Itu Aset Berharga! Kenapa Dibuka 5 Jam Per-hari?

Share


Nelly Amaliyah Fitrotin
@nellyamaliyahf


Terhitung dua bulan lebih Ramadan berlalu, banyak hal yang jika diingat, ingin untuk diulang, namun ketika momen itu datang, tetap saja disia-siakan. Tulisan ini bukan untuk mengajak pembaca budiman sesak dada karena penyesalan, tapi memang ada beberapa hal yang sangat disayangkan.

30 hari penuh di bulan Ramadan memang suatu hal yang sangat menggembirakan. Bagaimana tidak? Masjid-masjid yang awalnya sepi hanya berpenghuni kakek nenek renta sudah mulai berubah warna, jamaahnya semakin beragam mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia, semua berkumpul untuk mengindahkan seruan-Nya.

Tempat peribadatan yang familiar kita sebut masjid pun berlomba-lomba membuat nyaman jamaahnya, mulai dari kebersihan fasilitas mukena, sarung, hingga karpet yang ekstra diperhatikan, santapan lezat yang mulai tertata rapi sembari menunggu waktu berbuka pun dipersembahkan secara cuma-cuma, hingga perlakuan takmir masjid yang sungguh berbeda dari biasanya. Semua akan kita temukan di satu bulan penuh dari dua belas bulan yang tersedia dalam kurun waktu satu tahun. Mengapa hanya satu bulan?

Keresahan saya dan curhatan beberapa kawan agaknya perlu saya tulis, barangkali ada juga yang mengalami demikian. Sepekan lalu, dengan wajah muram, kawan saya bercerita tentang pemberhentian kegiatan bimbingan belajar di sebuah masjid yang ada di salah satu kota pendidikan. Dengan kesal ia bercerita, bahwa pengurus masjid memberhentikan kegiatan yang ada, dengan alasan bisingnya suara anak-anak yang tidak dapat dikendalikan dan mengganggu warga sekitar, penyebab lain masih dicari tahu tapi yang pasti alasan utama ingin diberhentikannya kegiatan bimbingan belajar dan ibadah di masjid tersebut adalah alasan yang sudah disebutkan di awal.

Kita semua terkadang aneh ya, menyuruh anak-anak ke masjid karena tidak mau mereka salah pergaulan dan menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak seharusnya disinggahi, tapi ketika mereka semua sudah memilih untuk menghabiskan waktunya di masjid bersama teman-temannya, justru kita sendiri yang membuat mereka tidak nyaman. Kita membuat mereka dihantui rasa trauma dan akhirnya tidak mau lagi bermain dan melakukan hal lain di masjid.

Cerita lain muncul ketika beberapa kali hati bergejolak, seharian di kos berteman dengan air PDAM yang setia dengan harapan palsu; dini hari menyala, pagi—malam mati, sehari menyala , tiga hari berikutnya kekeringan, begitu seterusnya. Pilihan yang efektif dan efisien adalah memanfaatkan masjid sekitar kos untuk bersih diri dan menunaikan kewajiban salat. Sialnya, di masjid kampus tertempel tulisan, “Dilarang mandi di sini!”

Ketidaknyamanan timbul ketika beberapa kali saya dan kawan-kawan kos berpapasan dengan bapak takmir masjid saat kami hendak melakukan rutinitas di masjid tersebut. Dengan tergesa-gesa kami langsung naik lantai dua masjid yang dikhususkan untuk jamaah putri, dan sesampainya di atas, wajah kecewa kami mulai terlihat kecewa. “Yah, kita terlambat salat di sini,” ucap seorang kawan. Pintu yang terbuat dari kaca dan terlihat transparan itu sudah terkunci rapat, lengkap dengan wajah bapak takmir di lantai satu yang seolah-olah mengisyaratkan “Ayo turun, gerbang sudah mau dikunci,” pupus sudah harapan. Tujuan terakhir adalah mengelilingi kos teman yang masih terbuka pintunya untuk numpangmandi, salat, bahkan makan. Lengkap ya empat tahun kuliah dapat bonus (hampir) tahu semua alamat kos teman-teman, Alhamdulillah.

Sebagian kejadian yang disebutkan adalah bentuk ungkapan ketidaksesuaian pelayanan yang disediakan oleh masjid-masjid di luar bulan Ramadan, padahal sangat sering penceramah menyampaikan bahwa bulan Ramadan adalah bulan latihan, jika demikian maka sebuah latihan adalah bertujuan untuk mempersiapkan sesuatu bukan? Menurut saya, justru praktik nyata yang harus diistikamahkan adalah pada sebelas bulan di luar Ramadan, kemudian jika semua fasilitas yang sudah diberikan untuk para jamaah selama satu bulan penuh itu tiba-tiba dicabut selama sebelas bulan setelahnya, praktiknya bagaimana?

Asumsi pengurus masjid jika orang-orang berduyun-duyun ke masjid di luar bulan Ramadan adalah untuk numpang tidur, numpang kamar mandi, sekadar melepas penat dari perjalanan jauh, kongkow-kongkow yang nampaknya tidak bernilai ibadah, dll.

Namun, apakah kita lupa, bagaimana fungsi dan peranan masjid pada zaman Rasul? Masjid bukan hanya digunakan untuk tempat salat dan membaca Alquran, tapi juga tempat diskusi dan mengatur strategi. Jika mengambil konklusi dari diskusi singkat dengan Pak Didin pada suatu momen, saat ia menyampaikan ulasan “Anak Muda dan Dakwah Milenial.” Ia memberikan pertanyaan awal sebagai pemantik yang sekaligus menjadi inti pembahasan, “Kalau kita punya toko laris manis dengan penghasilan yang bisa diprediksi, masa rela hanya membuka toko selama 5 jam per-hari?” Konotasinya, “masjid itu aset berharga kita bersama, ide brilian, gerakan pembaharuan, dan totalitas peribadatan, semua lahir dari sana, masa iya ada pembatasan penggunaan dan hanya dibuka saat pelaksaan salat 5 waktu saja? Ya eman, rugi.”

4 Replies to “Itu Aset Berharga! Kenapa Dibuka 5 Jam Per-hari?”

Tinggalkan Balasan