Freeport: Fakta-Fakta yang Disembunyikan

Share

Nur Fahmi Nur


“Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami yang punya. Kami hanya penjual buah-buah pinang.” Edo Kondologi

PUCUKMERA.ID – Baru-baru ini, viral sebuah video investigasi yang dilakukan oleh Greenpeace tentang pembakaran hutan yang terjadi di Merauke, Papua. Perusahaan sengaja melakukan pembakaran untuk pembukaan lahan secara murah.

Ketika tim investigasi memaparkan data tersebut, perusahaan tersebut berdalih bahwa itu bukan ulah mereka, tapi ulah masyarakat setempat yang mengejar tikus tanah. Padahal, sangat jelas terlihat bagaimana tumpukan-tumpukan kayu kering yang gampang terbakar di berbagai sisi hutan.

Dalam sebuah wawancara, seorang penduduk setempat bernama Elisabeth Ndiwaen, marga pemilik hutan adat, menangis sedih melihat hutan yang selama ini mereka jaga sebagai tempatnya hidup dan tumbuh besar habis terbakar oleh orang-orang dari luar Papua. Tangis Mama Elisabeth juga menjadi bukti bahwa ada hubungan misterius antara masyarakat sekitar dan tanah mereka. Bagi masyarakat adat, tanah bukan hanya sekadar aset ekonomi, tapi juga memiliki nilai budaya, sosial, dan adat istiadat.

Jauh sebelum masyarakat di Merauke dibakar hutannya untuk keperluan sawit, wilayah Papua sudah diekspliotasi oleh pemerintah dan juga perusahaan Freeport.

Siapa sih yang tidak kenal dengan perusahaan pertambangan terbesar Indonesia ini? Perusahaan tambang emas, tembaga dan perak yang selalu menjadi incaran para pekerja karena iming-iming gaji yang lumayan besar. Tapi, di balik itu semua, banyak sekali fakta yang tidak diketahui banyak orang. Sebuah fakta yang entah sengaja atau tidak disengaja, sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya. Buku karya Paharizal dan Ismantoro Dwi Yuwono, akan membongkar fakta-fakta tersebut.

Tempat pengeksploitasian tambang emas oleh Freeport ini berada di Gunung Ertsberg dan Grasberg, terdapat suku yang menempati daerah itu, yaitu Suku Amungme. Bagi Suku Amungme, Gunung Ertsberg adalah Ibu mereka yang mereka jaga dan mereka cintai sepenuh hati. Ketika terjadi pengeksploitasian besar-besaran oleh Freeport yang berujung pada ketidakadilan, penindasan, perusakan, tentunya masyarakat akan marah.

Seorang masyarakat Suku Amungme bernama Linda Beanel berkata, “Dugu-dugu sebagai tempat peristirahatan sang Ibu di puncak Gunung Ertsberg itu dihancurkan oleh Freeport. Bagaimana perasaan Anda jika kami ambil Ibu Anda dan kami belah payudaranya?” sebuah ungkapan yang penuh kemarahan dari masyarakat sekitar. Tentunya, ucapan dari Linda ini bukan sekadar ungkapan biasa, karena jauh di belakang itu, banyak sekali fakta yang semakin memperparah keadaan Freeport dan keadaan masyarakat di sekitarnya.

Fakta yang Tersembunyi di balik Freeport

1. Pembayaran Royalti yang Rendah
Freeport yang pada awalnya hanya diberi keistimewaan untuk tidak membayar sewa dan membayar royalti selama 3 tahun, nyatanya mendapatkan keistimewaan yang lebih. Yang seharusnya membayar royalti sebesar 35,5% setelah 3 tahun dan sebesar 41,75% setelah beroperasi selama 7 tahun, nyatanya tidak dibayar dengan sesuai. Siti Maimunah dalam bukunya menjelaskan, Freeport, dari awal beroprasi, hanya diwajibkan memberi royalti sebesar 1,5% – 3,5%. Ditambah lagi, ICW menyatakan bahwa Freeport punya tunggakan pembayaran sebesar 176,884 juta dollar AS, atau sekitar 1,591 Triliun, dalam jangka waktu 2002 – 2010.

2. Akumulasi Primitif yang Menguntungkan Amerika Serikat
Freeport yang mendatangkan pekerja dari luar Papua, bahkan luar Indonesia melakukan diskriminasi dalam hal pembayaran upah buruh. Tercatat ada perbedaan yang lumayan antara upah buruh luar negeri, dan dalam negeri –terlebih upah buruh Papua.

Untuk upah buruh ahli luar negeri dari Amerika, diberi upah sebesar 1500 dollar per bulannya, sedangkan untuk upah buruh ahli luar negeri, seperti Jepang, Korea, Filipina sebesar 300 dollar per bulannya. Berbeda dengan upah buruh Indonesia sebesar 100 dollar per bulannya dan yang sangat timpang adalah buruh dari Papua yang hanya mendapatkannya 40 rupiah per harinya. Sangat kecil untuk masyarakat sekitar yang seharusnya menjadi pemilik tambang emas, perak dan tembaga tersebut.

Siti Maimunah juga menjelaskan, upah buruh di Indonesia sangatlah murah, yaitu sebesar 6 juta perbulan. sedangkan buruh dari Amerika dibayar 30 kali lipatnya pada tahun 2011.

3. Pemecatan Besar-besaran dengan Alasan Menekan Ongkos Produksi
Setelah proses pembangunan selesai, buruh-buruh Papua mulai dipecat oleh Freeport. Bayangkan saja mereka yang harusnya bisa bekerja tapi dipecat, lalu sekarang tidak punya tanah lagi karena telah diambil oleh Freeport. Lalu apalagi yang mereka punya? Maka sangat wajar ketika masyarakat mulai melakukan penyerangan dan perlawanan terhadap aksi semena-mena Freeport tersebut.

4. Kekerasan yang terjadi terhadap Buruh dan Masyarakat Adat
Kecilnya upah menjadi salah satu faktor perlawanan para buruh. Ketika menuntut keadilan seperti penghapusan diskriminasi hak dan fasilitas pekerja asing dan pekerja asli Papua kepada Freeport, bukannya diakomodir, mereka malah diintimdasi dan represi. Pada tahun 2011, Petrus Ayamiseba, anggota serikat pekerja Freeport ditembak mati oleh polisi saat hendak menyuarakan ketidakadilan di Freeport.

5. Penenggelaman Suku Melanesia
Salah satu cara membungkam adalah dengan melakukan tindakan adu domba antar masyarakat sendiri. Suku Amungme yang dipindahkan dari daerah Gunung Ertsberg, menuju ke lereng gunung, yang terdapat Suku Kamoro. Yang berujung pada konflik antar Suku Kamoro dan Suku Amungme, bahkan tidak jarang terjadi aksi saling bunuh.

Cara lainnya adalah dengan melancarkan strategi untuk menimbulkan rasa saling curiga antar para buruh di luar Papuas dengan buruh asli Papua. Semakin diperparah dengan kebijakan transmigrasi pemerintah ke Papua, yang semakin memperpadat daerah tersebut. Ketika orang dari pulau Jawa datang, hierarki upah pun terbentuk.

“Konflik yang sering terjadi, membuat Indonesia melakukan aksi militer. Diawal operasi militer, setidaknya ada 60 orang buruh dan rakyat Papua yang dibunuh. Komandan pasukan berdalih bahwa ini untuk mempertahankan rasa kebangsaan: “satu bangsa, satu ras, dan satu rakyat.”” Siti Maemunah dalam bukunya mengatakan bahwa dari tahun 1975 sampai 1997 tercatat ada 160 orang dari bangsa Melanesia terbunuh.

6. Rakyat Ibarat Ayam Mati di Lumbung Padi
Mereka yang harusnya bisa hidup sejahtera dengan emas dan perak, malah harus hidup susah karena kelaparan dan kekurangan gizi. Bagaimana bisa ayam yang memakan padi dan beras mati ketika di depannya terhampar begitu banyak padi?

Data pada November – Desember 2005 menjelaskan, ada sekitar 55 orang yang meninggal karena gizi buruk dan 112 orang yang sakit karena kelaparan di Kabupaten Yahukimo. Data yang dituliskan oleh Zely Ariane, Ellias Wilson, dan Heny (Sayap kiri dari NAPAS) mencatat ada sebanyak 61 orang yang meninggal karena sakit yang disebabkan oleh pelayanan kesehatan yang buruk dan ada sebanyak 21 orang warga Kabupaten Paniai yang meninggal dunia karena kelaparan.

7. Rusaknya Tanah Surga Papua
Aktivitas pertambangan tentunya memberikan limbah yang sangat berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat setempat. Contohnya adalah sisa dari bebatuan yang tidak memiliki nilai, akan dibuang ke Sunga Ajkwa, sisa batuan tersebut berubah menjadi tailing dan mengandung asam yang tinggi sehingga mencembarkan sungai dan air tanah.

Buku Siti Maimunah memaparkan, sebanyak 1,3 miliar ton limbah tailing dan 3,6 miliar ton limbah batuan yang dibuang telah mencemari Sungai Ajkwa, padahal jelas aktivitas ini melanggar KepMenLH No. 51/2004 yang mengatur Baku Mutu Air Laut dan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian air.  Tentunya limbah tersebut memberi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. limbah yang dilepaskan Freeport tersebut mengandung zat beracun B3 (bahan, beracun dan berbahaya).

Bayangkan betapa berbahayanya sungai dan air tanah yang telah tercemar oleh begitu banyak zat-zat berbahaya yang dapat membunuh tubuh manusia. Pada tahun 1998, LBH melaporkan ada sebanyak 5 orang penduduk asli Papua yang mati karena keracunan tembaga yang berasal dari hewan yang dikonsumsinya.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan