#ANAKTWITTERMALANG : Ketika Anak Twitter Ngumpul, hingga Filosofi Gambar Tempe

Share
 

PUCUKMERA – Seakan tak mau kalah dengan platform media sosial ‘sebelah’ yang mengadakan meet and great dengan tarif ekonomi hingga VIP (belum termasuk swafoto), para netizen Twitter di Malang adakan acara #ANAKTWITTERHARAPNGUMPUL pada Minggu (15/07).

Tanpa diduga acara yang bertempat di Oikii Kafe Joyogrand ini mendapat antusias yang sangat besar hingga dihadiri sebanyak 100 lebih orang, menurut panitia atau mereka yang lebih suka disebut sebagai para bapak dan ibu guru ini, tempat terpaksa harus berubah yang semula di Sanger Kopi Aceh karena banyaknya peserta yang mencapai ratusan. Para peserta yang mengikuti acara ini-pun tidak dipungut biaya apapun selain mereka diharuskan untuk membawa satu buku tulis dan alat tulis untuk kemudian disumbangkan.

Tak disangka acara ini mendapat banyak dukungan dari pihak-pihak swasta bahkan BNN turut mendukung berlangsungnya acara ini. Berbagai hadiah-pun disiapkan oleh jajaran bapak dan ibu guru sebagai hadiah untuk para siswa-siswinya (peserta-red).

Tidak jauh berbeda antara dunia maya dengan dunia nyata, obrolan yang kerap terdengar dan menjadi guyonan bagi mereka adalah seputar sindiran terhadap platform “sebelah”, konten-konten negatif, perang kicauan (tweet war), hingga bahasan mas Pram yang saat ini sedang populer.

Acara diawali dengan sambutan oleh perwakilan jajaran “guru” kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dan permainan yang meminta para pesertanya untuk saling mengenal satu-sama lain dengan mencari zodiak yang sama, mantan pacar, hingga hewan peliharaan. Permainan kedua-pun tak kalah seru, yaitu permainan thread beruntun ala Twitter yang dilakukan secara berkelompok.

Tanpa diduga hashtag #ANAKTWITTERMALANG sempat menjadi top trending di Twitter yang mencapai lebih dari 1000 kicauan dalam beberapa jam, mengalahkan #Rindu4Jokowi2019 dan beberapa hashtag lain di bawahnya. Kebetulan salah satu kawan pucuk yang berkesempatan mengikuti acara tersebut mengatakan, ia tidak sengaja menemukan pamflet acara tersebut di Twitter sehingga ia penasaran untuk mengikutinya, apalagi dengan gambar tempe pada pamflet acara tersebut semakin membuatnya penasaran. Setelah ia melakukan registrasi berdasarkan tautan yang tertera di pamflet tersebut, ia kemudian dimasukan ke dalam grup Whatsapp yang berisi para peserta yang akan mengikuti acara tersebut.

“Sebagaimana kata bu guru atau pak bu guru di sana, kebetulan memilih gambar tempe karena Malang memiliki makanan khas yang legendaris yaitu tempe Malang dengan berbagai olahannya seperti keripik tempe, sebuah usaha untuk mengembalikan kembali kejayaan tempe khas Malang yang mulai tergeser dengan jajanan-jajanan pendatang yang juga ingin mendapatkan kekhasannya di kota Malang.”

Acara berakhir pukul sekitar pukul 4 sore yang diakhiri dengan pengumuman-pengumuman pemenang, mulai dari peserta ter-receh, hingga peserta terjomblo. Para peserta yang ikut dalam acara ini berharap untuk diadakan lagi acara-acara selanjutnya mengingat acara ini adalah acara perdana para pengguna Twitter di Malang. [ifan]

Tinggalkan Balasan