yang terjadi di sekitar kita, tatkala perempuan seringkali menjadi korban dari subordinasi dan penindasan berulang, naas, perempuan seringkali tak mampu bersuara untuk keluar dari zona toxic-nya hingga lebih memilih akur meratapi dan menikmati ketertindasannya sampai benar-benar hancur pada titik terendah.  

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for


Never wanted this kind of pain
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know
(Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi)


Dua bait di atas adalah reffrein dari lirik lagu Lathi yang mencoba menciptakan titik balik perubahan dengan penggambaran bentuk perlawanan perempuan keluar dari zona toxic-nya.

Di sinilah point yang mengundang sorotan dan apresiasi publik, yakni pada penggunaan simbol perubahan wujud perempuan yang tadinya cantik mempesona dan lemah menjadi penuh kekuatan, mengerikan, dikuasai amarah dengan aura hitam yang menyertainya. Namun, akhirnya berhasil melawan hingga menjatuhkan pria yang membelenggunya.

Mencuatnya penggunaan simbol ini ke publik akhirnya memicu viralnya Lathi challenge dengan penggambaran serupa, yakni sosok perempuan yang kuat, mengerikan, dan penuh amarah. Timbulnya like dan dislike serta pro kontra tentu tidak bisa disangkal mengiringi popularitas Lathi. Mulai dari pelabelan Lathi yang diduga mengandung simbol pemujaan iblis, hingga tafsiran adanya sisi horor di dalamnya. Tetapi saya sedang tidak ingin membahasnya. Melainkan, saya memiliki pandangan lain dari penggunaan simbol yang ada melalui dua poin penting yang coba akan saya ulas melalui tulisan ini.

Perlawanan Maskulinitas yang Dikonstruksi Lagu Sendu

Lagu sendu atau lagu yang bercerita tentang kesedihan, dengan irama mendayu selama ini acap menggambarkan perempuan sebagai figur yang senantiasa tersakiti namun mencoba setia dan bertahan dalam kesakitan, perempuan yang gelisah oleh rindu yang berkepanjangan, perempuan yang penuh ratapan, di mana semua itu dipicu oleh ulah laki-laki sebagai figur dominan atas hidup sang perempuan.

Beberapa gambaran tersebut menunjukkan masih menjamurnya gagasan phallogosentris. Mengutip ulasan Fitria Sari (2017), dalam Jurnal Perempuan, gagasan phallogosentris merupakan kondisi yang berkaitan dengan ide dan perilaku yang dikuasi oleh laki-laki.

Gagasan phallogosentris muncul karena terkait dengan phallus sebagai simbol kekuatan dominan dan utama. Fenomena ini tampaknya telah mendarah daging dan susah dilepaskan dari stigma masyarakat. Semakin sendu suatu lagu, maka semakin banyak peminat dan kebanyakan dari kalangan perempuan yang merasa keadaannya telah terepresentasikan.

Bagaimana dengan Lathi, dalam kacamata pandang saya, Lathi hadir membawa misi yang sejalan dengan pemikiran Lacan yang coba dikembangkan oleh Hélène Cixous dalam karyanya The Laugh of the Medusa. Perempuan melalui dunia simbolik berhak menyuarakan dunia perempuan. Perempuan harus mampu menuliskan yang kemudian saya setarakan dengan istilah mengekspresikan pengalamannya, kesenangannya, hasratnya, kebebasannya, ambisinya, dan seksualitasnya dari seluruh tubuhnya yang kemudian saya pahamkan dengan totalitas kekuataan dan kebebasan.

Makna dari kalimat mengubahku menjadi sosok dingin dan tak berperasaan serta penggambaran aura hitam pada visualisasi lagu Lathi menjadi bentuk persuasif bahwa tidak ada lagi nona baik hati dan selalu pasrah dalam ratapan, yang ada adalah sebuah kondisi berbalik ketika perempuan juga bisa mengambil kembali peran sebagai tokoh utama yang memiliki kekuatan untuk melawan dan berjuang atas hidupnya.

Simbol Lathi dan Pembantahan Citra Perempuan Cantik, Anggun nan Mempesona

Lathi dan viralnya Lathi challenge yang bermain dengan simbol penggambaran perempuan mengerikan pada akhirnya menggiring pandangan dominan menuju sisi mistisme dari perempuan. Hal ini sempat menjadi bahan diskusi seru antara saya dan seorang teman yang menganggap bahwa Lathi justru kontra-produktif. Alih-alih menghadirkan perlawanan terhadap patriarki, Lathi bisa jadi melanggengkan budaya patriarki dengan menghadirkan representasi mistisme atau hantu pada sosok perempuan seperti yang dicitrakan selama ini oleh industri film horor.

Seperti yang kita ketahui bahwa film horor kerap kali berangkat dari cerita pembalasan dendam perempuan yang telah disakiti dan mengubahnya menjadi arwah penasaran penuh kebencian. Tetapi, semua akan lain ceritanya ketika sudut pandang tersebut digeser dengan menyingkirkan sisi mistisme terlebih dahulu, dan diarahkan pada simbol gerakan “menolak cantik.” Mengapa Lathi bernuansa serba hitam, bukan merah jambu, dan mengapa perwujudan buruk rupa dan mengerikan justru menjadi daya tariknya.

Menurut saya hal itu dipicu oleh terlalu lamanya perempuan terkungkung dalam kontruksi budaya masyarakat dan industri bidang kecantikan. Gambaran perempuan yang benar adalah yang cantik, anggun, mempesona, sementara yang tabu adalah perempuan pemberontak, yang buruk rupa, mengerikan, dan pecicilan.

Melalui Lathi, kini para perempuan lebih bebas mengekspresikan sisi lain dari dirinya yang barangkali selama ini tabu untuk ditunjukkan. Sebab jauh dari keanggunan, pada gilirannya citra perempuan dalam Lathi mengubah stigma yang tadinya tabu menjadi lumrah dan istimewa.

Manusia adalah makhluk yang tak pernah puas dengan satu tanda tanya, sebab satu tanda tanya akan menghadirkan tanda tanya- tanda tanya lainnya. Pertanyaan yang barangkali akan hadir dari wacana Lathi adalah; apakah perempuan harus menjadi mengerikan terlebih dahulu untuk mendapatkan kekuatan melawan penindasan? Apakah perempuan harus hancur dahulu untuk kemudian memiliki kesadaran untuk bangkit melawan?

Lagi-lagi, saya katakan, lagu Lathi ini banyak bermain dengan ilmu semantik. Manusia memang begitu akrab dengan simbol, Ernst Cassirer juga menyebut manusia sebagai makhluk yang menangani simbol-simbol (animal symbolicum). Simbol sendiri sering disebut “symbolos” yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Mari kita bedah beberapa semantik dalam lagu Lathi.

Warna Hitam dan Listrik

Warna hitam yang mendominasi bentuk perlawanan perempuan dalam lagu Lathi, menurut Barzam (2018) dalam sebuah artikel tentang delapan makna hitam dalam simbolisme psikologis. Di mana lima di antaranya memaknai warna hitam sebagai bentuk kekuasaan, naluri jahat, perlindungan, keteguhan, dan ketenangan. Adapun listrik yang muncul dalam tubuh perempuan pada visualisasi Lathi juga memiliki makna energi dan kekuatan yang besar.

Penggambaran Citra Perempuan Mengerikan

Penggambaran citra perempuan mengerikan yang menjadi sentra perhatian ini jika mengacu pada tulisan Diah A. Arimbi (2018), dalam buku Memahami Penulis Perempuan Muslim Kontemporer Indonesia, dapat dimaknai sebagai penggambaran citra baru perempuan dalam dunia fiksi yang muncul beberapa tahun terakhir. Sebut saja figur nenek sihir yang menciptakan penggambaran perempuan jauh dari gambaran perempuan sebelumnya dengan kecenderungan tunduk menjadi korban dominasi patriarki. Citra Lathi menggambarkan perempuan sebagai penguasa dan penentu bagi nasibnya sendiri, bukan lagi sebagai individu pendiam dan berbakti yang hidupnya semata untuk menuruti kesenangan laki-laki.

Pada akhirnya, dari lagu Lathi, kita bisa mengambil pelajaran berharga melalui sudut pandang yang optimis. Bagi siapapun yang tengah terbelenggu penindasan, selalu ada kekuatan untuk berjuang, melawan dan melepas dari jeratan. Lalu pergi dan tak menoleh lagi.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

Tinggalkan Balasan