David Attenborough: Saksi Hidup Kesalahan Terbesar Umat Manusia

Share

Irsyad Madjid
Redaktur Pucukmera.id


Bayangkan, Anda adalah orang pertama yang mendapatkan kesempatan untuk berkeliling dunia yang masih diisi dengan kehidupan alam liar. Mulai dari menerabas dalamnya hutan hujan di pulau Kalimantan, berselancar menyaksikan mamalia laut berukuran jumbo di perairan Hawaii, hingga bermain dengan hewan asli Antartika di atas luasnya pegunungan es.

Suatu hari, Anda mendapatkan kesempatan untuk kembali mengulang ke tempat yang sama. Namun, semua hal yang terekam dalam memori Anda, tiba-tiba saja menghilang.

Adalah Sir David Attenborough, seorang jurnalis dan naturalis asal Inggris. Ia mendapatkan kesempatan langka untuk menjelajahi luasnya dunia sekaligus merekamnya dalam sebuah video dokumenter. Perjalanan ini dimulai saat usianya 25 tahun, pada awal dekade 1950-an.

Kesempatan yang langka ini, membuat orang-orang menjuluki dirinya sebagai “saksi hidup manusia terhadap krisis iklim”. Bahkan, bisa dibilang bahwa tidak ada manusia, baik hidup ataupun mati, yang telah melihat begitu banyak kehidupan alami dari dunia.

Misalnya saja, Sir David muda pernah melihat kawanan orangutan berayun dalam lebatnya hutan hujan di pulau Kalimantan pada tahun 1956. Berpuluh tahun kemudian, masifnya deforestasi dan penanaman sawit membuat tempat ini menjadi jauh berbeda. Maka, alih-alih menemukan sekelompok orangutan, hanya dijumpai pemandangan satu orangutan sedang berusaha menjepit sebuah batang pohon tanpa cabang, di tengah hutan yang habis ditebangi. Sebab, deforestasi membuat populasi orangutan di Kalimantan berkurang hingga dua pertiga.

Merindukan “The Holocin”

Pemandangan yang menyakitkan hati ini terjadi bukan tanpa alasan. Pesan ini coba disampaikan oleh Sir David lewat opening scene di kota Chernobyl, Rusia. Sebagian orang tentu tahu, kota legendaris Chernobyl yang sempat menjadi daerah yang megah namun lebur akibat ledakan nuklir.

Perencanaan buruk dan kesalahan manusia adalah dua faktor utama yang membuat semua ini terjadi. Nampaknya, bukan cuma Chernobyl yang hancur karena dua faktor ini, tapi juga keseluruhan lingkungan hidup. Padahal, ilmu pengetahuan sudah memberi gambaran: segala yang ada di bumi, adalah hasil dari kerja alam selama beribu-ribu tahun lamanya.

Para ilmuwan menyebutnya sebagai era “The Holocin”. Suatu masa di mana suhu di bumi berhasil untuk tetap stabil, tidak naik ataupun turun lebih dari satu derajat celcius selama 10.000 tahun lamanya. Kondusifitas ini akhirnya membuat alam selepas kepunahan massal terakhir di era Dinosaurus, membangun kembali peradabannya.

Apa yang menyebabkan suhu bumi begitu stabil? Jawabannya terletak pada hutan yang luas serta keanekaragaman hayati yang hidup di laut. Faktor ini telah sukses menangkap energi matahari sebanyak mungkin hingga membuat suhu bumi menjadi tidak panas. Suhu yang stabil ini membawa berkah bagi semua makhluk hidup yang ada di permukaan bumi.

Di daerah daratan tropis misalnya, musim kering dan musim hujan akan punya alur yang teratur. Sehingga, tumbuh-tumbuhan bisa berkembang dengan baik memanfaatkan curah hujan yang memadai dan energi panas yang cukup. Manusia pun tak ketinggalan berkah dari era “The Holocin”.

Sejarah peradaban manusia, diciptakan di atas iklim yang stabil. Contohnya saja, kegiatan bercocok tanam yang bergantung pada pergantian musim yang teratur. Tanpa keberhasilan pada bidang agraria, manusia tentu akan mengalami defisit pada food supply. Semua orang paham, tanpa persediaan makanan yang cukup, tak akan lahir sebuah peradaban.

Pada bagian ini, Sir David secara pilu mengatakan “Holocin, adalah taman surga bagi manusia.”

Menemukan kembali kebenaran

Salah satu bagian menarik di film ini adalah ketika Sir David menceritakan bagaimana manusia akhirnya sadar tentang isu krisis iklim dan telah merusak taman surganya sendiri.

Dulu, keterbatasan membuat umat manusia selalu takjub dengan alam liar. Lebatnya rimba hutan membuat manusia beranggapan bahwa menebang sebagian pohon tidak akan berefek signifikan. Luasnya lautan, membuat manusia begitu bersemangat menangkapi ikan dengan bahan peledak, karena jumlahnya memang berlimpah.

Namun, semua berubah pada saat misi antariksa Apollo 8 berhasil mencapai orbit bulan. Seketika manusia sadar, bahwa Bumi dari luar angkasa, terlihat kecil, rapuh dan kesepian di alam raya. Manusia akhirnya menemukan kebenaran: planet bumi ternyata punya batasan, dan mustahil untuk menangani pertumbuhan tanpa akhir.

Sialnya, satu kebenaran pahit yang harus diakui: manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu membawa bumi kepada pertumbuhan tiada akhir.

Hewan, pada satu sisi, mengandalkan fisik sebagai bagian terpenting dalam hidupnya. Oleh karena itu, untuk menguasai dunia, hewan perlu meningkatkan kondisi fisiknya. Misalnya saja, untuk menaklukkan hutan rimba, diperlukan bentuk fisik yang lebih besar dan lebih kuat. Sehingga, semakin besar dan kuat fisik dari hewan, maka semakin luas pula jangkauannya.

Manusia, di sisi lain, tak perlu mengandalkan kemampuan fisiknya.

Ide, adalah kekuatan paling menakjubkan dari manusia. Tidak perlu kekuatan fisik yang mumpuni, manusia mampu menghancurkan dunia hanya dengan sebuah ide. Poin plusnya, ide manusia dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Sehingga, tak ada kata “limit” dalam peradaban manusia. Sebab, keterbatasan pada suatu generasi kemungkinan besar akan dilampaui oleh generasi selanjutnya.

Akankah terjadi kiamat ekologis?

Maka, pertumbuhan yang semakin “advanced” di setiap generasi, merupakan kabar buruk bagi alam. Contohnya adalah data yang terekam pada film ini. Tercatat, manusia menebang hingga 15 miliar pohon per tahun. Tidak hanya di darat, usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya telah mengakibatkan 30% stok ikan berada pada tingkat kritis dan populasi air tawar menurun lebih dari 80%.

Akibatnya, jumlah karbon yang terperangkap menjadi semakin banyak karena tak terserap oleh hutan dan laut. Hasilnya, Kutub Utara, salah satu tempat terdingin dan terpencil di bumi, telah mengalami pengurangan es laut pada musim panas sebesar 40% hanya dalam 40 tahun.

Setelah mengamati berbagai gejala ini, Sir David membuat prediksi mengerikan.

Menurutnya, sekitar tahun 2030, deforestasi yang semakin berlanjut di hutan hujan Amazon akan membuat hutan ini tidak lagi menghasilkan kelembaban yang cukup. Ini tidak hanya memusnahkan keanekaragaman hayati di hutan hujan, tetapi juga akan mengubah siklus air global.

Sekitar tahun 2050, lautan terus akan memanas dan menjadi lebih asam. Hal ini membuat terumbu karang di seluruh dunia akan memutih dan mati, menyebabkan populasi ikan berkurang drastis. Alhasil, jutaan orang tidak akan bisa lagi mengandalkan lautan untuk mata pencaharian dan penghidupan mereka.

Pada akhirnya, sekitar tahun 2100, planet ini akan menjadi empat derajat celcius lebih hangat. Sehingga, sebagian besar dari bumi tidak dapat lagi dihuni dan jutaan orang akan menjadi tunawisma. Para ilmuwan memprediksi, pada saat inilah kepunahan massal keenam akan berlangsung.

Namun, di balik prediksi yang mengerikan ini, masih ada satu kesempatan terakhir agar kondisi bisa berubah. Temukan jawabannya setelah menonton filmnya, ya!

“The world has far from unlimited,
It’s finite, it needs a protection.”
Sir David Attenborough


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangunkk budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan