Belajar dari Kenad

Share

Alifah Nur Rohmah
Alumnus PAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Akhir-akhir, ini sering bersliweran dalam timeline medsos saya mengenai perundungan atau pem-bully-an. Hal itu terjadi kepada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umur, agama, atau yang lainnya. Baik perundungan secara verbal, fisik, cyber atau sosial. Tapi, yang sering saya temuin akhir-akhir ini sih perundungan secara verbal dan cyber bullying.

Banyak hal yang menjadi faktor mengapa seseorang mengalami perundungan. Entah motif pribadi, ekonomi, agama, atau bahkan karena seseorang itu katanya “layak” untuk dirundungi karena perbuatannya. Contoh saja seperti Ferdian Palekka atau Kekeyi yang menurut saya mendapatkan perundungan yang begitu dahsyat dari para netizen Indonesia. Sudah tahu kan jari-jari dan mulut netizen Indonesia seperti apa? Hehe. Tapi, di sini saya bukan mau membahas mereka. Justru saya ingin bercerita kepada lingkup yang lebih kecil, yang lebih dekat dengan kehidupan saya.

Berbicara mengenai perundungan juga pasti akan berbicara tentang dampaknya. Baik dampak jangka pendek atau panjang yang dirasakan oleh orang yang mengalami perundungan atau orang-orang terdekatnya. Kadang hal ini yang tidak kita sadari, sebenarnya apa dan bagaimana dampak dari apa yang sudah mulut dan jari kita lakukan?

Beberapa waktu lalu, selepas magrib, rumah saya didatangi oleh anak kecil kelas 5 SD. Sebut saja namanya Kenad. Ia datang sendiri dengan sepedanya tanpa ditemani siapapun. Ternyata ia hendak bertemu bapak saya untuk bertanya, apakah boleh orang tuanya datang ke masjid untuk salat berjemaah?

Memang, saat ini bapak saya sedang menjadi ketua takmir di salah satu masjid. Dan bisa jadi, itu alasan ia datang ke rumah saya. Karena saya penasaran kenapa ia datang sendiri, kemudian saya mencoba menguping dari dalam walaupun terdengar samar-samar. Pada intinya, percakapannya seperti ini.

Pak, mamak kalih bapak kulo angsal ten masjid mboten? Kan wingi onten masalah niko,” kata Kenad.

Lha, sek mboten ngangsalke sinten? Ajeng ten masjid kok mboten angsal.” jawab bapakku.

Sek masalah wingi niko, Pak. Nek pripun-pripun ngoten.” katanya.

Akhirnya, bapakku bilang, “Sampun, mboten nopo-nopo ten masjid mawon. Nek onten suara nopo pripun-pripun dinengke mawon. Mboten usah ditanggap.

Nggih, Pak. Matur nuwun.” kata Kenad. Kemudian ia pamit pulang dan tidak lupa sambil mencium tangan bapak saya. Hati saya rasanya nyes seketika.

Memang, kemarin di daerah saya sempat dihebohkan oleh perbuatan seorang ibu yang mengaku ditodong di jalan dan diambil uangnya. Tak lain ibu itu adalah ibunya Kenad. Padahal uang tersebut adalah uang iuran arisan. Ya, ibunya diberi amanah untuk memegang uang iuran tersebut. Sempat menggegerkan dan mendapatkan simpati dari para tetangga. Bagaimana tidak, karena memang di daerah saya sedang ramai oleh pencurian, penodongan, dan semacamnya.

Usut punya usut saat di kantor polisi, ibunya mengaku bahwa ia berbohong telah diambil uangnya. Padahal uangnya utuh dan tak diambil seratus perak pun. Ketika diinterogasi oleh polisi ternyata alasan kenapa ia berbohong adalah motif ekonomi. Merasa bersalah, ibunya diperintahkan untuk membuat video permintaan maaf. Kenapa video? Karena berita itu sudah menyebar luas ke daerah rumah saya. Setelah meminta maaf, beliau menjadi tahanan daerah atau semacamnya.

Akhirnya tersebarlah video itu. Tahu apa reaksi orang-orang? Ya, seperti netizen biasanya. Yang saya tahu, ada pem-bully-an secara verbal maupun sosial setelah itu. Bagaimana saya tahu? Saat itu saya membaca grup warga saat setelah bapak saya menegur dan mengingatkan untuk tidak berlebihan kepada ibunya.

Memang, saya tidak mengamini dan membenarkan perbuatan ibu itu apapun alasannya. Tapi, sikap yang diberikan dan dilontarkan kepada keluarganya yang menjadi garis bawah bagi saya. Pem-bully-an yang diterima dan cukup kuat walaupun sesaat menurut saya juga berdampak kepada orang-orang terdekatnya. Karena menurut saya, pem-bully-an juga tidak dibenarkan dengan alasan apapun.

Memang benar kita akan mendapatkan imbalan atas apa yang kita lakukan. Tapi, selagi itu sudah ada pihak yang menyelesaikan dan mau meminta maaf juga bertanggung jawab, bagiku sudah cukup.

Eits, jangan dipikir saya saat itu tidak merasa resah dan gondok. Lha wong sudah merasa ditipu walaupun secara tidak langsung, tapi pasti merasakan mangkel juga. Tapi, yang saya lakukan saat itu cuma nggrundel di depan kakak saya sambil bilang, “Kok iso-isone ngono, lho?” Dan setelah itu saya tidur. Ketika saya bangun, suasana hati saya sudah berbeda.

Selain itu, dampak yang diterima juga lebih dari cukup. Bagaimana tidak? Lihat saja sikap yang dilakukan Kenad, anaknya yang masih kelas 5 SD itu. Menurut saya sikap yang dilakukannya  sudah seperti orang dewasa atau bahkan kita yang merasa sudah dewasa saja tidak memiliki pikiran melakukan hal semacam itu untuk menolong orang tua kita.

Hal kecil memang. Tapi itu membutuhkan pemikiran yang kuat dan sikap keberanian yang luar biasa. Dan hal itu dilakukan oleh seorang anak kelas 5 SD dan cukup membuat hati saya merasa hangat.

Kalau melihat sikap yang dilakukan oleh Kenad, saya rasa ia memiliki ketakutan dan rasa trauma yang cukup besar. Ya, takut dan trauma apabila ketika orang tuanya hadir di tengah-tengah masyarakat, akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan bagi dirinya ataupun keluarganya.

Begitu miris, ketika hal itu dirasakan oleh anak kecil kelas 5 SD yang seharusnya ia merasakan masa-masa bermain, berteman, tumbuh dengan melihat kemampuan dirinya dan lingkungan yang seharusnya untuk mendukungnya. Oh, atau bisa dikatakan seharusnya kesehatan fisik dan psikis seorang anak harus dijaga agar tumbuh dengan baik.

Lalu, apa yang bisa saya pelajari dari Kenad? Saya disadarkan kembali dan belajar untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan jari dan mulut saya. Saya nggak tahu dampak apa yang bisa dirasakan oleh orang lain atas sikap saya. Bisa saja menurut saya fine-fine aja, padahal orang lain enggak. Toh, pada dasarnya perspektif orang berbeda-beda.

Selain itu, saya juga nggak tahu apa yang bakal terjadi di kemudian hari atas dampak itu. Apakah berpengaruh atau tidak. Baik atau buruk. Yang paling penting adalah pasti kita akan ‘menuai buah yang kita tanam dari akar.’ Dan, pasti kita nggak mau hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi pada orang-orang terdekat kita.

Terakhir, yang saya tahu bahwa kita adalah makhluk yang diberikan kelebihan yang sempurna; memiliki akal dan perasaan. Dan tugas kita adalah menggunakannya dengan sebaik mungkin. 


Pucukmera.ID – Sebagai media anak-anak muda belajar, berkreasi, dan membangun budaya literasi yang lebih kredibel, tentu Pucukmera tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak. Untuk itu, kami merasa perlu mengundang tuan dan puan serta sahabat sekalian dalam rangka men-support wadah anak muda ini.

Tuan dan puan serta sahabat sekalian dapat men-support kami melalui donasi yang bisa disalurkan ke rekening BNI 577319622 a.n Chusnus Tsuroyya. Untuk konfirmasi hubungi 085736060995 atau email sales@pucukmera.id


Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: