Kuliah Kok Pakai Seragam?

Share

Galih Arozak


Mahasiswa itu keren! Namanya saja sudah “maha”. Tapi maha-nya cuma siswa. Kalau maha yang lain-lain itu sudah masuk ranah Tuhan. Setelah pandemi Covid-19 nanti usai, dan kuliah tidak lagi daring, kalian bebas mau pakai baju dan celana apa saja saat belajar di kampus. Asal bukan celana bolong pas dengkul model gondes dan kaos oblong, nanti dikira mau nggondes. Jadi, buat mahasiswa baru, tenang saja. Dosen tidak segalak komisi kedisiplinan yang kemarin sempat viral, dosen juga sibuk banyak kerjaan, enggak sempat buat marah-marah sama mahasiswa yang tidak pakai ikat pinggang.

Di kampus, tidak ada seragam baku seperti putih abu-abu atau seragam pramuka. Tidak ada hukuman kalau kaos kaki dan sepatu bukan berwarna hitam. Meski demikian, jangan heran jika nanti menemukan banyak dari kakak tingkat yang memakai seragam. Itu namanya baju korsa, atribut organisasi atau kepanitiaan. Kalau pakai itu, rasanya bangga, keren banget. Apalagi waktu lewat depan mahasiswa baru.

Tentu tidak sesederhana supaya terlihat keren, pasti ada banyak motif lain. Mengapa kakak tingkat sering memakai atribut dan simbol organisasi baik di lingkungan maupun luar kampus. Tulisan ini sengaja dibuat untuk mengulas perihal tersebut. Sebab dalam jurnal, ulasan seperti ini tidak ditemukan.

Saya tidak sedang menyampaikan suatu dugaan, melainkan benar-benar berangkat dari kejadian di lapangan–kantin, burjo, sekretariat organisasi, parkiran, dll. Berikut analisis sederhana untuk menjawab pertanyaan: Mengapa kakak tingkat pakai seragam?

1. Ada Kegiatan Organisasi

Ini paling sering terjadi. Kalau kalian melihat banyak mahasiswa memakai seragam dalam waktu bersamaan, berarti saat sedang ada kegiatan organisasi. Biasanya seminar nasional, pekan olahraga, atau kegiatan kepanitiaan lain. Bisa juga kunjungan antar lembaga, khusus ini, minimal ada 2 seragam yang kalian lihat. Namanya juga kunjungan, pasti ada yang berkunjung dan dikunjungi, masing-masing memakai seragam kebanggaan. Kalau lihat mereka pakai seragam di luar kampus, biasanya sedang bakti sosial atau berkunjung ke lokasi desa binaan. Pastinya supaya terlihat kompak sambil unjuk eksistensi.

2. Propaganda

Kalau ini bukan lagi pakai seragam saat kegiatan organisasi, bahkan tidak ada kegiatan apapun tetap pakai seragam. Tujuannya jelas, memamerkan simbol dan atribut organisasi kepada mahasiswa baru. Iya, mahasiswa yang masih polos dan penuh rasa penasaran, supaya tertarik dan mau masuk di organisasinya. Biasanya mereka melakukan propaganda sejak  mahasiswa baru menginjakkan kaki pertama kali di kampus dan di tempat berkumpul strategis.

Hal itu sudah berlangsung lama bahkan lebih dari 50 tahun silam. Ketika itu, Soe Hok Gie pernah berkata. “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” Saya tidak akan mengatakan bahwa mereka akan menipu kalian, tapi setidaknya mereka ingin merekrut kalian dengan memamerkan simbol dan atribut.

3. Fanatisme

Ini beda lagi, ke mana pun pakai seragam. Tidak ada kegiatan organisasi, bukan dalam agenda propaganda, tapi tetap mengenakan simbol dan atribut organisasi. Mahasiswa seperti ini tidak banyak, meski tidak sedikit juga. Mereka adalah orang-orang garis keras di organisasi, kecintaannya pada organisasi melebihi kecintaan pada kekasihnya. Mereka orang yang pertama kali marah ketika organisasinya coba disenggol.

Kalau tidak percaya, coba saja buktikan. Amati ketika mau pulang, saat mengeluarkan kunci motor, pastikan kamu melihat ada gantungan kunci berlogo organisasi. Kalau perlu dan memang perlu, ikuti sampai kos dan masuk kamarnya. Bisa jadi ada bendera organisasi ditempel di dinding kamar atau minimal stiker organisasi tertempel di pintu.

4. Tak Ada Baju Lain

Terakhir, mahasiswa ini bukan fanatik dengan organisasi, sebab sebagian mahasiswa jenis ini sudah post structural. Artinya mereka sudah tidak punya tanggung jawab struktural, meski masih memiliki tanggung jawab moral. Bisa jadi mereka memakai baju korsa di kampus atau memakai jaket organisasi karena baju dan jaket lain sedang di penatuatau belum kering karena sedang musim hujan.

Demikian analisis terkait mahasiswa yang gemar memakai seragam; simbol dan atribut organisasi. Supaya tidak penasaran, mengapa kakak tingkat pakai seragam, padahal di kampus bebas mau pakai apa saja. Sedikit tambahan, kalau kalian kelak masuk organisasi dan sudah mendapat seragam, jangan dipakai saat kencan sama doi atau saat main ke tempat prostitusi. Perbuatan itu akan mencoreng nama baik organisasi, kalian pasti akan dimarahi oleh senior, bukan oleh komisi kedisiplinan. Kecuali seniormu merupakan anggota komisi kedisiplinan.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan