Fondasi Membangun Ekosistem Keluarga yang Berkualitas dari Kaca Mata Seorang Anak

Share

Luthfi Muhammad


Ketika Rudolf Kerkhoven mencapai puncak kejayaanya, nasib naas keluarganya pun tidak dapat dipungkiri. Aset yang begitu berlimpah atas keberhasilan membangun Gambung melalui perkebunan teh tidak menjadikan Istri tercintanya; anak gubernur Daendels beserta putra-putrinya hidup makmur dan sejahtera.

Lebih pahitnya, kematian mereka bersusulan. Bukan atas perlakuan orang jahat, namun kerangkeng pola hidup keluarga yang timpang membuat semua itu terjadi. Lantas, bagaimana seharusnya? Berkeluarga membangun ekosistem yang baik di dalamnya?

Heren Van De Thee karangan Hella S. Haasse yang menceritakan hiruk pikuk Kerkhoven dalam memperjuangkan keluarganya melalui perkebunan teh. Seharusnya menjadi bukti otentik bahwa kemakmuran dan kesejahteraan sebuah keluarga tidak hanya di ukur oleh tingkat material yang diperoleh. Mungkin banyak sekali asumsi tentang perpecahan keluarga dijunjung tinggi karena faktor ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal sederhananya, ekspektasi hanya perlu di kelola.

Tentu sangat mudah apabila pengelolaan ekspektasi itu dilandasi dengan peran keluarga dan ekosistem di dalamnya. Berbicara tentang peranan dan ekosistem, dua hal tersebut saya pikir menjadi suatu kesatuan yang tidak harus bersifat kompetitif, namun suportif. Banyak sekali para orang tua tidak suportif dalam menciptakan ekosistem yang seimbang. Alhasil, seorang anak tercetak oleh alur kehidupannya sendiri sehingga menciptakan ekosistemnya sendiri. Barangkali, saat ini saya masih menjadi seorang anak.

Namun, perspektif keluarga selalu menarik ketika diceritakan dari sudut pandang seorang anak. Jika diibaraktakan secara hierarki, penilaian cenderung selalu kritis dari seorang bawahan ketimbang atasan.

Mengapa demikian? Karena para bawahan inilah yang sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang atasan, sangat tidak lazim apabila sang atasan memberikan penilaian yang begitu berlebihan karena pengendalian seseorang tidak bisa menembus haknya seseorang.

Dalam berkeluarga, seorang kepala keluarga tidak seharusnya mencetak anak-anaknya sesuai dengan dirinya. Seringkali terdengar istilah anak metal lahir dari kelompok keluarga yang agamis, dan itu merupakan sebuah kewajaran. Yang seringkali menjadi tidak wajar adalah ketika yang dominan (ayah) tidak bisa mengelola sang anak karena dia tidak mengerti peranan ayah yang didambakan oleh seorang anak tersebut.

Ketika sudah terjadi demikian, maka apalah makna dari sebuah keluarga? Apabila menurut seorang anak keluarga adalah sebuah tempat untuk berekspresi; tidak adanya rasa kecanggungan dalam bersikap.

Jika saja sebuah bentuk ekspresi itu dicampakan oleh keluarga, dan ia menemukannya dalam sebuah ruang dan kelompok yang lain, maka anak itu akan menganggap bahwa keluarga yang menjadi prioritasnya adalah kelompoknya.

Di saat sudah terjadi demikian, yang dominan pasti akan selalu merasa dilema, penuh kebimbangan, yang berhujung pada kepasrahan, tidak terkontrolnya semua ekspektasi baik secara moral maupun amoral. Ini yang melandasi pemahaman saya tentang terciptanya sebuah bentuk keluarga dengan ekosistem yang liberal.

Kebebasan yang tidak terkontrol akan menciptakan dualisme sehingga memecahkan ekosistem, yang apabila di tarik mundur jauh sebelum pernikahan terjadi, banyak harapan-harapan baik akan keluarganya kelak.

Berbagai macam pasangan pasti mendambakan harapan penuh dari makna Sakinah, Mawadah wa Rohmah dalam pernikahan. Jika dikaji dalam sudut pandang spiritual, seperti yang ditulis Darosy Endah Hyoscyamina dalam jurnalnya Peran Keluarga Dalam Membangun Karakter Anak, keluarga yang bahagia dapat kita ibaratkan surga dunia. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa “Rumahku adalah Surgaku”. Menjadikan rumah sebagai surga yang mana ketika di surga mahluk-mahluk Nya bebas mengeluarkan ekspresi apapun tanpa batas, seharusnya di rumahpun demikian.

Namun dalam kenyataanya, tidak semua keluarga mencapai keluarga yang bahagia, banyak di antara keluarga mengalami masalah dalam berkeluarga seperti masalah hubungan suami-istri, pendidikan anak, ekonomi keluarga, hubungan kemasyarakatan dan lain sebagainya. Variabel masalah demikian yang bakal membungkam kebebasan berkespresi dalam ekosistem keluarga.

Tentu sangat sulit apabila merangkum semua variabel masalah yang sering terjadi dalam sebuah keluarga, akan muncul berbagai macam suara dari masing-masing pihak yang ada dalam ekosistem keluarga tersebut. Namun dari banyak variabel masalah itu, jika dilihat dari sudut pandang seorang anak, yang akan menjadi urgensi utama adalah cara komunikasi dan pola pendidikan anak, baik secara karakter maupun intelektualitas.

Karena sesungguhnya hanya itulah peran terpenting keluarga dalam membangun ekosistem keluarganya yang baik. Cara komunikasi dan pola pendidikan anak akan menjadi fondasi ketika kelak anaknya yang akan kembali membina orang tuanya dimasa tua.

Berikut tiga jenis fondasi yang perlu diperhatikan dalam membangun fondasi anak yang juga dijelaskan dalam jurnal Peran Keluarga Dalam Membangun Karakter Anak yang ditulis oleh Darosy Endah Hyoscyamina.

1. Merangsang Minus Skolastik

Minus skolastik adalah minat belajar pada anak pra sekolah. Metode yang baik yang dianjurkan pada anak pra sekolah adalah menyesuaikan dengan kebutuhan anak dan gaya anak (Seto: 1997).

Point pertama menyatakan secara rasional bahwa orang tua tidak harus selalu menggeluti ambisinya dalam mencetak anak. Hanya perlu menjadi pembimbing penyesuaian kebutuhan anak agar sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku.

2. Melatih anak Bertata Krama

Orang-orang yang menguasai tata karma selalu lebih berhasil mendapat banyak teman, mendapat suami atau istri, mendapat pekerjaan dan berhasil berwiraswasta, karena mereka mampu menciptakan hidup ini menyenangkan bagi setiap orang yang berada di sektiarnya.

Point kedua menyatakan secara moral bahwa tidak semena-mena orangtua seenaknya menilai buruk atau baik. Menurut James Dobson seorang ahli jiwa mengatakan bahwa kunci untuk membesarkan anak yang sehat dan bertanggung jawab adalah dengan berusaha untuk merasa di balik mata si anak, artinya orang tua melihat apa yang dilihat anak, memikirkan apa yang dipikirkan, dan merasakan apa yang dirasakan. Dengan berempati orang tua akan lebih dapat memahami keingan dan kebutuhan anak.

3. Membangun kecerdasan Emosi dan Spiritual

Dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peranan yang jauh lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (Saphiro: 1999). Kecerdasan emosi menggambarkan bagaimana mengembangkan kecerdasan hati, seperti keuletan, kesabaran, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi dengan yang lain, kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, serta kerja sama dalam tim.

Sedangkan kecerdasan spiritual sejatinya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center, yang tidak dapat ditipu oleh siapapun, dan oleh apapun termasuk dirinya sendiri. Mata hati ini dapat mengungkapkan kebenaran hakiki yang tidak nampak dihadapan mata. Bahkan filsuf Islam Jalaludin Rumi mengemukakan bahwa “Mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan.”

Point ketiga menyatakan, secara nalar dan logis bahwa orang tua tidak harus selalu menuntut anaknya untuk hanya sekedar pintar belaka. Kecerdasan intelektual tidak akan berguna ketika kecerdasan emosionalnya tidak dibangun dengan baik. Sudah banyak sekali contoh orang-orang pintar yang sekarang menduduki jajaran ketatanegaraan yang tidak mempunyai kecerdasan emosinal dan spiritual sehingga di penghujung masa jabatannya selalu menjadi korban dan langganan bui.

Bagaimanapun kondisi dan keadaan sebuah keluarga pasti tidak akan terlepas dari variabel masalah–masalah sesuai dengan tingkatannya. Jika saja Kerkhoven tidak menjadikan ambisinya sebagai landasan untuk membahagiakan keluarganya, mungkin saja istri tercintanya juga putra-putrinya tidak bernasib naas.

Ekosistem keluarga hanya akan tumbuh dan berkualitas baik dengan cinta. Kekuatan cinta dapat menjadikan junjungan untuk sama-sama melihat masa depan yang lebih baik bagi keluarganya. Mencintai diri sendiri tentunya, mencitai suami atau istri, mencintai anak, dan juga saudara yang termasuk kedalam basis kedua ekosistem keluarga.

Ketika sudah merasa saling mencintai satu sama lain, maka akan terwujud konsep ‘Rumahku adalah Surgaku’, yang mana menjadi tanda bahwa peran dan makna sebuah keluarga itu mencapai titik kebahagiaan dalam ekosistem keluarganya. Sebagai bagian dari orang yang hidup dalam ekosistem keluarga, semua aspek yang telah terurai diatas merupakan sebuah tamparan tersendiri ketika saya berkeluarga kelak.

Sesungguhnya tulisan ini adalah pesan bagi saya sendiri selaku anak yang akan berganti menjadi orang tua untuk menciptakan ekosistem keluarga yang baik dan berkualitas.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id


Tinggalkan Balasan