Dunia Keempat Homo Jakartensis

Share


Redaktur Azhar Syahida


Seno Gumira Ajidarma (SGA), dalam salah satu tulisannya, “Manusia Jakarta, Manusia Mobil”, menyebut Homo Jakartensis—orang-orang yang mencari hidup di Jakarta—memiliki tiga dunia, yakni dunia rumah, tempat kerja dan mobil. Kata SGA, mobil bisa menjadi dunia bagi Homo Jakartensis karena mayoritas mereka menghabiskan waktu di jalan untuk menuju dan pulang ke dan dari tempat kerja menggunakan mobil. Memang, saat saya amati, begitu: mayoritas Homo Jakartensis menggunakan mobil untuk menuju dan pulang ke dan dari tempat kerja.

Alasan mobil menjadi dunia ketiga bukan semata mayoritas orang Jakarta menggunakan mobil, tetapi lebih karena waktu yang dihabiskan di dalam mobil. Di Jakarta, untuk berangkat ke tempat kerja, seorang pekerja memerlukan waktu yang agak panjang. Bukan sebab jarak lokasi kerja yang jauh, tapi tingkat kemacetan yang tinggi menyebabkan lama. Saking lamanya, bahkan, orang Jakarta bisa melakukan berbagai hal di dalam mobil: menyebar undangan rapat, belajar, berdandan, menyiapkan bahan presentasi, bahkan memimpin rapat. Itulah kenapa SGA menyebut “Mobil” sebagai dunia ketiga Homo Jakartensis.

Saat saya selesai membaca tulisan tersebut, saya merasa ada satu dunia yang belum disebutkan oleh SGA. Setidaknya perasaan akan dunia yang belum disebutkan itu menyembul setelah saya berada di Jakarta beberapa bulan ini. Saya melihat dunia lain itu selalu menyita waktu Homo Jakartensis. Dunia lain atau dunia keempat Homo jakartensis itu adalah mall atau pusat perbelanjaan.

Saya melihat dunia keempat itu hadir dalam ruang keseharian yang sudah dianggap wajar. Mengapa saya bilang begitu? Saya mengamati, orang, bahkan sampai merasa perlu untuk mempersiapkan kantong finansial yang lebih besar untuk bisa masuk ke dalam dunia mall. Duit hasil kerja, barang satu bulan atau lebih dihabiskan di dalam dunia keempat itu.

Mari kita buat hitung-hitungan sederhana. Jika Homo Jakartensis menghabiskan waktu di mall 6 jam saja dalam sepekan dan dia ke mall sejak usia 10 tahun hingga 60 tahun, dan dia meninggal tepat di usia 60 tahun, dalam kalkulasi sederhana, dia sudah menghabiskan waktu 4,2 tahun di mall. Bukan waktu yang sebentar, kan?

Dulu, sewaktu saya di Malang, saya tidak pernah merasa perlu berkunjung ke mall. Bagi saya, pergi ke mall hanya sesekali saja, itu pun bukan nongkrong, tetapi membeli buku. Sebab, di Malang, salah satu toko buku yang bagus hanya tersedia di mall. Selebihnya, saya tak pernah pergi ke mall, kecuali jika ada teman yang mau mentraktir.  

Berbeda dengan pengalaman itu, saya menemukan, di Jakarta, mayoritas orang merasa perlu pergi ke mall. Bahkan tak jarang hal itu dianggap sebagai sarana me-refresh diri, melepas penat. Mengapa? mall rupanya menawarkan tempat tongkrongan yang nyaman, bisa untuk duduk berlama-lama sambil makan dan ngopi. Lebih-lebih kondisi kebersihannya terjaga dengan baik. Mungkin, dan memang begitu adanya, pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta adalah lokasi favorit bagi mayoritas Homo Jakartensis sehingga mereka merasa perlu untuk menghabiskan waktu berjam-jam di sana.

Saya sampai pada kesimpulan begini: dunia mall bukan lagi gaya hidup, melainkan sebuah kebutuhan. Ada beberapa kelompok masyarakat yang memang merasa harus memenuhi kebutuhan makan tiga kali sehari di deretan food court yang tersedia di mall-mall terdekat dari tempat kerja. Selain itu, ada juga Homo Jakartensis yang setelah dunia kerja selesai, waktunya untuk pulang, akan bergeser duduk ke dunia mall.

Para penyedia mall pun membaca peluang ekonominya. Mereka, para pengembang mall, sampai membangun mall-mall dengan klasifikasi kelas ekonomi yang beragam. Padahal, dulu sewaktu di Malang, saya sama sekali tak mengenal klasifikasi mall berdasarkan kelas ekonomi pengunjung. Maksud saya, di Jakarta itu ada mall yang disebut elit dan ada mall yang disebut biasa saja.

Ada kalanya orang-orang yang berada pada kelompok ekonomi tertentu enggan datang ke mall tertentu, karena menganggap beda kelas ekonomi, begitu sebaliknya, sehingga para penyedia mall di Jakarta merasa harus membuat klasifikasi tersebut. Ini hanya soal pasar, sederhana saja.

Mari kita ambil contoh. Di Jakarta ada beberapa kategori mall yang disebut elit, misalnya Grand Indonesia (GI) dan Plaza Indonesia (PI) yang terletak di sekitar Bundaran HI. Anda percaya atau tidak, sewaktu pertama kali datang ke Jakarta untuk mengikuti tes CPNS di BAPPENAS RI, saya diajak oleh teman kuliah dahulu untuk makan di GI. Saya pikir itu mall sebagaimana biasanya, ternyata belakangan hari saya tahu bahwa itu adalah mall elit, Busyet! Umumnya kelompok menengah ke atas yang bertandang ke sana. Setelah beberapa bulan di Jakarta, saya mengerti, mengapa kawan-kawan saya jarang main ke GI dan PI, ya karena memang seolah ada kesepakatan bersama bahwa itu adalah kawasan elit yang hanya orang-orang elit saja yang bisa kerkunjung ke sana. Bukan berarti kita tidak boleh berkunjung, bukan begitu. Tetapi ada semacam sekat sosial yang membentengi gerak kelas menengah ke bawah untuk berkunjung ke sana.

Di sisi lainnya, ada beberapa contoh mall yang tergolong elit tetapi ramai oleh para pekerja kelas menengah ke bawah, misalnya saja mall Cassablanca, mall Lotte, dan mall Basuki Rahmat. Beberapa yang saya sebut itu sebetulnya masuk golongan elit, tetapi orang kelas menengah masih sering bertandang ke pusat perbelanjaan tersebut.

Terakhir, masih ada lagi pembagian mall yang lain: mall paling rendah, yang biasanya menyediakan lokasi perbelanjaan standar yang di kota lain mungkin mall tersebut disebut sebagai kawasan elit. Hal ini juga mengindikasikan bahwa kelas menengah di Jakarta tumbuh lebih cepat dibandingkan kelas menengah di kota besar lainnya, sebuah gejala yang bila tidak dikelola dengan baik akan semakin memperumit kondisi Jakarta sendiri.

Hari semakin sore. Saya duduk di lantai dasar perpustakaan nasional. Langkah-langkah kaki yang berlalu-lalang semakin tak terhitung. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ada. Perpustakaan pusat memang nyaman untuk tempat bersantai di akhir pekan. Bersih, dingin, dan rapi. Saya pikir, ini juga salah satu perpustakaan paling nyaman di Indonesia. Di tengah orang-orang yang sibuk berlalu-lalang, semakin riuh suara percakapan dan gelak tawa, saya hirup udara perpustakaan yang nuansanya bercampur bau kertas, saya pun semakin yakin, Homo Jakartensis memang memiliki dunia keempat: Mall.

Tinggalkan Balasan