Kandasnya Kisah Cinta dan Penerimaan yang Akan Mendamaikan Segalanya

Share

R. Fauzi Fuadi
Pembina Jurnalistik Ponpes Karangasem, Paciran


Untuk yang terjebak di masa lalu. Untuk yang sedang melangkah dengan penuh ragu. Tulisan  ini mungkin akan membantu beranjak dari masa lalu ke masa yang sama sekali baru. Sepenggal kisah tentang seorang perempuan yang tak bisa beranjak dari masa lalu dan kesedihannya.

Kisah ini datang dari seorang kawan perempuan yang enggan disebut namanya. Maka, saya samarkan ia menjadi Aurelia.

Dalam kisah-kasih asmaranya, ia telah menjalin hubungan bersama seseorang yang kini menjadi mantan selama 5 tahun—sudah seperti periode jabatan presiden.

Sering kali ia mem-publish foto-foto dengan mantan kekasihnya, yang saya ketahui, mereka saling kompak dalam hal apa pun: helm, kaos, baju batik, sepatu, hingga jam tanggan. Semuanya seirama.

Tapi, sudah seminggu album itu telah tiada. Yang ada hanya fotonya seorang diri dan fotonya bersama teman dekatnya, yang sudah tentu perempuan semua.

Dalam sebuah pertemuan saya dengannya di sebuah gerai cepat saji di salah satu sudut Kota Samarinda yang terbungkus rintik hujan, ia nampak murung dengan wajah yang tampak kusut. Kudapan di depannya sama sekali tak disentuh.

“Aku kehilangan nafsu makan, mungkin karena masalah yang kuhadapi.” Ujarnya lirih.

Kala itu, ia menceritakan perihal kandasnya hubungan dengan mantan kekasihnya.

Saat keluar kata ‘hubungan, mantan, dan kandas’, saya sempat menerka putusnya hubungan mereka karena beberapa hal: dikhianati, bosan, dan perekonomian.

Tapi, dalam penuturan selanjutnya, asumsi saya meleset. Ia menceritakan begitu detail betapa setia, tulus, dan dermawan mantan kekasihnya itu. Jangan ditanya soal keadaan ekonomi, keduanya anak dari orangtua yang tajir melintir.

Ternyata itu semua tak menjamin keberlangsungan sebuah kisah cinta yang langgeng. Cinta yang mereka bangun selama lima tahun itu harus kandas di tengah jalan. Teronggok begitu saja. Hatinya kini masih terkoyak hanya kerena ketidakpastian yang begitu rumit dan melelahkan.

“Aku lelah. Saat itu hingga kini aku berada di titik jenuh menjalin hubungan yang tak pasti. Sebuah masa di mana kami memutuskan untuk mengambil keputusan yang cukup berisiko bagi pikiran dan perasaan ini.” Sesaat ia berhenti sejenak, mengembuskan nafas perlahan, matanya meneroka jauh ke depan.

“Kami akhirnya mengakhiri semua kisah cinta yang kami bangun bersama.” Kini ia menatap ke jendela. Hujan makin deras. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Menyudahi hubungan yang dulu pernah kami jalani bersama sangatlah sulit. Dengan segala lika-liku dan onak yang selalu menghadang, kami selalu bisa menghantam itu semua dengan penuh keyakinan dan keteguhan dalam mempertahankan hubungan kami yang penuh dengan cita-cita adi luhung. Bersatu dalam jalinan ikatan cinta yang suci. Bagi kami itu lebih dari cukup. Tapi semakin ke sini, kami semakin tak menemukan makna dari hubungan ini. Pendeknya kami tak lagi sefrekuensi, sepemahaman. Entah mengapa. Cita-cita itu semakin menguap begitu saja. Seperti kemarau panjang dengan debu-debu jalanan yang lenyap disapu hujan.”  

Ia menutup kisahnya dengan lelehan air mata yang segera disekanya dengan tisu, seraya meminta maaf terlalu terbawa perasaan. Saya memaklumi.

Seluruh barang yang seragam dengan mantan kekasihnya itu disimpannya dalam sebuah kotak. Tergeletak begitu saja di gudang. Debu tebal sempurna menyelimuti kotak, terangnya. Berharap ia tak menyentuhnya lagi.

Pada pertemuan kali ini, ia ingin sekali memusnahkan seluruh kenangan itu. Ia tak lagi menginginkan memori manis itu terus mengendap di kepalanya.

Layaknya dokumen word, dalam segenap pikirannya ia mencoba untuk mengambil opsi hapus permanen. Ctrl+A+Del.

Saya sebagai seseorang yang pernah mempelajari ilmu bimbingan dan konseling, lebih kurang dapat merasa dan memahami betapa remuk hatinya ketika sebuah hubungan yang sudah terjalin begitu lama dengan segenap kenangan manis harus ambyar di tengah jalan. Di samping saya pernah mengalaminya juga sih, uhukkk~

Kepadanya, saya coba untuk memberi solusi hasil kontemplasi dan endapan pengalaman pribadi dan beberapa orang yang kemudian disusun menjadi lebih sistematis dan komperehensif, yang kala itu saya jelaskan secara saksama dengan diksi yang diplomatis.

Pertama, saya memberinya saran dan semangat agar ia dengan lapang dada memeluk seluruh kenangan pahit maupun manis yang pernah ia alami di masa lampau. Kemudian memaafkan diri sendiri atas rasa sakit yang kini mendera hati.

Sebab, tak ada lagi jalan untuk melupakan semuanya selain memeluk erat seluruh memori itu. Dengan begitu ia akan bisa berdamai dengan diri sendiri. Tak mudah dilakukan memang. Tapi, yang saya tahu, semua akan mudah jika dilakukan setahap demi setahap.

Kedua, untuk bisa memeluk itu semua, saya menyarankannya agar menyedekahkan seluruh barang pemberian mantan kepada mereka yang membutuhkan. Saya menyarankannya untuk memberikan kepada anak-anak yatim di panti asuhan. Di samping menambah pahala, harapan lainnya agar barang-barang itu bisa digunakan kembali sebagaimana mestinya.

Keesokan harinya, Aurelia memutuskan untuk mengambil opsi yang saya berikan. Ia menjemput saya dengan mobil Fortuner putih.

Saya duduk di kursi tengah sembari ditemani ‘kotak amal’ yang akan diberikan kepada anak-anak panti asuhan. Dan di saat itu juga, saya melihat air mukanya jauh berbeda dibanding hari kemarin, senyumnya terpancar seiring mentari yang kian beranjak naik.

Ah, terkadang pada titik tertentu cinta memang rumit. Mungkin karena cinta bukan barang dagangan yang hitung-hitungannya bisa dikalkulasi secara literal.

Nikmati saja hidup ini dengan segala kisah asmaranya. Namun jangan lupa untuk selalu waspada.

Bersiaplah dengan segala kemungkinan terburuk yang paling menyakitkan, karena cara terbaik untuk menjalani hidup adalah selalu siap dengan ketidakpastian yang bisa datang kapan saja.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id

Tinggalkan Balasan