Kutukan Sumbi

Share

Lusa Indrawati
Anggota COMPETER (Community Pena Terbang)


Konon katanya, ada sebuah desa yang terkena kutukan. Sebuah desa bernama Desa Maja. Desa Maja adalah desa yang masih memercayai dan menjalankan beberapa ritual . Nama desa ini berasal dari nama buah yang rasanya sangat pahit yaitu buah maja. Buah yang tumbuh subur dan berjumlah banyak mengelilingi desa. Oleh karena itu desa ini dinamanakan Desa Maja. Di balik desa ini tersimpan sebuah kisah mistis yang menjadi legenda.

***

Dahulu, Desa Maja adalah desa makmur yang sejahtera. Setiap beberapa bulan sekali atau di hari dan bulan-bulan tertentu, warga Maja menjalankan ritual; sepasang pengantin baru harus menyelam di sebuah telaga yang dianggap keramat oleh masyarakat Desa Maja. Ritual ini dilakukan supaya para leluhur merestui dan nantinya sepasang pengantin dipercaya akan mendapatkan kebahagiaan dan tidak akan terpisah sampai maut memisahkan. Bukan hanya itu, para warga desa dilarang memakai baju putih. Mereka percaya jika memakai baju warna putih, akan mendapatkan sial. Setiap hari Kamis, warga Maja juga harus memakai baju berwarna hitam. Tujuannya adalah menolak bala dan kesialan. Peraturan adat atau ritual ini sudah dijalankan beberapa tahun silam semenjak desa ini didirikan. Sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang.

Di desa ini juga hidup seorang wanita yang sangat disegani. Namanya Sumbi. Dia adalah seorang dukun. Ketika para warga Maja jatuh sakit atau terkena masalah, mereka akan mendatanginya untuk meminta solusi atau jalan keluar. Sudah lebih dari belasan tahun Sumbi tinggal di desa ini. Namun, karena sebuah peristiwa tragis hari itu, desa ini berubah menjadi mencekam dan menakutkan. Menjelang malam hari, setiap warga di sana menutup pintu rumah rapat-rapat. Hanya ada hawa sepi dan ketakutan yang merambat.

***

“Bakar!!”
“Bakar!” teriak warga dengan suara keras dan kencang.

Suara amukan warga beradu dengan gelapnya malam. Suara burung gagak memekik keras di langit-langit malam. Mengitari sebuah rumah seolah mengirim tanda kematian. Puluhan warga dengan ganas melempar batu-batu ke arah rumah Sumbi dengan berucap serapah.

“Kau wanita laknat. Berani-beraninya kau membuat teluh untuk wargamu sendiri,” teriak salah satu warga.

“Kau tidak pantas hidup. Kau harus mati perempuan setan.” serapah salah satu warga lainnya.

“Wanita itu harus mati, wanita itu harus mati!” teriak semua warga.

Mendengar suara warga penuh amarah, Sumbi keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini? Apa salahku? Bukankah selama ini aku telah banyak membantu?” tanya Sumbi nanar.

“Kau, dasar wanita ular! Bisa-bisanya kau berpura-pura tidak tahu. Apakah kau tidak mengenal Adnan, pemuda yang menjadi korban teluhmu? Anak dari juragan Yasir. Sekarang seluruh tubuhnya penuh dengan nanah dan perutnya semakin membesar mengeluarkan bau tak sedap. Itu karena ulahmu bukan?” hardik seorang warga.

“Aku tidak pernah melakukan kejahatan itu dan ya, itu semua didapat karena juragan Yasir melanggar peraturan desa ini. Dia telah bermain serong dengan seorang janda di telaga keramat desa ini. Dia ingin aku menyembunyikan kebenaran ini di hadapan kalian tapi, aku tidak mau. Itu sebabnya dia dengan keji memfitnahku.” ujar Sumbi menjelaskan.

“Halah. Omong kosong apa ini? Dia ingin aku menerima cintanya tapi aku malah menolaknya. Siapa yang mau dengan perempuan jadi-jadian seperti dia.” sentak juragan Yasir menyakinkan.

“Bohong itu tidak benar. Aku sama sekali tidak mencintainya. Justru aku yang menolaknya karena dia sudah beristri. Kau pria pendusta. Sungguh keji tuduhanmu itu.” teriak Sumbi lantang.

“Jangan dengarkan omongan wanita itu. Sekarang apa buktinya kalau perempuan ini tidak bersalah? Hanya dia di desa ini yang bisa meneluh warga dengan kekuatan hitamnya. Bakar saja rumahnya! Bakar saja dirinya!” hasud juragan Yasir.

Semua warga melempar obor dan batu ke arah rumah Sumbi. Dengan ganas rumah Sumbi dilahap api. Semua warga menyeret dan mengarak Sumbi keliling kampung. Tangannya diikat, rambutnya ditarik dan eksekusi Sumbi akan dilakukan.

Tubuh Sumbi lemah dan tidak berdaya. Dia dipasung di tengah desa dengan diikat di sebuah tiang penyangga. Warga menyiraminya dengan minyak tanah. Badan Sumbi dikelilingi kayu bakar. Semua mata warga menggelap karena hasutan juragan Yasir. Dilemparkannya obor ke arah Sumbi. Seketika itu juga, Sumbi terbakar penuh kesakitan. Ia berteriak histeris namun semua telinga warga seolah tertutup karena amarah dan dendam.

“Aku mengutuk kalian. Aku akan bangkit untuk membalaskan dendam. Hanya ada ketakutan dan duka di mata kalian. Mata dibalas mata nyawa dibalas nyawa.” serapah Sumbi dengan suara menggelegar.

Di akhir hayatnya, Sumbi mengutuk mereka semua. Mereka yang membunuhnya dengan tragis akan hidup dalam ketakutan. Tidak akan ada kebahagiaan atau tawa di desa ini. Hanya akan ada kesedihan dan duka.

***

Suara lolongan anjing memeluk dinginnya malam. Burung gagak bercuit memekak telinga, menghunus hening mengudara. Pintu-pintu rumah warga sudah tertutup rapat -rapat. Hanya suasana malam mencekam. Mengguncang gelap yang panjang membuat bulu kuduk setiap orang yang melintas di desa ini berdiri. Hari ini adalah malam Jumat keliwon. Hari yang dianggap sakral atau keramat oleh beberapa orang. Saat di malam ini jika ada warga yang berkeliaran di luar, maka bisa dipastikan ia akan bertemu dengan Sumbi, sosok hantu perempuan desa ini.

Pernah suatu ketika, ada seorang pemuda dari luar desa pergi menemui temannya di Desa Maja. Pemuda ini pulang ke rumahnya tepat pukul 22.00 malam. Saat ia akan pulang, temannya sudah mengingatkan perihal sosok Sumbi yang menakutkan. Namun, pemuda ini tidak percaya sama sekali. Hingga suatu malam saat ia berjalan melawati tengah desa, tiba-tiba bau wewangian bercampur anyir menyeruak memenuhi rongga hidung. Lolongan anjing samar-samar mulai terdengar. Kepulan asap putih muncul tepat di hadapannya. Di balik asap itu, ia melihat sesosok perempuan. Dia adalah Sumbi hantu desa ini. Pemuda itu berkata, Sumbi adalah sosok hantu terseram yang pernah ia lihat. Wajahnya begitu keriput membentuk garis-garis yang mengutuk. Rambutnya berantakan layak tengah bertempur dengan malaikat menuju kebebasan. Bau aromanya menusuk indra penciuman membuat perut ingin memuntahkan semua isi di dalamnya. Matanya merah melotot menyimpan semburat dendam dan kemarahan. Pemuda itu bercerita tentang apa yang dilihatnya kepada orang-orang dengan menggigil. Beruntung sekali pemuda itu masih hidup dan tidak terbunuh oleh hantu Sumbi. Pemuda itu berkata di akhir ceritanya, saat Sumbi mendekatinya, ia merapal beberapa ayat suci untuk mengusirnya. Dengan perlahan, Sumbi pun menjauh dan menghilang. Pemuda itu pun lari tunggang langgang.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan