Creating Shared Value Sebagai Upaya Membebaskan Petani dari Sistem Tengkulak

Share

Didin Mujahidin

Ada ketergantungan yang harus diputus dari hubungan petani dan tengkulak. Berbagai kasus sering kita jumpai, petani dirugikan dan tidak dapat keluar dari sistem ketergantungan yang telah dibangun.

Dari hasil penelitian Lutfi Apreliana Megasari disebutkan beberapa penyebab ketergantungan. Tengkulak memainkan peran yang cukup besar sehingga petani merasa selalu membutuhkannya. Adanya patronase yang dimunculkan dengan beberapa sebab seperti petani menginginkan jaminan kelangsungan bercocok tanam, memperoleh modal pertanian, akses pasar dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Beberapa hal di atas menjadi dasar ketergantungan petani. Ditambah lagi kondisi petani yang serba terbatas membuat mereka terpaksa meminjam modal pada tengkulak. Akibatnya para petani mencoba memelihara hubungan sosial dengan tengkulak. Pola hubungan sosial tersebut membuat para petani menggantungkan diri pada tengkulak, menerima harga rendah dan mudah dieksploitasi oleh tengkulak.

Jika dipandang dari segi tengkulak, mereka juga memiliki ketergantungan dengan petani. Tanpa petani bisnis mereka tidak akan berjalan lancar. Pembeda antara keduanya terletak pada modal yang dimiliki. Namun para tengkulak memanfaatkan keunggulan dana yang dipinjamkan. Sehingga mereka seolah memiliki kekuasaan atas petani.

Kedua belah pihak tersebut sulit terlepas dari hubungan sosial bersifat simbiosis untuk sama-sama mencari keuntungan. Beberapa hari lalu saya mendengar sebuah konsep Creating Shared Value (CSV) dalam webinar dengan tema “GGF Membangun Sosial Ekonomi Masyarakat melalui Program Kemitraan Perusahaan, Rabu(12/08/2020).

CSV yang dikenalkan pertama kali oleh Michael Porter dan Mark Krammer berarti sebuah konsep dalam strategi bisnis yang menekankan pentingnya memasukkan masalah dan kebutuhan sosial dalam perancangan strategi perusahaan. Ide dasarnya terletak pada hubungan bisnis dan kesejahteraan sosial. Selama ini bisnis dan kesejahteraan sosial ditempatkan pada posisi bersebrangan. Sedang CSV menekankan adanya peluang membangun keunggulan kompetitif dengan cara memasukkan masalah sosial sebagai bahan pertimbangan utama dalam merancang strategi.

Great Giant food (GGF) merupakan salah satu perusahaan yang coba menerapkan konsep CSV. Melalui program Great Giant Livestock (GGL), perusahaan melakukan pemberdayaan petani untuk mempertahankan pangan dan meningkatkan mata pencaharian. Program ini telah menyentuh kurang lebih 400 petani lokal.

Dalam webinar Gilang M Nugraha sebagai junior manager sustainability mengatakan “Pola kemitraan berkelanjutan GGF ini membuat masyarakat lebih berdaya dan bisa mandiri. Pola hubungan seperti inilah yang memiliki kemampuan untuk mensejahterakan petani yang memiliki hubungan komunitas.”

Dalam pola kemitraan yang dibangun dengan petani tidak hanya memberi dana pinjaman untuk bercocok tanam. Namun lebih bersifat pada pemberdayaan. Petani dibina untuk melihat peluang, baik peluang lahan, pasar hingga pembinaan untuk mengembangkan pertanian. Setiap saat para petani bebas berkonsultasi dengan pihak perusahaan dan perusahaan akan memberikan bimbingan secara berkala.

Untuk meningkatkan daya jual hasil pertanian, perusahaan juga menggandeng petani untuk membantu memasarkan produk ke pasar global dan mitra yang menguntungkan. Dengan begitu daya tawar hasil pertanian akan meningkat, petani mendapatkan hasil lebih baik.

Terkait hasil panen yang belum memenuhi standar pasar, GGF juga bertanggung jawab melakukan pembinaan. Hasil panen tersebut diolah menjadi produk siap konsumsi, seperti keripik buah dan jus segar. Sedang limbah dari hasil olahan tersebut akan dimanfaatkan sebagai pupuk. Sehingga tidak ada hasil dari pertanian yang terbuang sia-sia.

Tinggalkan Balasan