Dalan Liyane

Share

Latifah Ratriana


Pagi ini, aku membaca utas seorang penulis berinisial RS di Twitter. Utas tersebut menceritakan tentang bagaimana ia ditolak oleh sebuah PTN yang aku sendiri lupa lokasinya di mana.

Namun empat tahun berikutnya, tanpa disangka ia diundang kembali oleh PTN tersebut. Bukan sebagai mahasiswa, melainkan penulis. Meski ada saja warganet yang mengatakan bahwa utas tersebut hanya narasi sombong berkedok ditolak SBMPTN, aku yakin tujuan utamanya bukan itu. “Hmm, menarik.” pikirku.

Pagi ini juga, aku tengah bersiap untuk berangkat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kotaku sendiri karena Covid-19 yang belum juga reda. Almamater biru di tangan kiri dan buku catatan di tangan kanan. Tak lupa masker sebagai alat pelindung wajib untuk situasi seperti sekarang ini.

Dalam perjalanan menuju tempat KKN bersama Bapak, di kepalaku terngiang kembali momen-momen SBMPTN 2017. Ingatan yang distimuli oleh utas yang kubaca.
Dulu, aku sangat terobsesi bisa kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan. Iya, sangat terobsesi. Rasanya satu angkatan tahu kalau seorang Latifah Ratriana bermimpi bisa kuliah di Universitas Brawijaya, jurusan Ilmu Perpustakaan. Tak hanya teman-teman satu angkatan, bahkan pustakawan sekolah pun tahu.

Namun saat pengumuman tiba, ada skenario lain dari Allah. Alhamdulillah, aku lolos SBMPTN 2017. Bukan di Ilmu Perpustakaan UB, melainkan Sastra Indonesia UNY. “Ibu emang lebih seneng kamu di Jogja sih, Dik”, kata Ibu waktu itu. Wah benar juga, ridho orang tua selalu ambil andil paling banyak dalam proses pembuatan takdir. Selamat ya, Bu. Alhamdulillah, anakmu kuliah di Jogja.

Bapak mengerem motor dengan kasar ketika menyadari ada anak kucing melintas di parkiran lokasi KKN. Tak lain dan tak bukan adalah Panti Asuhan Muhammadiyah Ngawi. Membuat ingatanku bubar seketika. Oh, bukan bubar. Lebih tepatnya, disadarkan bahwa ada banyak hal menakjubkan yang harus aku hadapi hari ini.

Setelah tiga tahun merasa tidak berarti di jurusanku sendiri, kata seorang senior, “Jika kamu merasa tersesat, yakinlah bahwa kamu tersesat di jalan yang benar.” Iya, aku sepakat.

Meskipun meleset dari rencana awal, aku mendapatkan banyak sekali hal baru di sini. Mungkin tak cukup untuk mematahkan stigma masyarakat tentang jurusan ini. Tapi betul-betul mematahkan stigmaku sendiri. Hati-hati dengan anak sastra. Sekali kau koyak tubuhnya, dikoyaknya pula perasaanmu.

Aku menaiki tangga bersama Bapak menuju aula Panti Asuhan Muhammadiyah Ngawi. Menemui teman-teman panti yang sudah sedari tadi duduk menanti kami berdua. Setelah membuka forum, aku memancing mereka dengan bertanya, “Adakah yang tahu, apa yang akan kita lakukan dua bulan ke depan?”

“Membuat Perpustakaan!” jawab mereka kompak. Darahku berdesir dari ujung jari kaki menuju ubun-ubun.

Siapa yang menyangka aku akan sampai ke titik ini? Setelah menunggu bertahun-tahun, tibalah saat menghafalkan klasifikasi dewey, menuliskan call number, memberi stempel inventarisasi, mendata nomor induk buku, dan hal-hal lain yang kuimpikan sejak tiga tahun lalu. Dibantu oleh teman-teman panti, semua terasa sangat ringan dan menyenangkan.

Jika masih saja ada yang menganggap ini sejenis narasi sombong, ayolah. Apa yang bisa disombongkan dari seonggok program kerja KKN? Bahkan aku bukan seorang penulis. Aku hanya seorang mahasiswi biasa, yang meraih mimpinya lewat perantara KKN.

Terlintas lagu cidro berjudul “Dalan Liyane” di kepalaku. Kebetulan sesuai dengan apa yang kualami. Barangkali takdir untuk kuliah di Ilmu Perpustakan UB ‘ninggal aku pas sayang-sayange’. Tapi aku tak akan lupa, bahwa Allah selalu punya ‘dalan liyane’. Hehe.

Pada akhirnya, dari semua perjalanan yang kuceritakan, aku hanya ingin kita semua mengerti bahwa janji Allah itu pasti.


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id.

Tinggalkan Balasan