Desa Harapan

Share

Azhar Syahida
Redaktur Pucukmera.id


PUCUKMERA.ID – Dahulu saya sempat khawatir tentang pembangunan desa, tetapi setelah kemarin saya bertemu teman lama, teman di sekolah dasar dahulu, saya merasa tidak lagi khawatir. Rengga namanya. Kami bercerita. Berbincang ngalor ngidul. Berbagi pengalaman selama hampir satu dekade kami tak pernah berjumpa.

Dulu, sewaktu di sekolah dasar, dari periode 2002 hingga 2008, kami sering bermain bersama. Utamanya, saya bermain ke rumahnya yang dekat sekali dengan area persawahan. Ketika itu, kami hanya akan pulang bermain jika azan asar tiba, yang menandakan kami harus bergegas pulang, ngaji sore di Masjid An-Nur tak jauh dari sekolah kami, SD Muhammadiyah 12 Glagahagung.

Dari perbincangan dengan Rengga, saya mendapati optimisme yang tak terbendung. Rengga bercerita tentang pendapatnya yang berpusat pada keharusan anak-anak muda melihat pertanian sebagai lahan kesejahteraan yang sangat menggiurkan. Mampu menyejahterakan. Mampu menjadi tumpuan harapan ekonomi masa depan.

“Kalau orang tua dulu selalu menganggap profesi petani sebagai pekerjaan yang tidak maju, sekarang kita harus mengubah perspektif itu.” Ia mengucapkan itu sambil sesekali menghirup rokoknya yang terlihat enak. Saya pengin tapi tak kuasa mencoba. Juga, tentunya, ia mengucapkan itu dengan bahasa Jawa yang khas.

Teman saya ini sekarang tengah mengembangkan bisnis yang dahulu tidak pernah saya pikirkan: Jasa wifi! Dahsyat. Dia bertani dan berbisnis jasa wifi.

Tentang jasa wifi itu, suatu rupa pekerjaan yang hanya saya bayangkan ada di kota. Ternyata kini profesi itu digeluti oleh karib saya sendiri. Maka benar adanya survei yang menyebut angka penetrasi internet Indonesia sekarang lebih dari 70 persen.

Sebagai sebuah negara berkembang, yang tengah merangkak menuju negara maju dan beradab, tentu pola pikir karib saya dan peluang digitalisasi itu ibarat jendela besar dengan pemandangan alam indah di persada nusantara: memberi secercah harapan indah untuk hari depan Indonesia.

Saya kira, tidak hanya karib saya itu yang berubah jalan pikirnya. Dari diskusi kami berikutnya, saya sampai berani berkesimpulan seperti ini: Desa adalah pusat kemajuan. “Lha itu buktinya, Korona, orang desa tetap saja bangun rumah.” Saya tersenyum mendengar penjelasan dia. “Berarti Korona memang hanya ngefek di kota to.” Dia menambahkan, yakin sekali dengan ucapanya. Maksud dia tentu adalah perekonomian masyarakat desa tak terpengaruh sama sekali oleh Korona, lain halnya di perkotaan yang banyak terjadi pemutusan hubungan kerja dan padamnya dapur-dapur industri.

Saya kira ini cerita yang menarik. Bagaimana anak-anak desa berubah ke arah kemajuan, dan bahkan menganggap desa adalah pusat kemajuan itu sendiri. Inilah pola pikir yang tercerahkan, terdidik dengan baik.

Biarpun begitu, saya jelas tidak bisa melakukan generalisasi dan menganggap semua sumber daya pedesaan berubah progresif. Jelas tidak semua seperti itu. Tapi, perubahan kecil yang saya temui sendiri itu adalah sebuah hikmah yang luar biasa berharga.

Sebab, pembangunan tetaplah soal manusia itu sendiri. Kata ‘pembangunan’, bahkan, diproduksi dan direproduksi oleh manusia. Sehingga harapan luaran pembangunan yang baik hanya bisa dihasilkan oleh kualitas cara berfikir (mindset) yang baik pula. Praktis, dasar pemikiran seorang manusia adalah cikal bakal desain pembangunan. Apa pun jenis pembangunannya: ekonomi, sosial, budaya, ataupun politik.

Pada bagian ini, kita barangkali perlu menyepakati pentingnya pendidikan dalam arti yang sesungguhnya. Yakni, pendidikan yang mengubah sesuatu yang bukan ‘apa-apa’ menjadi sesuatu yang begitu ‘apa-apa’. Dari bodoh menjadi pandai. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari miskin menjadi mengerti cara menghindarkan diri dari kemiskinan. Dari tidak bisa membaca persoalan manusia menjadi paham dan bisa membaca persoalan manusia. Dari tak tahu peta menjadi tahu peta beserta tanda-tandanya: ke mana harus melangkah. Dan barangkali menjadi tahu, sebagai manusia harus mengerjakan apa, bagaimana, untuk siapa, dan dalam konteks  seperti apa.

Dalam hal ini, pendidikan bukanlah soal gagah-gagahan nilai. Menjadi juara I; kelas teratas dari penilaian manusia secara matematis itu. Pendidikan adalah sarana untuk membangun kepercayaan diri. Sarana untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Maka, pola pikir manusia adalah hasil dari proses pendidikan itu sendiri.

Pada bagian ini,pola pikir yang dihasilkan oleh proses pendidikan haruslah pola pikir yang memiliki daya kritis, daya bela, dan daya empati terhadap ketidakberuntungan manusia lain. Dengan kata lain, pola pikir haruslah yang memiliki kemampuan untuk memuliakan manusia itu sendiri, yang juga berarti merasakan cinta pada ciptaan Sang Pemilik Segala, Tuhan semesta alam.

Kendati demikian, dari cerita karib saya itu, saya melihat desa tetaplah desa. Sebuah bongkahan besar dari sisi bumi yang tidak pernah sempurna. Tidak pernah seideal yang kita dengar dari mitos-mitos orang terdahulu. Dan, tentu saja, tidak seindah yang kita bayangkan. Mungkin, hal itu disebabkan proses interaksi antar-manusia yang didasari cara memandang desa yang berbeda. Tidak semua menyepakati ide kemajuan desa itu sendiri.

Namun, yang jelas begini: desa adalah satu-satunya lokus yang berhasil menangani tahun kesialan: 2020. Seperti dua dekade lalu, 1998, yang Ketika itu UMKM begitu berjaya. Anda pasti tahu, atas perkara apa desa dan UMKM berjaya pada masing-masing tahun itu.


Pucukmera.id – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan