Harus Ada Mata Pelajaran Baru di Sekolah

Share

Galih Arozak


Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Justru muncul kekhawatiran akan adanya gelombang kedua yang jauh lebih ganas sebagaimana pandemi flu Spanyol satu abad silam.

Namun, agaknya negara kita, Indonesia, belum akan menjumpai gelombang kedua tersebut, sebab belum usai dengan gelombang pertama. Grafik kasus corona di negara kita terus menunjukkan kenaikan dari pertama kali kasus tersebut dikonfirmasi (2/3) hingga sekarang, saat tulisan ini dibuat.

Di saat yang bersamaan, para pelajar SMA/SMK sederajat yang baru saja riang gembira atas kelulusannya, disibukkan mencari perguruan tinggi favorit untuk melanjutkan pendidikannya. Di lain pihak, perguruan tinggi –bagian penerimaan mahasiswa baru (penmaru)– juga disibukkan dengan target mahasiswa yang harus diterima. Keduanya punya kesibukan yang sama –menyongsong tahun ajaran baru perkuliahan 2020/2021– selain sibuk memerangi pandemi yang belum tahu kapan berakhirnya.

Belakangan ini, sekitar dua bulan terakhir, saya dan hampir semua rekan kerja –di bagian penmaru– bisa dibilang kewalahan. Dengan personil yang jumlahnya tak kurang dari 25 orang, kami harus menghandle para pendaftar yang jumlahnya mencapai ribuan hingga puluhan ribu. Tentunya dengan mekanisme baru di tengah pandemi. Proses penmaru yang juga dilakukan secara virtual, menuntut kami terus terpaku pada monitor dan layar smartphone. Terlebih bagi admin, tak pernah mengeluh sebagaimana kawula muda yang sedih karena tak ada pesan masuk, sebab tak kurang dari 500 chat masuk setiap hari, selalu menggetarkan notif sekaligus pikirannya.

Calon Mahasiswa Minim Literasi

Saya tidak hanya disibukkan oleh pekerjaan yang terus bertambah dan selalu menumpuk, tapi juga dibuat kesal oleh para pendaftar yang membuat saya bekerja dua kali karena ketidak becusannya dalam menuliskan data diri secara baik dan benar. Hal sederhana tapi mungkin begitu sulit bagi para pendaftar ialah menuliskan tempat lahir dan alamat secara rinci. Saya merasa berdosa karena sering kali mengumpat saat menginput data diri pendaftar ke sistem, terutama pada bagian tempat lahir dan alamat asal.

Bayangkan saja, bila tempat lahir yang seharusnya ditulis kabupaten/kota tempat di mana ia dilahirkan, oleh mereka malah ditulis desa. Apakah desa mereka begitu terkenal, sehingga saya pasti tahu desanya berada di kabupaten/kota dan provinsi mana?

Tak begitu sulit bila alamat yang bersangkutan sama dengan tempat lahirnya, saya bisa mengacu pada alamatnya. Namun, tak sedikit yang tempat lahir dan alamatnya berbeda, sebagian menjadi perantau, dan sebagian lainnya menulis alamat juga tidak lengkap.

Alternatifnya, saya harus mengecek di google maps untuk mengetahui kabupaten/kota tempat di mana mereka dilahirkan. Tapi alternatif ini tak selalu berhasil. Pernah saya jumpai tempat lahir tertulis “Kayu Agung”, dan saat dicari di  Google Maps saya tambah bingung. Ternyata nama yang sama –Kayu Agung– terdapat di beberapa daerah seperti Tangerang, Ogan Komering Ilir dan Kepulauan Parigi.

Ada juga kejadian lain, tempat lahir tertulis “Purnama”, dan konyolnya, yang muncul di Google Maps ialah Purnama Supermarket, Purnama Toserba & Swalayan, Purnama Jaya Service, Purnama Teknik, dan banyak purnama-purnama yang lain. Kadang saya istighfar, tapi kadang juga mengumpat.

Penulisan alamat juga tak jauh berbeda, soal penggunaan huruf kapital di awal nama daerah sudah menjadi kesalahan umum, dan itu bukan masalah serius. Banyak yang hanya menulis alamat sampai kecamatan saja, atau hanya RT dan RW, bahkan ada yang hanya nama jalan.

Lagi-lagi seolah saya harus serba tahu tempat di mana mereka tinggal, padahal mereka berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Ada yang menulis alamat “Jl. Silkar Km. 10”, untung saja di Google Maps langsung terdeteksi bahwa jalan tersebut berada di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Lain cerita dengan yang menulis alamat “Jl. Ahmad Yani”, di Google Maps “Jl. Ahmad Yani” ternyata ada di banyak daerah seperti Surabaya, Kendari, Palangka Raya, Balikpapan, Bandung, dll.

Perlunya Mata Pelajaran Baru

Kadang saya mengumpat –yang kemudian disambut geleng-geleng oleh rekan kerja sebelah– “Kalau goblok mbok jangan diborong sendiri!” Saya sangsi dengan nilai Bahasa Indonesia yang mereka peroleh.

Hampir semua pendaftar, baik nilai raport maupun nilai ujian sekolah, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai mereka tak kurang dari 80, bahkan beberapa ada yang 90. Dan benar saja bahwa nilai bukanlah jaminan kecerdasan seseorang, terutama pada hal sederhana seperti penulisan yang sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD) maupun penulisan tempat lahir dan alamat. Saya kira, guru turut bertanggung jawab karena memberikan nilai yang terlalu berlebihan.

Barangkali, kelak, mahasiswa yang sering mengeluh kesusahan mengerjakan skripsi, terutama perihal kepenulisan, ialah mereka yang sedari awal mendaftar kuliah tidak menuliskan tempat lahir dan alamat secara baik dan benar.

Meski terkesan berlebihan, agaknya percuma para siswa pandai dalam hal pengetahuan alam maupun pengetahuan sosial, bila ternyata dalam hal pengetahuan dasar mereka 0 besar. Kiranya selain IPA dan IPS, di sekolah perlu ada tambahan mata pelajaran baru: Ilmu Pengetahuan Dasar (IPD), sebab ternyata tidak efektif bila hal-hal dasar seperti penulisan yang sesuai EYD, dan penulisan tempat lahir, serta alamat dilebur dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Toh dengan pencapaian nilai di atas 80 mereka belum benar-benar paham mengenai hal-hal dasar yang sederhana.

Saya masih dan selalu berkeyakinan bahwa bahagia itu relatif, dan saat ini, bahagia bagi saya ialah ketika pendaftar menulis tempat lahir dan alamat secara baik dan benar, sehingga tidak perlu kerja dua kali.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.


Tinggalkan Balasan